KOPI LESEHAN 002: BANTEN Dulu BANTEN Sekarang "Kembalinya istana Surosowan"

AKURAT BANTEN - Hari ini penulis seperti biasanya melakukan aktifitas di rumah hampir tidak ada yang berubah, selesai Sholat Subuh langsung menyiram tanaman agar terlihat segar dan asri dihalaman depan rumah.
Ketika gemericik air memecah kesunyian pagi dan suara siulan beberapa burung yang bertengger di dahan kecil pohon mangga, itu makna sinergi alam yang telah Allah ciptakan jauh sebelum manusia ada di bumi.
Dari kejauhan seorang tua renta jalan agak tertatih-tatih menuju arahku dengan memapah perlahan sepeda tuanya, Sejenak kornea mataku mencoba menangkap sosok itu, Oh benar saja ternyata dia sahabatku, Aki Bakonih.
Baca Juga: KOPI LESEHAN 010: Kejam! SUAMI Membunuh ISTRI Karena Minta Ongkos Pulang
Singkat cerita kali ini dia datang kerumah penulis, dia merasa berhutang cerita karena belum tuntasnya episode kemarin.
Penulis mempersilahkan duduk dan seperti biasanya istriku menyiapkan kopi dan menu sarapan pagi, Karena ada tamu tak terduga maka porsi makanan dibagi menjadi dua, sedikit tapi kenikmatan santapan pagi ini memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kami.
Selesai makan Aki Bakonih merogoh kantong kecil dari kain berisi beberapa linting rokok dan mulai menikmati kebulan asap yang keluar membelah bibirnya, kemudian tersenyum tipis di balik keriput wajahnya yang sudah senja, lalu dia mulai bercerita.
Seperti biasanya Aki bakonih tidak ingin dipotong ketika menceritakan apapun yaitu sesuatu yang pernah tersimpan dengan baik dalam memori otaknya, dia memiliki daya ingat yang sangat kuat.
Baca Juga: KOPI LESEHAN 009: LIMA PELAJAR Pandeglang di Tangkap Polisi Saat Membuat SAJAM Untuk Tawuran!
Nah, selama dua jam kami bercengkerama dan menuntaskan semua pengalaman hidupnya Aki Bakonih pun beranjak pergi.
Penasaran apa kelanjutannya dari cerita yang kemarin? Penulis langsung menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk seluruh pembaca setia Akurat Banten, Check it out!
Nama Banten dalam sumber lokal dan tercatat dalam naskah Carita Parahiyangan yang pernah ditulis pada 1580 dan menyebutkan adanya sebuah tempat yang disebut Wahanten Girang yang dapat dihubungkan dengan nama Banten antara lain pada Tambo Tulang bawang dari Primbon Bayah, serta berita Cina hingga abad ke 13 pada saat itu orang menyebut daerah Banten dengan nama Madanggili.
Kota Banten awal mulai tumbuh sekitar abad 11 sampai 12 Masehi ketika itu Banten diduga sudah menjadi pemukiman urban penting yang dilengkapi dengan parit dan benteng, Masyarakat dalam pemukiman itu melakukan kegiatan kerajinan mulai dari pakaian sampai peleburan tembikar, besi, perunggu dan membuat perhiasan emas atau manik'manik.
Baca Juga: G30S PKI Seperti LAKON POLITIK Ternyata Cuma ada di Panggung ORDE LAMA
Banten sebagai kota pelabuhan antar pulau dan antar negara kemudian tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya sebagai kerajaan Islam dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
VOC dengan keserakahannya berencana menjadikan Kesultanan Banten sebagai jalur monopoli baru perdagangannya.
Upaya-upaya yang ditempuh oleh VOC untuk menguasai Kesultanan Banten salah satunya adalah dengan menjalankan politik Devide et Impera, yaitu dengan mempengaruhi putra Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Sultan Haji untuk berpihak kepada VOC dan membantu mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa.
Dengan menguasai Banten, VOC berarti dapat mengontrol jalur perdagangan lada dan memonopoli pasarnya. Selama beberapa dekade, serangan VOC terus digagalkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. VOC berhasil menguasai Banten setelah Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan sultan penerusnya jatuh ke dalam perangkap Belanda.
Baca Juga: KOPI LESEHAN 007: MITOS atau FAKTA, Benarkah Suku BADUY Berasal dari Keturunan PRABU SILIWANGI?
Namun bersama pasukan dan rakyat yang gigih dan masih setia kepada Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mampu merebut kembali Kesultanan Banten dari Sultan Haji yang didukung VOC. Pada tahun 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung istana Surosowan dan menguasainya.
Oh iya, penulis lupa...
Pada saat Aki Bakonih beranjak pulang untuk kembali menggoes sepedanya sempat berpantun:
"Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, Kalau ada umur ku panjang boleh kita berjumpa lagi"
Penulis baru paham, ternyata dia ingin kembali bercerita banyak hal untuk kita semua.
Oke kita tunggu, semoga dia tetap diberi kesehatan dan masih bersama kita.
Semoga bermanfaat!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









