MOMEN! Ulang Tahun ke74: Prabowo, Sang Jenderal yang Menaklukkan Usia dan Panggung Politik

AKURAT BANTEN-Siapa yang tidak kenal dengan sosok hebat Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo?
Namanya selalu santer diperbincangan, bukan hanya di lingkaran politik dan militer, tetapi juga kini telah “menguasai” tugas-tugas penting negara, mulai dari pertahanan hingga isu-isu strategis lainnya.
Lantas, bagaimana seorang perwira tinggi Kopassus, yang kariernya terhenti di tengah gejolak reformasi, bisa bangkit dan bertransformasi menjadi seorang taipan bisnis, lalu menjadi penantang politik abadi, hingga akhirnya mencapai puncak karier sebagai Menteri Pertahanan (dan kini, Presiden RI ke-8)?
Mari kita bedah secara tajam kisah epik perjalanan karier beliau yang terentang dari medan perang, ruang board meeting, hingga podium kampanye.
Baca Juga: Dulunya Rival Kini Anies Baswedan Ucap Ultah Prabowo hingga Berikan Doa Baik Ini Pada Sang Presiden
I. Lahir dari Darah Elite dan Semangat Pejuang
Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951, sebagai putra ketiga dan putra pertama dari keluarga terpandang. Ia adalah pewaris intelektual dan pejuang:
Sang Ayah: Soemitro Djojohadikusumo, seorang pakar ekonomi legendaris dan politisi yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan.
Sang Kakek: Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pertama.
Garis Keturunan: Keluarga Djojohadikusumo memiliki akar keturunan dari Raden Tumenggung Kertanegara, panglima laskar Pangeran Diponegoro.
Bahkan, nama Prabowo diambil dari pamannya, Kapten Soebianto Djojohadikusumo, perwira TKR yang gugur dalam Pertempuran Lengkong.
Masa kecil Prabowo dihabiskan di luar negeri, mengikuti ayahnya. Ia menyelesaikan studi menengahnya di Malaysia, Swiss, dan Inggris.
Pengalaman global ini membentuk perspektifnya, namun pada akhirnya, ia memilih untuk kembali ke tanah air dan menapaki jalan pengabdian di militer, mendaftar ke Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah.
Dalam kehidupan pribadinya, pada Mei 1983, Prabowo mempersunting Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), putri Presiden Soeharto. Mereka dikaruniai seorang putra, Ragowo Hediprasetyo (Didiet).
Pernikahan ini berakhir pasca-tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998, dan Didiet kini dikenal sebagai desainer fashion yang berbasis di Paris.
Baca Juga: Prabowo Subianto Bicara Visi Ekonomi Indonesia di Forum CEO Dunia Forbes Jakarta
II. Karier Militer: Si 'Pandu' yang Melegenda
Selama 28 tahun, Prabowo mendedikasikan dirinya untuk dunia militer. Dimulai sebagai Letnan Dua pada tahun 1976, ia segera bergabung dengan pasukan elite Angkatan Darat, Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), yang kini dikenal sebagai Kopassus.
Aksi di Timor-Timur: Pada usia 26 tahun, ia menjadi salah satu Komandan Pleton termuda dalam Operasi Nanggala di Timor-Timur, memimpin misi penting penangkapan pemimpin Fretilin, Nicolau dos Reis Lobato.
Puncak Komando: Kariernya melesat. Pada tahun 1995, ia diangkat sebagai Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal.
Salah satu tugas monumental pertamanya adalah Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma di Papua pada tahun 1996, yang menegaskan reputasinya sebagai perwira yang cerdas dan berani.
Panglima Kostrad: Puncak karier militernya tercapai pada 20 Maret 1998, saat diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad)—jabatan yang pernah diemban ayah mertuanya.
Gejolak 1998 dan Pemberhentian yang Kontroversial
Namun, karier militernya berakhir dramatis di tengah gejolak reformasi. Setelah Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, Prabowo diberhentikan dari jabatan Panglima Kostrad oleh Presiden B.J. Habibie.
Ia kemudian diperiksa oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang dipimpin oleh Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo.
DKP memvonis Prabowo bersalah atas sejumlah tuduhan (termasuk ketidakpatuhan dan pengerahan pasukan tanpa wewenang) dan merekomendasikan pemberhentian dari dinas militer.
Meskipun politisi Gerindra kerap menyatakan Prabowo "diberhentikan dengan hormat," kontroversi ini menjadi titik balik krusial yang mengakhiri babak militernya dan mendorongnya ke lintasan baru.
Baca Juga: Bukan KTT Gaza, Mic Panas' Bocorkan Obrolan Prabowo-Trump: Eric dan Don Jr Paling Disorot Dunia
III. Transisi ke Dunia Bisnis: Membangun Dinasti Nusantara
Setelah meninggalkan seragam, Prabowo Subianto memilih mengikuti jejak sang adik, Hashim Djojohadikusumo, terjun ke dunia usaha.
Dalam waktu singkat, ia menunjukkan ketajaman berbisnis yang tak kalah hebat dari karier militernya.
Akuisisi Kiani Kertas: Langkah pertamanya yang paling disorot adalah akuisisi Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas di Kalimantan Timur dari Bob Hasan, menggunakan pinjaman besar.
Ia mengubah namanya menjadi Kertas Nusantara.
Nusantara Group: Kelompok usahanya, Nusantara Group, berkembang pesat dan kini menguasai sekitar 27 perusahaan di Indonesia dan luar negeri. Bisnisnya bergerak di sektor-sektor strategis:
PT Tidar Kerinci Agung (perkebunan kelapa sawit).
PT Nusantara Energy (migas, pertambangan, kehutanan, dan pulp).
PT Jaladri Nusantara (perikanan).
Meskipun sempat menghadapi kesulitan keuangan serius, termasuk ancaman kebangkrutan PT Kertas Nusantara pada tahun 2011, Prabowo berhasil meloloskan perusahaannya melalui negosiasi utang, membuktikan daya tahannya di kancah persaingan bisnis yang keras.
Pada tahun 2009, ia bahkan tercatat sebagai Calon Wakil Presiden terkaya, dengan total aset triliunan Rupiah.
IV. Panggung Politik: Sang Penantang Abadi dan Transformasi Akhir
Babak ketiga dan mungkin yang paling menentukan adalah karier politiknya. Dimulai dengan upaya pencalonan di Konvensi Capres Golkar 2004 (kalah dari Wiranto), ia kemudian mendirikan kendaraan politiknya sendiri.
Lahirnya Gerindra: Bersama Hashim Djojohadikusumo, Fadli Zon, dan Muchdi Purwoprandjono, Prabowo mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 6 Februari 2008. Gerindra segera menunjukkan taringnya dalam Pemilu 2009.
Tiga Kali Pilpres: Perjalanan politiknya diwarnai dengan ketekunan pantang menyerah:
Pilpres 2009: Cawapres mendampingi Megawati Soekarnoputri (kalah dari SBY-Boediono).
Pilpres 2014: Capres berpasangan dengan Hatta Rajasa (kalah dari Jokowi-JK).
Pilpres 2019: Capres berpasangan dengan Sandiaga Uno (kalah dari Jokowi-Ma'ruf).
Menteri Pertahanan: Puncaknya, setelah Pilpres 2019, Prabowo membuat kejutan dengan menerima tawaran Presiden Jokowi untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan ke-26 RI dalam Kabinet Indonesia Maju (2019–2024).
Penunjukannya menandai berakhirnya polarisasi politik dan dimulainya periode rekonsiliasi.
Presiden RI ke-8: Melalui Pemilu 2024, Prabowo Subianto akhirnya berhasil mencapai posisi tertinggi sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8, mencatatkan dirinya sebagai sosok yang berhasil menaklukkan panggung politik setelah tiga kali kontestasi sebelumnya.
Penutup:
Dari seorang perwira komando yang disegani, pengusaha tangguh di tengah badai krisis, hingga politisi yang pantang menyerah, perjalanan Prabowo Subianto adalah kisah tentang transformasi dan ketahanan. Beliau adalah Jenderal yang berhasil merangkul tiga medan perang berbeda: militer, ekonomi, dan politik, membuktikan bahwa seorang tokoh besar tidak hanya dibentuk oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kemampuan untuk bangkit dan bertransformasi di tengah setiap tantangan yang menerpa (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 7Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 8Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'






