Banten

Darurat Sepak Bola Dunia! Tagar 'InfantinoOut' Menggema, Suporter Kompak Desak Presiden FIFA Mundur

Abdurahman | 21 Agustus 2026, 19:37 WIB
Darurat Sepak Bola Dunia! Tagar 'InfantinoOut' Menggema, Suporter Kompak Desak Presiden FIFA Mundur
Foto Ilustrasi: Tagar #InfantinoOut Menggema, Suporter Kompak Desak Presiden FIFA Mundur (Istimewa)

AKURAT BANTEN-Dunia sepak bola kini berada di titik didih. Sebuah gelombang perlawanan dari akar rumput meluas secara global, menuntut pertanggungjawaban di kursi tertinggi otoritas sepak bola dunia.

Krisis kepercayaan di tubuh FIFA mencapai puncaknya. Tagar #InfantinoOut bukan sekadar tren media sosial sesaat, melainkan simbol perlawanan nyata dari ribuan kelompok suporter di berbagai belahan dunia yang kini bersatu untuk mendesak Gianni Infantino lengser dari kursi Presiden FIFA.

Baca Juga: Aksi Keji Begal di Palembang Renggut Nyawa Mahasiswi, Warga Desak Pelaku Segera Ditangkap!

'Pengkhianatan' yang Mengusik Nurani Sepak Bola

Pemicu utama kemarahan global ini bermula dari upaya Infantino yang mencoba menjual keuntungan masa depan Piala Dunia kepada investor swasta melalui pembentukan entitas komersial baru.

Meskipun rencana tersebut akhirnya dibatalkan di bawah tekanan berbagai pihak, kepercayaan publik telah telanjur runtuh.

Bagi para suporter, sepak bola bukan sekadar komoditas dagang, melainkan warisan budaya yang tak boleh dijual demi kepentingan pribadi atau korporasi.

Kekecewaan mendalam ini tertuang jelas dalam petisi yang diluncurkan oleh aliansi suporter lintas benua.

Upaya memalukan yang dilakukan oleh satu individu—Presiden FIFA sendiri—untuk menjual Piala Dunia kepada investor swasta telah mengungkap pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan oleh dunia sepak bola.

Pernyataan keras di atas menjadi cerminan bagaimana suporter merasa dikhianati oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindung integritas olahraga paling populer di planet ini.

Baca Juga: Isu Demo 27 Agustus, Bamus Betawi Warning Warga Pati agar Tak Terprovokasi Masuk Jakarta

Krisis Tata Kelola dan Kesenjangan dengan Fans

Petisi #InfantinoOut yang melibatkan Football Supporters Europe, Football Supporters Africa, hingga Independent Supporters Council Amerika Utara, juga menyoroti kegagalan struktural FIFA.

Beberapa poin krusial yang digugat oleh para suporter antara lain:

  • Sentralisasi Kekuasaan: Kepemimpinan Infantino dinilai menunjukkan kegagalan tata kelola demokratis, dengan minimnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.

  • Kebijakan Komersial yang Brutal: Mulai dari dukungan pada proyek European Super League, wacana Piala Dunia dua tahunan, hingga mahalnya harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap memberatkan suporter kelas pekerja.

  • Pengabaian Suara Rakyat: FIFA dituding secara konsisten tidak melibatkan kelompok suporter sebagai pemangku kepentingan utama sebelum menetapkan kebijakan strategis.

Baca Juga: Panas! Kubu Roy Suryo Tunjukkan Ijazah Pembanding, Ungkap Perbedaan Mencolok yang Bikin Kaget

Posisi Infantino di Ujung Tanduk

Tekanan ini semakin mempersempit ruang gerak Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027.

Dukungan dari organisasi besar mulai retak. UEFA secara terbuka telah menyatakan ketidakpercayaan, sementara Federasi Sepak Bola Inggris (FA) pun mengambil langkah tegas dengan menarik dukungannya.

Meski Infantino masih memiliki basis pendukung di antara sebagian asosiasi anggota FIFA, gelombang #InfantinoOut telah mengirimkan pesan yang tidak bisa diabaikan: Dunia sepak bola menginginkan perubahan total.

Sekarang, bola berada di tangan para pemangku kepentingan.

Apakah Infantino akan bertahan dengan dukungan politis yang mulai rapuh, ataukah ia akan tunduk pada suara suporter yang menuntut "FIFA yang baru" demi menyelamatkan martabat sepak bola dunia?

Satu hal yang pasti, sejarah akan mencatat periode ini sebagai momen di mana para suporter dunia bangkit untuk merebut kembali sepak bola dari tangan-tangan yang dianggap hanya mengejar profit di atas lapangan hijau.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman