Korea Selatan Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Presiden Turun Tangan dan Desak Investigasi Total

AKURAT BANTEN - Langkah Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 harus terhenti lebih cepat dari yang diharapkan.
Kegagalan melaju ke babak 32 besar tak hanya mengecewakan jutaan pendukung Taeguk Warriors, tetapi juga memicu reaksi langsung dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat sekaligus meminta dilakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kegagalan tersebut.
Korea Selatan sebenarnya mengawali turnamen dengan cukup menjanjikan setelah meraih kemenangan atas Republik Ceko pada laga pembuka Grup A. Namun, harapan itu perlahan memudar setelah mereka menelan dua kekalahan beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan.
Hasil tersebut membuat Korea Selatan finis di peringkat ketiga grup, tetapi gagal masuk dalam delapan tim peringkat ketiga terbaik yang berhak melaju ke babak 32 besar.
Baca Juga: Rekor Gary Lineker Akhirnya Lewat! Respons Sang Legenda untuk Harry Kane Bikin Salut
Hasil itu jauh dari ekspektasi publik. Mengingat materi pemain yang dimiliki, banyak pihak sebelumnya menilai Korea Selatan memiliki peluang besar untuk lolos dari fase grup. Karena itu, tersingkirnya Son Heung-min dan kawan-kawan menjadi salah satu kejutan terbesar pada fase grup Piala Dunia 2026.
Presiden Lee Jae Myung tidak menutupi rasa kecewanya. Melalui pernyataan yang dipublikasikan di media sosial, ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat sekaligus melontarkan kritik keras terhadap tata kelola sepak bola nasional.
"Saya bukan hanya terkejut, tetapi benar-benar bingung dengan hasil ini," ucap Lee.
Ia menilai kegagalan tersebut bukan semata-mata disebabkan performa pemain di lapangan, melainkan juga berkaitan dengan persoalan kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan di tubuh sepak bola Korea Selatan.
Baca Juga: PSG dan Real Madrid Rajai Piala Dunia 2026! Inilah Daftar Klub Paling Tajam di Fase Grup
"Sekali lagi terbukti bahwa keputusan dalam penunjukan personel adalah segalanya. Ketika kedekatan lebih diutamakan daripada kompetensi, hasilnya sudah jelas," ujar Lee.
Presiden kemudian meminta Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap penyebab kegagalan tim nasional. Pemerintah juga diminta menyusun langkah perbaikan agar situasi serupa tidak kembali terulang pada masa mendatang.
Sorotan terbesar mengarah kepada pelatih Hong Myung-bo, yang sejak penunjukannya pada 2024 memang sudah menuai kontroversi.
Sejumlah media Korea sebelumnya mempertanyakan proses penunjukan Hong yang dianggap kurang transparan. Setelah kegagalan di Piala Dunia, kritik dari suporter semakin deras. Sebuah petisi yang meminta pencopotannya bahkan dengan cepat memperoleh dukungan publik dalam jumlah besar.
Baca Juga: Argentina vs Tanjung Verde: Duel Raksasa dan Debutan yang Mengejutkan di Piala Dunia
Tak lama setelah Korea Selatan dipastikan tersingkir, Hong Myung-bo akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala.
Dalam pernyataannya, ia mengaku bertanggung jawab penuh atas hasil yang diraih tim dan menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung.
Sebelumnya, legenda sepak bola Korea Selatan, Park Ji-sung, juga sempat mengkritik performa tim usai kekalahan dari Afrika Selatan.
Menurut mantan gelandang Manchester United itu, Korea Selatan tampil tanpa identitas permainan yang jelas dan memperlihatkan kelemahan yang mengingatkan pada kegagalan mereka di Piala Dunia 2014.
Kegagalan kali ini menjadi pukulan telak bagi sepak bola Korea Selatan yang dalam dua dekade terakhir dikenal sebagai salah satu kekuatan utama Asia.
Baca Juga: Resmi! 32 Tim Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026, Ada Kejutan Besar dan Raksasa yang Tumbang
Negara tersebut pernah mencatat sejarah dengan menembus semifinal Piala Dunia 2002 dan secara konsisten menjadi peserta tetap putaran final. Karena itu, tersingkir di fase grup dianggap sebagai kemunduran yang harus segera dievaluasi.
Kini perhatian publik Korea Selatan tertuju pada langkah reformasi yang dijanjikan pemerintah dan federasi sepak bola. Selain mencari pelatih baru, evaluasi terhadap sistem pembinaan, proses pemilihan pelatih, hingga tata kelola federasi diperkirakan akan menjadi agenda utama.
Di tengah kekecewaan besar yang menyelimuti negeri Ginseng, satu harapan tetap mengemuka, yaitu membangun kembali tim nasional yang lebih kuat agar mampu bangkit dan kembali bersaing di panggung sepak bola dunia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 7Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 8Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'










