Makna Malam Satu Suro dalam Islam: Antara Sejarah, Filosofi, dan Tradisi

AKURAT BANTEN - Malam satu Suro, atau malam pertama di bulan Muharam dalam kalender Hijriah, memiliki tempat tersendiri dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Jawa.
Meski dikenal luas lewat nuansa mistis dan ritual adat, malam satu Suro sebenarnya berakar dari malam 1 Muharam dalam Islam yang menyimpan makna spiritual yang dalam.
Dalam ajaran Islam, Muharam merupakan salah satu dari empat bulan suci yang dimuliakan Allah, di mana umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal dan menjauhi perbuatan dosa.
Baca Juga: Jelang HUT Bhayangkara ke-79, Kapolri Mutasi 702 Personel: 3 Polwan Jadi Kapolres, Siapa Saja?
Dalam sejarahnya, bulan Muharam menjadi simbol pergantian tahun dalam penanggalan Islam yang dimulai sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Peristiwa ini bukan hanya titik balik sejarah umat Islam, tetapi juga simbol dari perjuangan, pengorbanan, dan semangat untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, malam satu Suro yang jatuh tepat pada malam 1 Muharam, bisa dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk merenung, muhasabah, dan memperbarui niat hidup ke arah yang lebih baik.
Salah satu amalan utama di bulan Muharam, termasuk pada malam satu Suro, adalah memperbanyak puasa sunnah. Di antaranya adalah puasa Tasu’a (9 Muharam) dan puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar, seperti penghapusan dosa setahun yang lalu.
Selain itu, banyak ulama menganjurkan memperbanyak istighfar, zikir, serta mempererat tali silaturahmi pada momen ini. Semua ini menunjukkan bahwa malam satu Suro bukanlah malam yang menakutkan, tapi justru malam yang membawa pesan ketenangan dan perenungan diri.
Baca Juga: Koding dan AI Masuk Kurikulum! Anak SD hingga SMA Bisa Belajar Teknologi Tahun Ini
Namun, dalam budaya Jawa, malam satu Suro sering kali diidentikkan dengan suasana mistis. Banyak masyarakat melakukan ritual seperti tirakat, kungkum (berendam di air), tapa bisu di Keraton Yogyakarta, dan tradisi larung sesaji.
Tradisi-tradisi ini sejatinya merupakan bentuk kearifan lokal yang lahir dari sinkretisme budaya Jawa dan nilai-nilai spiritual.
Meski tidak sepenuhnya berasal dari ajaran Islam, praktik-praktik ini sering dimaknai sebagai upaya untuk membersihkan diri secara lahir dan batin dalam menyambut tahun baru.
Baca Juga: Demo Membara di Depan Kemenpora: 6 Mahasiswa Jadi Tersangka, Polisi Terbakar
Dalam pandangan Islam, malam satu Suro tetap perlu dimaknai dengan cara yang tidak menyimpang dari akidah. Artinya, selama tradisi budaya tidak mengandung unsur syirik atau bertentangan dengan prinsip tauhid, maka tidak ada salahnya tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya.
Namun demikian, umat Islam tetap diingatkan agar lebih memprioritaskan amalan yang diajarkan Rasulullah SAW, dibandingkan ritual-ritual yang bersifat mistis atau tidak berdasar dalil yang kuat.
Baca Juga: Rekomendasi Film Seru untuk Menemani Libur Sekolah
Filosofi mendalam dari malam satu Suro dalam konteks Islam adalah mengajak manusia untuk bermuhasabah, menata kembali niat hidup, dan memperbanyak kebaikan.
Momentum ini mengingatkan bahwa setiap tahun yang berganti adalah pengingat bahwa usia semakin berkurang, dan waktu terus berjalan menuju akhir. Maka, bukan ketakutan yang harus dikedepankan, tapi kesadaran untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah.
Dengan memahami makna sesungguhnya malam satu Suro menurut Islam, umat Muslim diharapkan tidak terjebak pada mitos dan kekhawatiran yang tidak perlu.
Sebaliknya, malam ini bisa menjadi waktu terbaik untuk memperkuat spiritualitas, introspeksi, dan menata langkah baru untuk kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







