Banten

WAJIK: Makanan Para Raja Majapahit yang Jadi Simbol Cinta Abadi

Saeful Anwar | 11 Oktober 2025, 17:16 WIB
WAJIK: Makanan Para Raja Majapahit yang Jadi Simbol Cinta Abadi

Wajik begitu sakral di Tanah Jawa karena makanan manis yang terbuat dari beras ketan, gula merah, dan santan ini menyimpan filosofi mendalam mengenai ikatan, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang manis. Kesakralan wajik tercermin dalam perannya di berbagai upacara adat penting, dari upacara panen hingga hantaran pernikahan, yang mana ia selalu hadir sebagai simbol utama.

AKURAT BANTEN-Pesatnya perkembangan zaman telah membawa gelombang inovasi di hampir seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali dunia kuliner Nusantara.

Kita sering disuguhkan beragam makanan modern yang merupakan hasil 'olah ulang' dari jajanan tradisional.

Fenomena ini membuktikan satu hal: daya tarik jajanan tradisional tidak pernah pudar.

Mereka tetap memiliki tempat khusus dan hangat di hati masyarakat Indonesia, menjadi jangkar yang menghubungkan kita dengan kekayaan budaya dan cita rasa masa lalu.

Setiap hidangan lezat yang diwariskan dari generasi ke generasi ini bukan sekadar pemuas lidah, melainkan cerminan kekayaan budaya setiap wilayah.

Di balik rasa manis dan gurih, tersimpan banyak cerita dan kisah menarik yang patut untuk diungkap. Salah satu bintang dari khazanah kuliner klasik ini adalah Wajik, si manis legit yang tak lekang oleh waktu.

Baca Juga: Di Balik Rimbunnya Daun: Ini Rahasia Mengapa Mitos Pocong di Pohon Pisang Terus Bertahan

Wajik: Lebih dari Sekadar Kudapan Manis

Artikel ini akan mengajak Anda membahas lebih dekat mengenai kelezatan kue wajik, mulai dari asal-usulnya yang terikat erat dengan tradisi, bahan-bahan sederhana yang mencipta rasa istimewa, hingga variasi modern yang menjadikannya primadona di era kekinian.

Menurut catatan sejarah, wajik bukanlah kudapan biasa. Ia merupakan bagian integral dari tradisi kuliner dalam berbagai upacara sakral dan acara penting.

Sejak era Majapahit, wajik telah tercatat dalam naskah kuno seperti Kitab Nawaruci, menunjukkan betapa berharganya makanan ini.

Dahulu, wajik menjadi hidangan wajib dalam:

  • Upacara Keagamaan dan Adat: Melambangkan rasa syukur dan persembahan.
  • Pesta Pernikahan: Sering disajikan sebagai bagian dari srah-srahan (hantaran dari mempelai pria).
  • Upacara Selamatan: Digunakan untuk meminta keselamatan dari musibah atau sebagai syukuran panen.

Baca Juga: HEBOH! Sistem Gaji ASN Mau Dirombak Total: Inilah Skema Single Salary yang Janjikan Gaji Penuh, Transparansi, dan Bebas Utang

Filosofi Mendalam di Balik Teksturnya yang Lengket

Wajik memiliki makna filosofis yang sangat dalam, terutama dalam budaya Jawa:

Ketan yang Lengket: Melambangkan persatuan, kebersamaan, dan harapan akan hubungan yang erat serta langgeng, seperti harapan bagi pasangan pengantin agar cinta mereka 'lengket' selamanya.

Rasa Manis dari Gula Merah: Menyiratkan harapan agar hubungan antar manusia selalu manis dan harmonis, penuh kesabaran dalam mengarungi kehidupan.

Proses Pembuatan yang Lama: Membutuhkan kesabaran dan kerja sama untuk mengaduk ketan, santan, dan gula hingga mengental sempurna—sebuah metafora untuk mencapai hasil yang manis dalam hidup yang butuh perjuangan.

Baca Juga: TERNYATA ! Mahar Rp 3 Miliar Palsu: Jejak Gelap Kakek Tarman, Penipu Ulung yang Kabur Usai Nikahi Gadis Pacitan

Proses Awal dan Inovasi Rasa Kekinian

Secara tradisional, kue wajik dibuat dengan cara memasak beras ketan bersama campuran gula kelapa (gula merah/gula aren) dan santan hingga mengental, kemudian dicetak menjadi bentuk persegi atau jajaran genjang.

Proses yang membutuhkan waktu lama ini menghasilkan tekstur yang khas: legit, kenyal, dan sedikit berminyak.

Namun, seiring berjalannya waktu, wajik ikut bertransformasi.

Kini, kita tidak hanya menemukan wajik klasik berwarna cokelat gula merah, tetapi juga variasi rasa, bentuk, dan warna yang menarik:

Wajik Ketan Hitam: Memberikan sensasi rasa dan aroma yang lebih kaya.

Wajik Ketan Hijau (Pandan): Menarik dengan warna cerah alami dan aroma pandan yang wangi.

Inovasi Rasa Modern: Beberapa daerah bahkan menciptakan wajik dengan cita rasa yang lebih unik seperti wajik durian, wajik nangka, bahkan wajik ubi ungu atau talas.

Baca Juga: WADUH! Vonis Mati Mengintai? Ammar Zoni 'Naik Pangkat' Jadi Pengedar Narkoba di Balik Jeruji Rutan Salemba

Resep Rumahan: Wajik yang Mudah Dibuat

Meskipun terlihat rumit, Wajik sejatinya tergolong mudah untuk dibuat di rumah. Bahan-bahan utamanya—beras ketan, santan, dan gula—mudah didapatkan.

Kuncinya terletak pada proses memasak dan pengadukan yang konsisten hingga adonan benar-benar kalis dan matang sempurna.

Wajik bukan hanya sekadar makanan penutup atau cemilan, ia adalah warisan leluhur yang membawa nilai-nilai budaya dan filosofi.

Popularitasnya yang abadi, bahkan di era kuliner modern yang serba cepat, membuktikan bahwa makanan tradisional ini memiliki tempat yang istimewa (**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman