JEJAK GAJAH MADA dan ISLAM di Tanah BIMA Yang Belum Terungkap

AKURAT BANTEN - Orang Bima percaya, Gajah Mada sebetulnya juga orang Bima. Bagi awam, ini keyakinan yang agak janggal memang atau istilah anak sekarang LEBAY atau sesuatu yang berlebihan.
Pertanyaannya adalah :
"Apa mungkin kerajaan Jawa Majapahit mau mengangkat orang asing sebagai mahapatih alias panglima perangnya?"
Gajah Mada adalah tokoh yang hidup pada abad ke 14, masa hubungan antar-etnis di Nusantara pastinya belum seakrab sekarang lho, Untuk ukuran masa itu, Bima merupakan daerah yang letaknya relatif jauh dari pusat Kerajaan Majapahit di Kediri, Jawa Timur, Ukuran pernyataan "jauh" adalah di zaman itu belum ada transportasi seperti sekarang ini bro.
Nah, bukan tak mungkin Gajah Mada adalah putra asli Bima, yuk kita simak ceritanya :
Jejak-jejak masa silam yang diduga berhubungan dengan Sang Mahapatih terdapat di berbagai tempat di ujung timur Pulau Sumbawa itu.
Baca Juga: Kisah Lucu Dari Karomahnya Kyai Kholil Bangkalan Madura, Santrinya Salah Baca Do’a Tapi Tetap Manjur
"Kata orang, kuburan Gajah Mada ada di daerah Donggo,” ujar perempuan peneliti sejarah Bima, Siti Maryam Rachmat.
Donggo adalah daerah kecamatan yang berada di antara kaki-kaki Gunung Salunga dan Gunung Soromandi dengan ketinggian 4.775 meter di atas permukaan laut, merupakan gunung tertinggi di wilayah Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat.
"Sampai awal kemerdekaan, kuburan itu masih sering menjadi tempat ritual masyarakat sekitar dan tempat yang diduga makam itu sudah sering diteliti para ahli, termasuk oleh arkeolog dari Universitas Indonesia, tapi saya belum pernah mendengar hasilnya"
Seorang warga Sumbawa lain yang juga penggemar sejarah menulis :
di Donggo, tepatnya di Desa Padende, terdapat dua peninggalan purbakala :
1. Wadu Nocu berarti Batu Lesung.
2. Wadu Tolo Tunti Artinya batu tulis yang berada di sawah
3. Arca purbakala seperti yang biasa ditemukan di Jawa.
Menurut Kationo :
”Ada patung Dewa Siwa berdiri sendirian dengan dua patung pengiring yang berada di sebelah selatan, Masyarakat setempat meyakini Wadu Nocu merupakan lokasi kuburan Gajah Mada, Keyakinan ini diwariskan turun-temurun lewat cerita oleh keluarga penjaga kuburan.
Baca Juga: Waduh! Foto Syekh Abdul Qadir al-Jilani Ternyata Salah Orang, Ini Nama Asli Pemilik Foto
Keyakinan masyarakat sekitar semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa kuburan Gajah Mada tidak pernah ditemukan di Jawa dan bahwa dalam kitab Jawa Kuno Pararaton ada disebutkan, di akhir masa hidupnya Patih Gajah Mada pergi meninggalkan Keraton Majapahit ke arah timur"
Keberadaan Gajah Mada di Bima juga terekam dalam Nagara kartagama (1364), kitab kuno gubahan Mpu Prapanca yang sohor itu. Seperti dikutip Muhammad Yamin dalam bukunya Gajah Mada Pahlawan Pemersatu Nusantara, di buku yang ditulis dalam bahasa Kawi itu disebutkan bahwa Gajah Mada melakukan perjalanan ke berbagai daerah yang ada di sebelah timur Pulau Jawa, termasuk daerah-daerah di Pulau Sumbawa, seperti Taliwang, Dompo (Dompu), Sape, Sanghyang Api yaitu Pulau Sengeang, dan juga Bima.
Sementara kebenaran Gajah Mada sebagai putra daerah Bima masih bisa diperdebatkan, ada bukti-bukti yang jauh lebih kuat yang menunjukkan bahwa Bima pada mulanya memang kerajaan lokal bentukan Majapahit, yang di zamannya merupakan sebuah negara adidaya Nusantara.
Tulisan-tulisan sejarah purbakala Bima sering menyebutkan, Kerajaan Bima yang kemudian jadi Kesultanan Bima didirikan setelah Gajah Mada yang telah mendarat di sana dalam pelayaran ekspedisi untuk menyatukan Nusantara, sesuai Sumpah Palapa yang diikrarkan Gajah Mada di hadapan Ratu Tribhuwana Tunggadewi saat ia diangkat menjadi mahapatih pada tahun 1334.
Nama Kerajaan Bima konon diambil dari nama rajanya yang pertama, Bima, yang berasal dari Majapahit. Raja ini memiliki dua anak laki-laki, Indra Zamrud dan Indra Kumala. Sebagai anak pertama, Indra Zamrud kemudian dinobatkan sebagai raja berikutnya. Ia terus menetap di Bima, sedangkan Sang Ayah kembali pulang ke Jawa.
Dua anak laki-laki itu didapat Bima setelah ia memperistri perempuan setempat. Mungkin karena itu orang Bima hingga kini juga biasa menyebut daerah mereka sebagai Mbojo, nama yang berasal dari makna kata dalam bahasa Jawa ”bojo”, yang berarti ”istri”.
Bersama sejumlah situs purbakala lain dari zaman Hindu yang juga ditemukan di Bima, Wadu Nocu dan Tolo Wadu Tunti bisa jadi merupakan sisa-sisa candi peninggalan peradaban Hindu, yang masuk ke Pulau Sumbawa bersama kedatangan Gajah Mada dan bala tentara Majapahit pada tahun 1377, di masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk.
Selama tiga abad setelah kedatangan Gajah Mada dan peradaban Hindu di Bima, sebagaimana di tulis dalam salah satu bo atau kitab catatan kerajaan, pada tahun 1640 Ruma Ta Ma Bata Wadu, Raja Bima ke 27, menikah dengan perempuan bernama Daeng Sikontu, adik istri Sultan Makassar Alauddin yang beragama Islam.
”Karena perkawinan itu, Sang Raja memeluk agama Islam. Ia pun mengganti gelar dan nama menjadi Sultan Abdul Kahir dan menjadi raja Bima pertama beragama Islam,” ujar Siti Maryam. Seiring dengan itu, Kerajaan Bima pun berganti sebutan menjadi Kesultanan Bima dengan Abdul Kahir sebagai sultan pertamanya, Meski pengaruh Islam sudah masuk Bima sejak pertengahan abad ke-16 dan rajanya pun sudah memeluk agama Islam.
Bima baru resmi menjadi kesultanan Islam setelah Sultan Abdul Kahir meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Pada masa pemerintahan Sultan Bima II inilah (1635-1681), adat dan hukum Islam mulai diberlakukan secara umum. Hal ini berlangsung sampai masa pemerintahan Sultan Ibrahim, Sultan Bima XIII (1881-1915).
Namun pada masa selanjutnya diakhirinya pemberlakuan syariat Islam, pengaruh Islam di Bima tak ikut surut.
Siti Maryam menceritakan bagaimana Sultan Bima XIV, Sultan Salahuddin (1915-1951), tetap memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Islam dengan mendirikan sekolah menengah Islam tingkat pertama dan atas. Sultan juga pernah mengirim para pemuda Bima ke Mekkah, Arab Saudi, untuk lebih mendalami ajaran Islam,” papar Siti Maryam, yang juga putri Sultan Bima terakhir.
”Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 Masehi, pada masa itu pelabuhan Bima ramai dikunjungi pedagang Nusantara. Pedagang Bima pun sudah berlayar menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda, dan Malaka, serta singgah di setiap pelabuhan di Nusantara.
Pada saat inilah kemungkinan para pedagang Demak datang ke Bima, selain berdagang juga untuk menyiarkan agama Islam,” kata sejarawan dan Indonesianis Prancis Henry Chambert-Loir dalam bukunya, Bima dalam Sastra dan Sejarah.
Salah satu jejak peradaban Islam di Bima adalah Masjid Kesultanan Bima yang terletak di pusat Kota Bima.
Masjid berusia tiga abad yang masih berdiri kokoh di tepi alun-alun kota, yang disebut warga setempat sebagai Lapangan Sera Suba, itu dibangun oleh Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah, Sultan Bima VII, pada tahun 1737. Pembangunan selanjutnya dilakukan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yang mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip atap Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah.
Pada masa Perang Dunia II, masjid itu hancur akibat pengeboman pasukan Sekutu, tetapi kemudian dipugar oleh Sultan Muhammad Salahuddin, sultan Bima terakhir,” kata seorang warga Kota Bima. Karena itu, kini masjid itu dinamai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.
Tumbuh suburnya peradaban Islam di Bima terkait dengan adanya hubungan-hubungan kekerabatan, diplomatik, dan perdagangan antara kesultanan itu dengan kesultanan-kesultanan Islam lain di Kepulauan Nusantara, termasuk dengan kesultanan-kesultanan di Sulawesi Selatan.
Konon, pada abad ke-16 Bima sudah menjadi salah satu pelabuhan dagang yang ramai di wilayah timur Nusantara. Kalau begitu, bukan tak mungkin, di antara para pedagang Demak yang datang ke Bima untuk sekalian menyebarkan Islam itu ada juga para pembantu Sunan Kudus atau sunan lainnya dalam jajaran Wali Songo.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com (13 Desember 2013) dengan judul "Jejak Gajah Mada sampai Wali Songo di Tanah Mbojo" (Mbojo kata lain untuk sebutan Bima).
Namun Artikel tersebut telah dirubah beberapa redaksi aslinya seperti, Judul, kemudian menambahkan dan mengurangi beberapa hal sesuai kebutuhan penulis dan pembaca saat ini.
Tujuan Artikel ini diangkat kembali oleh Media Akurat Banten adalah supaya pembaca kembali, mengingat atau mengenal lebih dekat bahwa di bagian timur Indonesia Bima NTB menyimpan banyak sejarah yang belum banyak terungkap atau diketahui oleh generasi di era sekarang.
Semoga Artikel ini, memberikan manfaat buat kita semua agar sedikit memberi wawasan kita, Bagaimana perjuangan menjadikan satu Indonesia dalam kaedah sejarah. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









