Banten

‘Mih, Abi Berangkat Ya’: Pesan WA Terakhir Dwi Murdiono, Mekanik Pesawat ATR yang Tak Pernah Kembali

Saeful Anwar | 23 Januari 2026, 06:41 WIB
‘Mih, Abi Berangkat Ya’: Pesan WA Terakhir Dwi Murdiono, Mekanik Pesawat ATR yang Tak Pernah Kembali

AKURAT BANTEN – Sebuah pesan singkat di layar ponsel seringkali dianggap biasa, namun bagi Sinta Jayanti, pesan WhatsApp pada Sabtu pagi itu kini menjadi harta sekaligus luka yang paling dalam.

Suaminya, Dwi Murdiono, seorang mekanik pesawat (engineer) senior, mengirimkan salam pamit sebelum terbang.

Siapa sangka, itu adalah komunikasi terakhir sebelum pesawat ATR 42-500 yang ia tumpangi hilang kontak dan ditemukan hancur di lereng Gunung Bulusaraung.

Baca Juga: Tangsel Guyur Rp5,7 Miliar ke Serang, Nasib Sampah di TPAS Cilowong Akhirnya Beres?

Firasat yang Tak Terucap: "Jangan Lupa Kabari"

Pukul 08.00 WIB, Sabtu (17/1/2026), Dwi mengirimkan pesan rutin kepada sang istri.
"Mih, Abi nanti jam 8 kalau nggak diundur berangkat ya," tulisnya singkat.

Sinta membalas dengan doa tulus, "Iya Bismillah ya, hati-hati." Namun, pesan balasan itu hanya berujung pada centang dua yang membeku.

Sinta mulai merasa ada yang janggal saat jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Biasanya, Dwi adalah sosok yang sangat disiplin memberi kabar.

"Biasanya kalau sudah sampai hotel selalu bilang, 'Abi sudah sampai ya'.

Kemarin saya sudah pesan jangan lupa ngabarin, dia biasanya selalu ingat," ungkap Sinta dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya di Tajurhalang, Bogor.

Baca Juga: Heboh! Mbak Rara 'Pawang Hujan' Ditegur di Ritual Labuhan Parangkusumo, Begini Jawaban Tegas Keraton Yogyakarta

Ironi di Balik Tugas: Melawan Trauma demi Keluarga

Di balik ketangguhannya sebagai mekanik udara, terselip cerita pilu yang diungkapkan oleh sang ayah, Bambang Muchawanto. Ternyata, Dwi sempat mengungkapkan rasa trauma untuk terbang.

Namun, tuntutan profesionalisme dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatnya tetap melangkah.

"Saya bilang, mau gimana lagi karena kondisi ekonomi. Jalani saja, mungkin itu rezekimu Mas Dwi," kenang Bambang dengan penyesalan yang mendalam.

Dwi adalah anak sulung yang mengikuti jejak ayahnya di dunia penerbangan.

Kini, sang ayah hanya bisa terduduk lemas di Makassar, menolak pulang sebelum sang anak ditemukan dalam kondisi apapun.

Baca Juga: Bukan 'Baper', Gibran Blak-blakan di Depan Tretan & Coki: Dari Sorotan 'Mens Rea' Hingga Rahasia Wajah Ngantuknya

Detik-Detik Kabar Duka Mengetuk Pintu

Kecemasan Sinta berubah menjadi kenyataan pahit saat pihak perusahaan menelepon pada pukul 14.00 WIB.

Kabar bahwa pesawat ATR tersebut lost contact menghancurkan dunianya dalam sekejap.

Hingga saat ini, Sinta masih menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.

Ia bahkan sempat menolak pendirian tenda duka di depan rumahnya. Baginya, selama jasad suaminya belum teridentifikasi, harapan itu masih ada.

Baca Juga: Heboh Kabar Rapel Kenaikan Gaji Pensiun 2026, Taspen Akhirnya Buka Suara: Simak Fakta Resminya!

Status Terakhir: Pesawat menabrak tebing curam di Gunung Bulusaraung.

Kondisi Lokasi: Medan yang sangat terjal mengharuskan tim SAR menggunakan teknik repling.

Temuan di TKP: Dompet, KTP, dan ID Card atas nama Dwi Murdiono telah ditemukan oleh petugas Basarnas di antara puing-puing pesawat.

Kisah Dwi Murdiono bukan sekadar berita kecelakaan pesawat biasa.

Ini adalah pengingat tentang risiko besar yang dihadapi para kru penerbangan dan bagaimana sebuah pesan WhatsApp bisa menjadi warisan terakhir yang tak ternilai harganya bagi keluarga yang ditinggalkan.

Akankah mukjizat itu datang? Seluruh masyarakat Tajurhalang dan netizen di media sosial kini bersatu dalam doa, berharap ada keajaiban bagi sang mekanik yang setia pada tugasnya hingga detik terakhir (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman