Waspadai! Ini Larangan di Malam Satu Suro Menurut Adat Jawa, Bukan Sekadar Mitos

AKURAT BANTEN - Malam Satu Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah, bukan hanya dianggap sakral dalam Islam, tapi juga diyakini penuh energi spiritual dalam tradisi Jawa.
Dalam pandangan budaya Jawa, malam ini bukan saatnya untuk hura-hura atau kegiatan seremonial biasa. Justru banyak larangan yang harus dipatuhi agar tidak menimbulkan kesialan atau gangguan secara batiniah.
Baca Juga: Kisah-Kisah Seram Malam 1 Suro, Ketika Dunia Tak Kasat Mata Menyapa
Salah satu larangan paling populer di malam Satu Suro adalah tidak menggelar pesta atau acara perayaan. Bagi masyarakat Jawa, malam ini dianggap sebagai waktu untuk menyepi, merenung, dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Mengadakan hajatan seperti pernikahan, khitanan, bahkan ulang tahun di malam Suro dianggap tidak membawa berkah dan bisa mengundang malapetaka.
Baca Juga: Makna Malam Satu Suro dalam Islam: Antara Sejarah, Filosofi, dan Tradisi
Selain itu, larangan bepergian jauh juga dipercaya secara turun-temurun. Banyak yang memilih untuk tidak melakukan perjalanan jauh pada malam Suro, apalagi ke tempat yang belum dikenal atau dianggap angker.
Diyakini, malam ini menjadi waktu “perlintasan” makhluk halus dan energi gaib, sehingga lebih baik berdiam diri di rumah atau tempat yang aman.
Larangan berikutnya yang sering dipegang teguh adalah tidak berbicara sembarangan atau membicarakan hal-hal negatif. Ucapan di malam ini diyakini memiliki kekuatan spiritual, sehingga masyarakat diminta menjaga tutur kata, tidak melontarkan sumpah serapah atau candaan yang tidak pantas. Kata-kata dianggap bisa menjadi doa yang nyata di malam penuh energi ini.
Baca Juga: Jelang HUT Bhayangkara ke-79, Kapolri Mutasi 702 Personel: 3 Polwan Jadi Kapolres, Siapa Saja?
Tidak memotong rambut atau kuku juga masuk dalam daftar pantangan. Secara simbolik, tubuh manusia dianggap sebagai bagian dari harmoni alam yang harus dijaga utuh di malam suci. Pemotongan anggota tubuh seperti rambut dan kuku dianggap sebagai bentuk “interupsi” terhadap keseimbangan diri dan bisa membawa sial.
Baca Juga: Demo Membara di Depan Kemenpora: 6 Mahasiswa Jadi Tersangka, Polisi Terbakar
Terakhir, masyarakat Jawa juga mempercayai larangan tidak memakai pakaian mencolok atau berwarna merah terang. Warna merah dianggap memicu perhatian makhluk halus, dan bisa mengganggu keseimbangan energi malam Suro yang dikenal tenang, sepi, dan sakral.
Meski larangan-larangan ini berasal dari kepercayaan adat, sebagian masyarakat Jawa masih menjaganya sebagai bentuk penghormatan pada nilai-nilai leluhur. Apalagi, malam Satu Suro sejatinya adalah momentum untuk memperbaiki diri, bukan malah mencari keramaian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 3Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 4Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 5Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 6Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 7Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 8Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 9Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 10Sidang Gibran di MK Bikin Terkejut, KPU Akui Tak Cek Langsung Dokumen Pendidikan





