Banten

Ketika Masyarakat menjadi Kelas Tanpa Dinding

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 27 November 2025, 10:06 WIB
Ketika Masyarakat menjadi Kelas Tanpa Dinding

AKURAT BANTEN - Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga terjadi dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan sehari-hari melalui pengalaman, interaksi, serta pembiasaan yang membentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan setiap aspek kehidupan manusia. Filosofi Ki Hajar Dewantara (1935), bahwa pendidikan dimana saja dan pentingnya keteladanan.

Masyarakat berfungsi sebagai “kelas tanpa dinding”, tempat anak belajar melalui interaksi nyata, mengamati perilaku, memahami nilai, serta mengembangkan kemampuan sosial yang tidak selalu diperoleh di sekolah, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna bagi perkembangan pengetahuan dan kepribadian setiap anak.

Menurut Lickona (1991), bahwa dukungan lingkungan sosial sangat penting dalam pendidikan. Nilai hidup seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab lebih efektif dipelajari melalui pengalaman sehari-hari, karena interaksi dan situasi nyata mengajarkan anak memahami dan menerapkan prinsip tersebut secara langsung.

Baca Juga: Sumut Mencekam! Akses Sibolga-Tapteng Lumpuh, Korban Jiwa Capai 34: Bantuan Logistik Diangkut Hercules!

UNESCO (2015) menyebutkan tentang pentingnya peran komunitas dan masyarakat dalam membangun pendidikan yang holistik. Apa yang dilihat anak dalam masyarakat seringkali lebih mempengaruhi perilaku mereka dibanding materi di kelas.

Pengalaman nyata, teladan orang sekitar, serta interaksi sosial sehari-hari membentuk kebiasaan, sikap, dan nilai anak secara langsung, sehingga pembelajaran di masyarakat menjadi sangat penting untuk perkembangan karakter dan perilaku mereka.

Keteladanan sosial berperan sebagai guru terbesar bagi anak. Figur publik, tokoh masyarakat, orangtua, tetangga, hingga teman sebaya memiliki peran penting sebagai model perilaku bagi anak. Anak mengamati dan meniru tindakan mereka, baik positif maupun negative.

Baca Juga: EKSKLUSIF: Gelombang Jutaan Jemaah Ijtima Ulama Mulai Padati Merak, Polda Lampung Siagakan 1.612 Personel!

Dampak positifnya meliputi: anak belajar nilai sosial, empati, tanggung jawab, toleransi, dan keterampilan hidup melalui pengalaman nyata serta interaksi sehari-hari.

Dampak negatifnya muncul jika lingkungan memberi teladan buruk, seperti perundungan, intoleransi, kebiasaan buruk, atau perilaku tidak disiplin, yang dapat membentuk sikap negatif dan merusak karakter anak.

Efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas interaksi dan contoh yang diberikan oleh masyarakat.

Tantangan masyarakat dalam menjadi kelas yang mendidik cukup kompleks. Masyarakat harus mampu memberikan teladan positif agar anak meniru perilaku baik, sekaligus mengatasi fenomena negatif seperti perundungan, intoleransi, dan kebiasaan merugikan.

Baca Juga: Imigrasi Tangerang Amankan 10 WNA Diduga Investor Bodong, Perusahaan Penjamin Tak Miliki Kegiatan Usaha

Konsistensi penerapan norma, etika, dan nilai sosial menjadi kunci agar anak dapat belajar secara efektif. Selain itu, pengaruh negatif media sosial dan perbedaan budaya, pandangan, atau latar belakang masyarakat juga menjadi hambatan.

Hambatan lainnya, minimnya ruang publik yang aman dan ramah anak membatasi kesempatan mereka belajar bersosialisasi, berinteraksi, dan meniru perilaku positif.

Juga kurangnya budaya kolektif di masyarakat sebagai kelas membuat anak sulit belajar kerja sama, empati, dan tanggung jawab sosial.

Misalnya, di lingkungan yang jarang gotong royong atau saling membantu tetangga, anak sulit meniru nilai kebersamaan, sehingga sikap individualistis lebih dominan dibanding solidaritas sosial.

Baca Juga: Mantan Karyawan PT MCP Laporkan PHK Sepihak ke Disnaker Tangerang

Selanjutnya, kurangnya koordinasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat melemahkan proses pendidikan anak. Misalnya, jika sekolah menekankan disiplin tetapi keluarga dan lingkungan tidak mendukung, anak akan bingung meniru perilaku positif.

Sinergi antar pihak diperlukan agar nilai, norma, dan keterampilan sosial dapat ditanamkan secara konsisten dan efektif. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri karena pendidikan anak tidak hanya terbatas pada penguasaan materi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, nilai, dan keterampilan sosial.

Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat diperlukan agar pendidikan menjadi menyeluruh, kontekstual, dan efektif dalam membentuk kepribadian anak.

Baca Juga: Syuriyah PBNU Resmi Copot Gus Yahya, Kepemimpinan Sementara Berada di Tangan Rais Aam

Sekolah memiliki keterbatasan, seperti waktu tatap muka yang terbatas dan beban kurikulum yang padat, sehingga sulit membahas nilai sosial, karakter, dan keterampilan hidup secara menyeluruh.

Ketidaksinkronan antara nilai yang diajarkan di sekolah dan realita masyarakat dapat membingungkan anak, menyebabkan perilaku negatif, menurunnya disiplin, dan kesulitan menginternalisasi nilai-nilai moral, sehingga pendidikan formal kurang efektif membentuk karakter yang konsisten.

Pendidikan moral dan karakter akan gagal jika lingkungan sosial tidak mendukung, karena anak belajar dari pengalaman dan teladan sehari-hari.

Baca Juga: Usai Prabowo Terbitkan Rehabilitasi, KPK Tegaskan Penanganan Kasus Ira Puspadewi Bukan Lagi Kewenangannya

Jika masyarakat memberi contoh buruk, seperti perundungan, intoleransi, atau ketidakdisiplinan, nilai-nilai positif yang diajarkan di sekolah sulit diinternalisasi dan diterapkan dalam kehidupan nyata.

Membangun masyarakat sebagai kelas tanpa dinding berarti menciptakan lingkungan yang mendidik, aman, dan positif, di mana anak belajar nilai, etika, dan keterampilan hidup melalui interaksi nyata, teladan, serta partisipasi aktif dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Upaya kolektif untuk menciptakan lingkungan sosial yang mendidik melibatkan kerja sama antara keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan warga.

Revitalisasi kegiatan komunikasi, seperti Karang Taruna dan program literasi kampung, memperkuat interaksi sosial, menanamkan nilai positif, dan membentuk karakter anak melalui partisipasi aktif, diskusi, serta kolaborasi dalam kegiatan yang mendidik dan bermakna.

Keteladanan sosial dari orangtua dan tokoh masyarakat sangat penting dalam membentuk karakter anak. Anak belajar meniru sikap, perilaku, dan nilai yang mereka amati. Orangtua yang disiplin, jujur, dan peduli serta tokoh masyarakat yang bertanggung jawab dan toleran menjadi contoh nyata.

Dengan teladan ini, anak mampu menginternalisasi nilai moral, empati, dan tanggung jawab, sehingga pendidikan karakter tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Baca Juga: KONTROVERSIAL! Prabowo Beri Rehabilitasi Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi, KPK & Publik Sorot Kejanggalan Vonis Korupsi

Kolaborasi antara sekolah, warga, dan pemerintah lokal penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendidik.

Sinergi ini memastikan penerapan nilai, pengawasan perilaku, serta penyediaan fasilitas dan program yang mendukung perkembangan karakter anak secara optimal.

Pendidikan terbaik tercapai ketika sekolah dan masyarakat bersinergi. Sadarlah bahwa semua anggota masyarakat adalah pendidik, baik disadari maupun tidak. Setiap tindakan, ucapan, dan teladan kita membentuk karakter anak.

Mari bersama menghadirkan perilaku positif agar lingkungan sosial benar-benar menjadi ruang belajar yang mendidik dan menginspirasi.

Baca Juga: Bunuh Diri di Ruang Konseling Polres, Polisi Beberkan Kronologi Kematian Ayah Tiri Alvaro saat Jalani Pemeriksaan

Harapannya, dengan menjadikan masyarakat sebagai kelas tanpa dinding, generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berempati, dan bertanggung jawab.

Melalui teladan positif, ruang sosial yang mendidik, serta interaksi yang bermakna, anak-anak dapat berkembang menjadi generasi yang siap membangun masa depan yang lebih baik.

Artikel ini ditulis oleh: Amaliyah, Kepakaran Pendidikan – Universitas Pamulang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.