KOPI LESEHAN 008: ART Indonesia di Sebut 'MONYET', Seniman Malaysia Kembali Berulah!

AKURAT BANTEN - Aneh bin Ajaib Malaysia neh brow! Mulai dari cerita kemerdekaannya yang lucu, Heheheee... Maksudnya dikasi ma Inggris lho, artinya dia ga' punya pengalaman perang, Tapi anehnya dia sering buangat gertak Indonesia termasuk ngaku-ngaku beberapa pulau terluar kita, ga' cuma itu aja brow!, kemaren-kemaren ampe pengen daftarin ke UNESCO klo karya kerajinan batik Indonesia itu punya dia, hmmm ngadi-ngadi bele-bele, klo gue sih "MALU" karena masih punya etika dan adab.
Nah sehubungan urat malunya dah putus ambak-ambakan, belakangan ngakuin lagi tuh klo tari reog ma lagu Halo-halo Bandung ngerasa dia yang bikin, Alamak... Pede buangat!
"Wah! Penulis mulai khawatir neh, jangan-jangan panci rombeng nenek gue ma kuburan bokap di daftarin juga ke PBB, aya-aya wae!"
Miris, mendengar teriakan lantang diseberang jalan, "Kami rindu Bung Karno!"
Sebagai putra bangsa tentu dengan seringnya kejadian seperti ini, Mulai rindu sosok Bung Karno, rindu Bung Hatta, di masanya telah menjadikan negeri kita macannya Asia, ditakuti dan di segani oleh Kawan maupun Lawan. LANJUT, Teriakan itu makin menggema, Wahai para pemimpin negeri ini, tidakkah engkau sadar bahwa di beberapa bagian Indonesia ada air mata yang terus menetes membasahi merah putih dan membuat Burung Garuda tertunduk malu, ketika menonton lakon yang sedang kalian perankan.
Baca Juga: KOPI LESEHAN 006: SANDAL JEPIT Zaman Mesir Kuno 4000 SM
Kami bertanya kepadamu sekarang!
_ Tentang penjajah berkedok investasi
_ Pembangunan IKN yang terkesan dipaksakan
_ Ulama dan para tokoh di belenggu
_ Bangga dengan banyaknya para pejuang devisa alias ART alias pembantu rumah tangga alias pekerja rendahan yang acap kali selalu di hina dan di siksa oleh tuannya.
_ Lambat menangani kekeringan yang hampir melanda seluruh negeri ini, Mereka seperti dibiarkan untuk menghadapi sendiri musibah ini.
Mungkin saat ini para pejabat negara sedang tertawa terkikih-kikih dengan memanfaatkan keluguan para petani yang tidak terlalu mengerti cara bisnis modern, tidak mengerti dengan sistim irigasi berteknologi tinggi, tidak paham politik dagang. Hasilnya adalah GAGAL PANEN Nasional.
Mungkin beberapa saat lagi kita akan mendengar berita IMPOR BERAS dengan alasan petani gagal panen, Nah inilah yang diharapkan oleh para IMPORTIR beras untuk menambah pundi-pundi Dolar diangka rekeningnya, OMG...!
Baca Juga: Pengunjung MELUBER pada MUKTAMAR Muhammadiyah ke 48 Menghadirkan Ustaz ADI HIDAYAT
FOKUS Yuuu... Kita ga usah banyak-banyak bahasnya, cukup satu aja, maksudnya sih biar ga' ngaco gitu lho, Check it Out!
LALU, Bagaimana bisa negeri seupil yang sebagian wilayahnya numpang di Indonesia bisa segagah itu menghina para pejuang devisa?
Berawal dari salah satu buku novel grafis berjudul When I Was a seri Kid 3, yang menggambarkan WNI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga atau singkat saja sebagai ART di deskripsikan seperti "MONYET" oleh penulis Boey Chee Ming warga negara Malaysia.
Kemudian langsung di sikapi oleh Menteri Dalam Negeri Malaysia yang menyatakan buku itu mengandung materi yang "mungkin merugikan moralitas". Pelarangan kemudian diterbitkan pada 15 September lalu.
Kementerian Luar Negeri RI menghargai keputusan yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia.
Baca Juga: KONTRIBUSI Besar Muhammadiyah Dalam Perdebatan SILA PERTAMA
Hal itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri melalui Muhammad Iqbal pada Konferensi pers di kantornya, Jumat (29/9/2023). Iqbal juga membenarkan adanya penggunaan perumpamaan monyet bagi para pekerja Indonesia.
"Yang jelas, ada bahasa yang disampaikan adalah monyet untuk tenaga kerja kita, Terlepas bahwa itu adalah orang Indonesia yang disebutkan, di dalam buku itu adalah bercerita tentang seorang ayah yang sedang mengajarkan anaknya dan menyebut pekerja (rendahan) dengan kata monyet, dari perspektif edukasi itu sangat tidak edukatif dan human degrading atau merendahkan martabat manusia." ungkapnya.
Dilansir Channel News Asia (CNA), buku When I Was a Kid seri 3 itu terbit pertama pada 2014 dan ini merupakan seri ketiga. Juni lalu, buku tersebut mendapat reaksi keras dari kelompok di Indonesia bernama Corong Rakyat yang langsung menggelar demonstrasi di luar Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Mereka memprotes buku When I Was a Kid seri 3 karena mereka menilai buku itu telah merendahkan ART asal Indonesia.
Baca Juga: Peringati World Rabies Day, Dua Pemprov Gelar Kegiatan Bersama-sama
Buku itu merupakan karya Boey Chee Ming, seniman Malaysia yang tinggal di Amerika Serikat dan menyatakan keterkejutannya Kamis, 28 September 2023, Atas kebijakan Malaysia yang melarang bukunya beredar selanjutnya dia meminta maaf.
Lelah, sungguh lelah rasanya menghadapi tingkah laku menjijikkan negeri sebelah yang hampir mau di "GANYANG" periode Orde Bung Karno, hmmmz... Moga kedepan akan terlahir pemimpin yang mampu membawa Indonesia kembali ke masa emasnya, ya...! Masa dimana kita sangat disegani oleh KAWAN maupun LAWAN.
Terimakasih telah membaca, dan semoga bermanfaat!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










