Banten

Indonesia Dilanda Kemarau Ekstrem, Ini Ikhtiar Spiritual Umat Islam, Tata Cara Shalat Istisqa' Mohon Hujan Berkah

Saeful Anwar | 15 Oktober 2025, 15:51 WIB
Indonesia Dilanda Kemarau Ekstrem, Ini Ikhtiar Spiritual Umat Islam, Tata Cara Shalat Istisqa' Mohon Hujan Berkah

AKURAT BANTEN-Musim kemarau panjang tahun ini bukan sekadar pergantian cuaca biasa. Berbagai wilayah di Indonesia kini menghadapi kondisi ekstrem yang menyebabkan dampak berantai yang meresahkan.

Kekeringan parah menyebabkan gagal panen yang mengancam ketahanan pangan, krisis air bersih yang menyulitkan jutaan keluarga, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak terkendali.

Parahnya, absennya hujan dalam waktu lama membuat debu dan polutan menumpuk di udara, memicu bencana lain: polusi udara yang semakin memburuk dan mengancam kesehatan masyarakat, terutama di kota-kota besar.

Dalam menghadapi musibah alam yang terasa berat ini, selain upaya-upaya lahiriah yang dilakukan pemerintah dan masyarakat, umat Islam juga memiliki tuntunan spiritual sebagai bentuk permohonan dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

Baca Juga: GEGARA APBN! Atalia Praratya Diserbu Santri di Rumah Pribadi: Tuntut Pemecatan karena Dinilai 'MELUKAI' Hati Korban Bencana!

Shalat Istisqa': Mengetuk Pintu Langit dengan Taubat dan Istighfar

Dalam ajaran Islam, ketika terjadi kekeringan atau musibah yang disebabkan oleh ketiadaan hujan, umat dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Istisqa' (salat meminta hujan).

Shalat Istisqa' adalah salat sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) yang pelaksanaannya tidak hanya sekadar ritual memohon air, melainkan sebuah manifestasi taubat massal, pengakuan dosa, dan pengharapan penuh akan rahmat Allah SWT.

Saat bumi terasa kehausan, salat ini menjadi jembatan spiritual bagi hamba untuk kembali mendekat, menyadari kelalaian, dan memohon ampunan-Nya agar diturunkan hujan yang membawa berkah, bukan bencana.

Baca Juga: Ekspor Udang RI Terancam! Skandal Radioaktif Cesium-137 di Cikande Bikin Amerika Serikat Khawatir

SERUAN & IMBAUAN: Mari Laksanakan Shalat Istisqa' Berjamaah

Mengingat kondisi musibah yang melanda negeri, termasuk kekeringan, gagal panen, kebakaran hutan, dan polusi udara yang kian mengkhawatirkan, diimbau kepada seluruh masyarakat muslim yang terdampak untuk menggalakkan pelaksanaan Shalat Istisqa'.

Berikut adalah tata cara dan panduan melaksanakannya sesuai tuntunan syariat:

Persiapan Sebelum Pelaksanaan (Disunnahkan):

Puasa Tiga Hari: Pemerintah atau pimpinan setempat dianjurkan mengimbau masyarakat untuk berpuasa sunnah selama tiga hari berturut-turut sebelum hari pelaksanaan salat (hari keempat).
Berpakaian Sederhana: Dianjurkan memakai pakaian yang sederhana dan menjauhi kesan mewah.

Sedekah: Perbanyak sedekah kepada fakir miskin dalam perjalanan menuju lokasi salat.

Menyertakan Anak Yatim dan Hewan Ternak: Sebagian ulama menganjurkan membawa anak-anak kecil, orang tua, bahkan hewan ternak ke lokasi salat sebagai bentuk kepasrahan atas segala makhluk yang juga membutuhkan rahmat hujan.

Baca Juga: 3 Miliar Pengguna! Instagram 'Gila-Gilaan' Tambah 1 Miliar Orang dalam 2 Tahun, Ini Dua Rahasia Meta Menjegal TikTok

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa'

Pelaksanaan Shalat Istisqa' dilakukan secara berjamaah di tanah lapang (mirip seperti Salat Id) pada waktu pagi, tanpa didahului azan dan iqamah.

Niat: Niatkan dalam hati dan lisan untuk melaksanakan salat sunnah Istisqa'.
Bacaan Niat (Niat sebagai Makmum):

أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

(Ushalli sunnatal istisqa’i rak‘ataini mustaqbilal qiblati ma’mûman lillâhi ta‘âlâ.)

Artinya: "Saya niat salat sunnah meminta hujan dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala."

Pelaksanaan Salat: Tata cara salatnya sama seperti Salat Idulfitri/Iduladha:

Rakaat Pertama: Setelah takbiratul ihram, lakukan 7 kali takbir tambahan. Dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah, surat, rukuk, sujud, hingga berdiri kembali.

Rakaat Kedua: Setelah berdiri dari sujud rakaat pertama, lakukan 5 kali takbir tambahan. Dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah, surat, rukuk, sujud, tahiyyat, dan salam.

Baca Juga: Ekspor Udang RI Terancam! Skandal Radioaktif Cesium-137 di Cikande Bikin Amerika Serikat Khawatir

Khutbah Istisqa': Setelah salat, Khatib akan menyampaikan dua khutbah (dipisahkan dengan duduk sejenak), serupa dengan Khutbah Idulfitri/Iduladha.

Takbir: Khutbah pertama dimulai dengan 9 kali takbir, dan khutbah kedua dengan 7 kali takbir.

Isi Khutbah: Materi khutbah sangat dianjurkan untuk mengajak umat bertaubat, mengakui dosa, dan memperbanyak istighfar (memohon ampunan).

Doa Memohon Hujan & Membalik Selendang: Bagian paling dramatis dan sakral adalah saat khutbah diakhiri.

Khatib disunnahkan untuk membalikkan badan membelakangi jamaah (menghadap kiblat) dan menukar posisi selendang/sorban di pundaknya (dari kanan ke kiri atau sebaliknya), seraya mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk memanjatkan doa permohonan turun hujan yang penuh khusyuk.

Musibah kekeringan dan polusi adalah ujian yang harus dihadapi dengan ikhtiar lahir dan batin.

Dengan melaksanakan Shalat Istisqa', kita tidak hanya berharap air turun dari langit, tetapi juga mengharapkan ampunan-Nya agar musibah ini segera diangkat, dan Indonesia kembali disirami hujan rahmat yang membawa kesuburan, menghilangkan kekeringan, dan membersihkan udara dari segala polutan.

Semoga Allah SWT mengabulkan permohonan ini, memberikan kesabaran, dan membalas setiap ikhtiar tulus umat-Nya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman