Banten

Opini: Sekolah Rakyat, Harapan Baru atau Tantangan Implementasi?

Saeful Anwar | 4 Februari 2026, 15:27 WIB
Opini: Sekolah Rakyat, Harapan Baru atau Tantangan Implementasi?

AKURAT BANTEN-Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Sekolah Rakyat, terobosan di bidang pendidikan yang digadang-gadang sebagai solusi untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif, terutama bagi masyarakat kurang mampu dan wilayah dengan keterbatasan layanan pendidikan formal.

Sekolah Rakyat dirancang dengan “boarding school” yang lebih fleksibel, kontekstual, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Konsepnya menekankan pada pendidikan dasar yang berorientasi pada penguatan literasi, numerasi, karakter, serta keterampilan hidup (life skills).

Program ini juga diharapkan mampu menjangkau anak-anak yang selama ini berada di luar sistem sekolah formal.

Baca Juga: HEBOH! Kisah Pilu Hanya Karena Buku Tulis, Bocah SD di NTT Pilih Pergi Selamanya: 'Mama, Jangan Cari Saya Lagi!'

Kehadiran Sekolah Rakyat diproyeksikan mampu menekan angka putus sekolah serta memberikan kesempatan belajar yang lebih adil.

Memang Sekolah Rakyat membawa harapan baru yang dapat memberi jawaban atas kesenjangan pendidikan yang masih terjadi, baik antarwilayah maupun antarkelompok sosial.

Namun, tantangan implementasi tidak bisa dianggap ringan. Yang menjadi persoalan utama adalah kesiapan sumber daya manusia, terutama guru sebagai pendidik.

Tanpa guru yang terlatih dan memiliki pemahaman yang sama terhadap konsep Sekolah Rakyat, kualitas pembelajaran dikhawatirkan tidak merata.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ganti Kurikulum, Inilah Wajah Baru Regenerasi Pendidikan Indonesia 2026!

Demikian pula dengan aspek regulasi dan pengakuan ijazah juga menjadi perhatian.

Kejelasan status Sekolah Rakyat dalam sistem pendidikan nasional dinilai penting agar lulusannya tidak mengalami kendala dalam melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja.

Sinkronisasi dengan kurikulum nasional serta sistem evaluasi pembelajaran menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

Begitu juga dengan aspek pendanaan dan pengawasan program. Jika tidak diiringi dengan tata kelola yang transparan dan berkelanjutan, Sekolah Rakyat berisiko menjadi program jangka pendek yang sulit berkembang.

Baca Juga: Sisa Kuota Tak Lagi Hangus! Telkomsel Rilis Fitur Akumulasi, Ini Cara Pakai dan Daftar Paketnya

Pemerataan fasilitas, sarana belajar, dan dukungan teknologi juga menjadi faktor penentu keberhasilan.

Diharapkan Sekolah Rakyat kedepannya tidak berada di persimpangan antara harapan besar dan tantangan nyata.

Program ini berpotensi menjadi tonggak penting transformasi pendidikan Indonesia jika dijalankan secara konsisten, terukur, dan berorientasi pada mutu.

Namun tanpa perencanaan matang dan pengawasan berkelanjutan, Sekolah Rakyat bisa menghadapi risiko yang sama seperti berbagai program pendidikan sebelumnya (**)

Sumber: Abdul Marta Nurdin, ST.MPd, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1, Kota Tangerang Selatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman