KISAH NYATA: Sepotong Tulang Unta yang Bikin Gubernur Berkuasa Gemetar! Begini Cara Khalifah Umar Tegakkan Keadilan dan Runtuhkan Kezaliman

AKURAT BANTEN – Di tengah hiruk pikuk kekuasaan dan ambisi pembangunan, seringkali hak-hak rakyat kecil terabaikan. Namun, sebuah kisah klasik dari zaman Khalifah Umar bin Khattab mengajarkan tentang keadilan sejati yang melampaui batas jabatan dan agama. Sepotong Tulang Unta yang Bikin Gubernur Berkuasa Gemetar. Begini cara khalifah Umar tegakkan keadilan dan runtuhkan kezaliman.
Kisah ini melibatkan sepotong tulang unta yang, tanpa kata-kata, mampu menggertak seorang gubernur berkuasa dan mengubah takdir seorang warga Yahudi.
Kisah ini berawal ketika seorang warga Yahudi di Mesir mengadu kepada Khalifah Umar perihal rumah dan tanahnya yang terancam digusur oleh Gubernur Mesir, Amr bin Ash. Rencana Amr bin Ash adalah membangun sebuah masjid besar di lokasi gubuk reot milik Yahudi tersebut.
Meskipun telah ditawari ganti rugi dua kali lipat, si Yahudi bersikeras menolak pindah karena tidak punya tempat lain. Karena kebuntuan, Amr bin Ash memutuskan untuk tetap menggusur gubuk itu.
Perjalanan Penuh Harap Cemas ke Hadapan Khalifah
Merasa diperlakukan tidak adil, si Yahudi menangis berurai air mata dan memutuskan untuk melapor kepada khalifah, sosok tertinggi di atas gubernur.
Ia menempuh perjalanan jauh dari Mesir ke Madinah, menyimpan harapan dan juga kecemasan.
"Kalau gubernurnya saja istananya begitu mewah, bagaimana lagi istananya khalifahnya? Kalau gubernurnya saja galak main gusur, apalagi khalifahnya dan saya bukan orang Islam apa ditanggapi jika mengadu?” pikirnya sepanjang jalan, dipenuhi keraguan.
Setibanya di Madinah, ia bertemu dengan seorang pria yang sedang tidur di bawah pohon kurma. Si Yahudi menghampiri dan bertanya, "Bapak tahu di mana Khalifah Umar bin Khattab?"
Orang tersebut menjawab, "Ya, saya tahu."
"Di mana istananya?" tanya si Yahudi lagi.
"Istananya di atas lumpur, pengawalnya yatim piatu, janda-janda tua, orang miskin, dan orang tidak mampu. Pakaian kebesarannya malu dan takwa," jawab pria itu.
Si Yahudi semakin bingung dan bertanya, "Sekarang orangnya di mana, Pak?"
"Ya, di hadapan tuan sekarang," jawab pria itu.
Seketika, si Yahudi gemetar, keringat bercucuran. Ia tidak menyangka bahwa pria sederhana di depannya adalah Khalifah Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang sangat berbeda dengan gambaran gubernur yang ia temui di Mesir.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Berdarah 10 Muharram, Tragedi Karbala yang Menggetarkan Dunia Islam
Sepotong Tulang dan Sebuah Pesan Tajam
Sayyidina Umar kemudian bertanya, "Kamu dari mana dan apa keperluanmu?" Si Yahudi pun menceritakan panjang lebar perlakuan Gubernur Amr bin Ash yang akan menggusur gubuk reotnya.
Setelah mendengarkan cerita itu, Khalifah Umar tidak mengeluarkan perintah lisan yang panjang. Ia hanya menyuruh si Yahudi mengambil sepotong tulang unta dari tempat sampah di dekat situ.
Lalu, Umar mengambil pedangnya, menggariskan tulang tersebut lurus dengan ujung pedangnya, dan menyuruh si Yahudi untuk memberikannya kepada Gubernur Amr bin Ash
Si Yahudi semakin bingung, namun ia menuruti perintah Khalifah Umar.
Sesampai di Mesir, ia langsung menyampaikan pesan Sayyidina Umar dengan memberikan sepotong tulang bergaris itu kepada Gubernur Amr bin Ash.
Melihat tulang itu dan garis lurus bekas pedang, Amr bin Ash seketika gemetar, badannya mengeluarkan keringat dingin.
Ia langsung menyuruh kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk Yahudi tadi.
Amr bin Ash berkata pada Yahudi itu, "Ini nasihat pahit buat saya dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab.
Seolah-olah beliau bilang, 'Hai Amr bin Ash, jangan mentang-mentang lagi berkuasa, pada suatu saat kamu akan jadi tulang-tulang seperti ini. Maka mumpung kamu masih hidup dan berkuasa, berlaku lurus dan adillah kamu seperti lurusnya garis di atas tulang ini. Lurus, adil, jangan bengkok, sebab kalau kamu bengkok maka nanti aku yang akan luruskan dengan pedangku.'"
Baca Juga: Dua Jamaah Haji Asal Aceh Wafat, Total Meninggal Jadi 12 Orang
Keadilan yang Menggetarkan Hati dan Mengubah Kehidupan
Singkat cerita, setelah melihat langsung keadilan yang dicontohkan Sayyidina Umar tersebut, hati si Yahudi tersentuh.
Akhirnya, ia menghibahkan gubuknya untuk kepentingan pembangunan masjid, dan yang lebih luar biasa, ia pun masuk Islam karena terpukau oleh keadilan mutlak dari Umar bin Khattab.
Kisah ini, yang diceritakan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren (2013) dan KH Abdurrahman Arroisi dalam 30 Kisah Teladan (1989), menjadi cerminan bagaimana kepemimpinan yang berlandaskan keadilan, ketegasan, dan kesederhanaan mampu menembus batas-batas sosial dan keyakinan.
Doktrin Sayyidina Umar, "Sampai kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?" bahkan disebut-sebut menginspirasi perjuangan para kiai dan ulama Indonesia dalam mengusir penjajah.
Sebuah pengingat abadi bahwa kekuasaan sejati adalah tentang melayani dengan adil, bukan berbuat sewenang-wenang (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 3Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 4Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 5Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 6Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 7Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 8Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 9Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 10Sidang Gibran di MK Bikin Terkejut, KPU Akui Tak Cek Langsung Dokumen Pendidikan





