Banten

Kisah Teladan Khalifah Umar Bin Khattab, Tolak Anaknya Jadi Kepala Negara

Saeful Anwar | 26 Januari 2024, 07:06 WIB
Kisah Teladan Khalifah Umar Bin Khattab, Tolak Anaknya Jadi Kepala Negara

AKURAT BANTEN - Umar bin Khattab, adalah Khalifah Rasyidin kedua, yang memerintah dari Agustus 634 hingga pembunuhannya pada tahun 644.

Ia menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq (m. 632–634) sebagai khalifah kedua Kekhalifahan Rasyidin pada tanggal 23 Agustus 634.

Umar adalah sahabat senior dan ayah mertua dari Nabi Muhammad SAW. Ia juga seorang ahli hukum Muslim yang dikenal karena sifatnya yang saleh dan adil, yang membuatnya mendapatkan julukan al-Fārūq (“pembeda”).

Umar adalah khalifah pertama yang menyandang gelar Amirul Mukminin, gelar yang kemudian menjadi standar para khalifah setelahnya.

Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu, tahu benar bagaimana beratnya tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, seperti dilansir dari laman Rejogja.co.id, Jum’at (26/01/2024)

Karena itu sahabat Rasulullah Shalallahu Alahi Wassalam, tersebut ketika sedang sekarat usai ditikam seorang Majusi dari Persia, melarang anak-anaknya untuk menjadi penerusnya sebagai pemimpin alias khalifah.

Seperti dinukil dari Sejarah Umat Islam karya Prof Hamka (Buya Hamka), Umar saat sekarat dan hendak meninggal dunia memberikan arahan kepada kaum Muslimin soal pemilihan khalifah penggantinya.

Saat itu beberapa sahabat yang hadir mendengarkan wasiat Umat, menyarankan kepada khalifah kedua tersebut untuk memilih anaknya, Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu sebagai penggantinya sebagai khalifah.

"Ya Amirul Mukminin, anak paduka itu lebih layak menerima jabatan khalifah ini, jadikan sajalah dia menjadi khalifah, kami akan menerimanya," kata sebagian Muslimin pada saat itu.

Bukannya mendorong anaknya maju menjadi khalifah, Umar justru langsung menolak. "Tidak ada kaum keturunan Al Khattab hendak mengambil pangkat khalifah ini untuk mereka, Abdullah tidak akan turut memperebutkan pangkat ini."

Setelah itu, Umar bin Khattab menoleh ke arah Abdullah bin Umar, anaknya. "Anakku Abdullah, sekali-kali jangan, sekali-kali jangan engkau mengingat-ingat hendak mengambil jabatan ini!"

"Baiklah ayah," jawab Abdullah bin Umar.

Wasiat dari ayahnya ini, dipatuhi Abdullah bin Umar, hingga akhirnya Utsman bin Affan terpilih menjadi pengganti Umar.

Sampai kepada masa perebutan khalifah di antara Ali Bin Abi Thalib dan Muawiyah, Abdullah bin Umar menjadi sosok yang netral.

Seperti dalam riwayat sebelumnya dari laman id.wikipedia.org, selama masa pemerintahan Umar, kekhalifahan berkembang pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, menguasai Kekaisaran Sasaniyah dan lebih dari dua pertiga Kekaisaran Bizantium (**)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.