Banten

FIFA vs UEFA Memanas Jelang Pemilihan Presiden 2027, Sengketa Investasi FFE Jadi Sorotan

Viona Sebastian Nolani | 30 September 2026, 12:40 WIB
FIFA vs UEFA Memanas Jelang Pemilihan Presiden 2027, Sengketa Investasi FFE Jadi Sorotan
Presiden FIFA Gianni Infantino. - instagram/@gianni_infantino

AKURAT BANTEN - FIFA meminta pengadilan Amerika Serikat menolak permohonan UEFA untuk mengumpulkan bukti mengenai rencana investasi yang akhirnya dibatalkan.

Perselisihan antara FIFA dan UEFA tersebut terus berlanjut ketika pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027 semakin dekat.

Menurut laporan media internasional, FIFA dalam dokumen yang diajukan ke Pengadilan Distrik Federal untuk Distrik Selatan Florida pada 29 September menyebut UEFA telah menyebarkan sejumlah informasi yang dianggap palsu atau menyesatkan mengenai organisasi tersebut dan presidennya, Gianni Infantino.

Permohonan FIFA itu diajukan setelah UEFA meminta izin pengadilan AS untuk memperoleh kesaksian serta sejumlah dokumen yang akan digunakan sebagai bahan pendukung rencana pengajuan pengaduan pidana terhadap Infantino di Swiss.

Baca Juga: Manchester City Terancam Degradasi? 114 Dakwaan Pelanggaran FFP Mulai Terungkap

Sengketa tersebut berkaitan dengan proposal pengalihan hak komersial Piala Dunia kepada anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise (FFE), sebelum saham perusahaan itu ditawarkan kepada investor.

FIFA kemudian membatalkan rencana tersebut pada Juli 2026.

UEFA menilai Infantino bersama sejumlah kecil penasihat dan investor menyusun proposal tersebut tanpa melibatkan Dewan FIFA, federasi kontinental, maupun federasi anggota sebagaimana prosedur yang berlaku.

Dalam permohonannya kepada pengadilan, UEFA meminta bukti dari dua entitas FIFA yang berbasis di Florida, yakni FIFA (AMERIKA) dan FWC2026 AS.

Baca Juga: Inggris Hajar Republik Ceko 2-0 di Nations League, Kartu Merah Jadi Titik Balik

FIFA membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa proposal FFE tidak dapat dijalankan tanpa persetujuan federasi anggota serta Dewan FIFA.

FIFA juga menyatakan kedua pihak tersebut nantinya akan terlibat dalam proses pengawasan terhadap perusahaan tersebut.

Menurut FIFA, tuduhan bahwa Infantino melanggar hukum, aturan etika, ataupun berusaha memperoleh keuntungan pribadi tidak memiliki dasar.

Persoalan lain yang menjadi perhatian dalam sengketa ini adalah mengenai valuasi FFE.

Dalam dokumen yang diajukan UEFA, para investor disebut diperkirakan membayar $4,2 miliar untuk memperoleh saham perusahaan berdasarkan valuasi ekuitas sekitar $20 miliar.

UEFA berpendapat angka tersebut terlalu rendah jika dibandingkan dengan nilai hak komersial FIFA, sementara proses penawaran juga disebut belum dilakukan melalui lelang terbuka maupun penilaian independen.

FIFA kembali membantah klaim tersebut dan mengatakan UEFA keliru dalam membedakan nilai ekuitas dengan nilai keseluruhan perusahaan.

Menurut FIFA, angka $20 miliar merupakan nilai yang menjadi hak pemegang saham setelah kewajiban perusahaan dikurangi.

FIFA juga menyatakan dokumen yang diberikan kepada federasi anggota memperlihatkan bahwa nilai keseluruhan FFE sebenarnya jauh lebih besar dari angka tersebut.

Proposal FFE sebelumnya mendapat penolakan dari sejumlah federasi kontinental, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia, terutama karena persoalan konsultasi dalam proses penyusunannya.

Dalam perkembangan terbaru, Bapak Infantino mengirim surat kepada seluruh 211 federasi anggota FIFA dan mengusulkan adanya peninjauan independen terhadap proses pengambilan keputusan organisasi tersebut.

FIFA dalam pernyataan terbarunya turut menuduh UEFA memanfaatkan dokumen hukum untuk memengaruhi proses pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.

Hingga kini, pengadilan Amerika Serikat belum memberikan kesimpulan akhir terkait perselisihan antara FIFA dan UEFA tersebut.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.