Banten

Nasib Tragis Sudrajat: Tukang Es Gabus yang Ditonjok dan Dipaksa Minum Air Comberan karena Fitnah ‘Es Spons’

Saeful Anwar | 28 Januari 2026, 07:34 WIB
Nasib Tragis Sudrajat: Tukang Es Gabus yang Ditonjok dan Dipaksa Minum Air Comberan karena Fitnah ‘Es Spons’

AKURAT BANTEN– Dunia Sudrajat (50) runtuh dalam sekejap. Pria paruh baya yang sehari-hari mengadu nasib menjajakan es gabus demi sesuap nasi ini tak pernah menyangka, dagangannya yang halal justru membawanya pada trauma mendalam.

Bukan karena tidak laku, tapi karena sebuah tuduhan tak berdasar yang berakhir dengan tindakan represif oknum aparat. Sudrajat dituduh menjual es berbahan dasar spons pencuci piring.

Tanpa bukti ilmiah, ia dihakimi di jalanan.

Kronologi Horor di Kemayoran
Kejadian bermula saat Sudrajat berjualan di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Dua oknum aparat, yakni anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa, menghampirinya. Alih-alih mengayomi, mereka justru melakukan tindakan yang di luar batas kemanusiaan.
"Dia beli empat. Terus dibejek-bejek (esnya), dilempar ke saya," ujar Sudrajat dengan suara bergetar saat ditemui di rumahnya di Bojonggede, Bogor.
Penyiksaan tak berhenti di situ. Sudrajat mengaku dipukul, ditonjok, hingga ditendang menggunakan sepatu boots hingga terpental. Es gabus buatannya—yang ia sebut sebagai "es kue" asli—diremas-remas hingga hancur dan dijejalkan ke mulutnya secara paksa.
Bahkan, ia sempat diancam akan dipaksa meminum air comberan sambil diperintahkan berdiri dengan satu kaki layaknya seorang kriminal kelas kakap.

Fitnah yang Tak Terbukti
Tuduhan bahwa es Sudrajat mengandung spons viral di media sosial, memicu kepanikan warga. Namun, fakta berkata lain. Setelah melalui uji laboratorium di Polres Metro Jakarta Pusat, es gabus milik Sudrajat dinyatakan aman dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya.
Nasi telah menjadi bubur. Meski kedua oknum tersebut telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, luka di hati Sudrajat tak mudah sembuh.
"Tidak ada minta maaf sama sekali (saat kejadian), semuanya diam saja," kenang Sudrajat.
Trauma yang Mematikan Mata Pencaharian
Kini, gerobak es gabus Sudrajat lebih banyak terparkir. Ia mengaku takut untuk kembali berjualan di wilayah Kemayoran. Trauma ditendang sepatu boots dan dipermalukan di depan umum membuatnya kehilangan keberanian untuk mencari nafkah.
Kisah Sudrajat adalah potret nyata betapa mudahnya penghakiman massa (dan aparat) bekerja hanya berdasarkan asumsi, tanpa menunggu hasil verifikasi pihak berwenang seperti Dinas Kesehatan atau Labfor Polri.

Pesan untuk Kita Semua: Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat dan aparat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Di balik sebuah hoaks, ada nyawa dan harga diri rakyat kecil yang menjadi taruhannya (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman