Banten

KOPI LESEHAN 004: BANTEN dulu BANTEN sekarang "JAWARA BANTEN"

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 26 September 2023, 18:05 WIB
KOPI LESEHAN 004: BANTEN dulu BANTEN sekarang  "JAWARA BANTEN"

AKURAT BANTEN - Malam berganti siang dan siang berganti malam, begitulah prilaku alam yang sangat membosankan.

Namun bumi sangat diuntungkan karena masih banyak manusia sebagai penghuni bumi sampai saat ini masih setia berada dalam putarannya, walaupun pada kenyataannya manusia memiliki tujuan status sosial dengan cara yang beragam.

Saat ini penulis mau menemui seorang tokoh mantan Jawara yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Banten.

Baca juga: KOPI LESEHAN 003 : "BANTEN Dulu BANTEN Sekarang"

Kita sebut saja dia adalah Abah Koswara pangilan kesehariannya Abah Ngkos. Orang ini terbilang unik karena hidup dengan membuat rumah ditengah danau kecil yang hampir semua bahan bakunya dari batang bambu, entah apa yang terlintas dipikirannya sampai mengambil keputusan seperti itu.

Menurut cerita masyarakat sekitar kalau dia sebenarnya adalah orang paling kaya dan tajir melintir di daerah ini, karena memiliki sawah dan kebun yang sangat luas dan hampir ada di seluruh wilayah Banten, Abah Ngkos dikaruniai 3 orang putra dan semuanya dikenal sebagai pengusaha properti yang sukses di Provinsi Banten.

Memasuki rumahnya, penulis harus melewati titian bambu yang dihampar seperti rakit dengan Panjang sekitar 30 meter, wowww… ngeri-ngeri sedap!

Sekali layar terkembang pantang surut kebelakang.

Singkat cerita penulis diterima baik oleh Abah Ngkos diruang tamunya, kami duduk lesehan ditemani kopi pahit hangat terlihat juga hidangan kue kering tradisional yang sudah tidak asing lagi seperti colenak, combro, misro dan serabi oncom.

Dia sudah sangat mengerti kehadiran penulis untuk menemuinya karena sangat paham dengan materi yang akan menjadi bahan obrolan hari ini. Selama dua jam Abah Ngkos bersemangat menceritakan pengalaman hidupnya atau dari apa yang pernah di dengarnya dari orang lain.

Baca juga: KOPI LESEHAN 001 : "BANTEN dulu BANTEN sekarang"

Nah, inilah cerita yang berhasil di rangkum penulis dalam satu artikel ternyata isinya daging semua brow, check it out!

Secara etimologi, “JAWARA” berarti sebagai juara atau jagoan yang berarti pemenang atau yang ingin dipandang hebat dan kuat sedangkan “JAGO” sendiri adalah istilah umum bagi golongan “tukang pukul” atau orang yang suka berkelahi.

Jawara juga memiliki makna jagoan, dalam pengertian jago bela diri seperti pencak silat atau mempertunjukkan kemampuan ilmu kebalannya. Kemampuan seperti ini dipergunakan jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan juga ketenangan di lingkungan sekitarnya.

Jawara Banten, di dalam pandangan Tihami dan Sartono Kartodirjo identik dengan kekerasannya. Tihami mendefinisikan jawara sebagai seseorang yang menjadi muridnya kyai dan memiliki ilmu-ilmu kesaktian melalui penguasaan ilmu silat.

Sementara itu, Sartono Kartodirjo mendeskripsikan bahwa jawara adalah sebagai golongan sosial yang terdiri dari orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, tetapi seringkali melakukan kegiatan kriminalitas, mengambil hak milik orang lain dengan cara menggunakan kekerasan.

Dari kedua pendapat inilah, maka jawara digambarkan seolah-olah sosok pribadi yang menakutkan, mengedepankan kekerasan dan tidak menunjukkan kekerabatan terhadap masyarakat.

Namun, yang menjadi pertanyaaan apakah benar stigma negatif jawara itu sama dengan pertama kali hadirnya jawara dengan realitas sekarang?

Citra negatif jawara Banten, sesungguhnya, bermula bentukan opini kolonial Belanda. Hal ini terjadi setelah ditaklukannya kesultanan Banten dan menjadikan wilayahnya sebagai jajahan Belanda, maka para kiai dan jawara mengobarkan perlawanan terhadap kolonial dan pamong prajanya.

Baca jugaSadio Mane, Pemain Al Nassr FC yang Ikhlas Memberikan Hartanya Untuk Orang Miskin

Di dalam situasi konflik, maka kondisi sosial dan politik menjadi tidak teratur dan tatanan sosial terancam tidak aman. Dengan perlawanan langsung dan terbuka bagi siapa saja dan situasi yang demikian rentan, tak dapat dihindari terdapat berbagai pihak yang sengaja “memancing di air keruh” dan muncul berbagai tindakan di luar hukum, seperti pencurian, perampokan, pemerasan dan lain-lain.

Ketidakteraturan di masyarakat mendorong orang-orang yang tergolong kelompok bangsawan yang telah kehilangan atas tanah dan miliknya, kemudian memanfaatkan situasi dengan menempuh jalur di luar hukum untuk dapat mengambil kembali hak propertinya.

Oleh karena itu, seringkali kolompok bangsawan dengan “terpaksa” bekerja sama dengan bandit-bandit atau perampok-perampok yang sesungguhnya. Kondisi ini yang kemudian dimanfaatkan oleh para pejabat kolonial Belanda untuk mendiskreditkan para pejuang, kiai dan jawara, dengan memberi labelitas “bandit sosial” kepada kaum santri jawara.

Belanda memprovokasi masyarakat dan menganggap jawara sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Dengan pemberian label negatif, kolonial Belanda mendapatkan justifikasi untuk menganggap berbagai perlawanan dari gerakan sosial yang bermaksud untuk melawan penjajahan asing sebagai kelommpok pemberontak.

Pandangan tidak baik terhadap jawara terlihat dalam keseharian yang menunjukkan bahwa keberbedaan dari ciri khas yang cenderung mengarah kepada kekerasan. Hal itu dapat di lihat dari:

1. Gaya bahasa atau tutur kata yang khas dan terkenal sangatlah kasar.
2. Penampilan keseharian para jawara yang sangat berbeda dari sebagian besar masyarakat pada umumnya dengan warna serba hitam.
3. Para jawara selalu membawa golok dalam kehidupannya sehari-hari.
4. Pada umumnya Jawara memiliki kekuatan magis dalam bentuk jimat yang dimiliki dan digantungkan pada tubuhnya jawara yang dianggap memiliki kesaktian untuk melindunginya, menangkal penyakit dan menolak bala.

Kekuatan para jawara yang dapat dilihat dengan kasat mata dan di pahami sebagai usaha pembelaan diri terhadap orang lain yang di anggap dapat melakukan pelecehan atas harga diri mereka.

Baca juga: Dipercaya Dapat Meningkatkan Stamina Pria, Ini Berbagai Manfaat Jahe Merah Serta Cara Mengolahnya

Namun, saat ini kondisinya telah berubah, Dan tidak lagi berpikiran atau berperilaku seperti yang telah dituduhkan, kini para jawara telah dipengaruhi oleh peradaban manusia melalui pemahaman tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan hukum atau kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada saat ini para jawara telah memegang peranan penting di dalam struktur birokrasi pemeirantahan termasuk menjadi pelaku ekonomi dan bisnis yang berperan besar dalam pembangunan infrastruktur di Banten seperti bidang sosial politik peran jawara juga sangatlah besar dengan membawa implikasi terhadap kehidupan birokrasi dan ikut serta dalam pengelolaan pemerintahan daerah.

Hal ini dilakukan dengan cara memobilisasi masa untuk mempengaruhi keputusan politiknya, termasuk juga dalam penentuan proyek-proyek pemerintah. Bahkan dalam realitasnya jawara telah memasuki wilayah strategis pemerintahan daerah seperti bupati, wali kota, gubenur, kepala dinas dan menguasai berbagai posisi strategis pemerintahan artinya para jawara telah merubah paradigma tentang Jawara disebabkan karena pola pikir yang telah mengikuti arus perubahan zaman.

"Jangan lupa selalu check KOPI LESEHAN yang selalu tampil serial dan unik untuk pembaca setia Akurat Banten."

Penulis sebenarnya masih betah Bersama Abah Ngkos, Cuma karena waktu jualah yang memisahkan “tiada pertemuan tanpa perpisahan” dengan berat hati penulis harus melangkahkan kaki Kembali meniti hamparan bambu di Tengah danau menuju ketepian, beberapa ikan dibawahnya berenang mengiringi untuk memastikan penulis sampai di tapak terakhir, tampak hamparan sawah menghijau mengelilingi di tepian danau.

Ohhh… Betapa tenang dan damainya hidup Abah Ngos. Semoga beliau tetap diberi Kesehatan dan di panjangkan umurnya agar tetap menjadi manusia yang penuh safa’at.

Adzan Ashar sudah berkumandang dengan lantunan terindahnya, menggetarkan setiap hati para muslim yang beriman, menembus tujuh pintu-pintu langit serta merambat pelan diantara bukit dan lembah yang tenang.

Saatnya tiba bagi penulis dan keluarga untuk menjalankan salah satu waktu dari lima waktu sholat yang diperintahkan bagi seluruh umat Islam. Oke, semoga bermanfaat!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.