Bukan Sekadar Lauk, Jamur Ternyata Punya Kandungan Protein hingga 35 Persen

AKURAT BANTEN - Jamur selama ini banyak dikenal sebagai bahan makanan yang lezat, praktis diolah, dan mudah ditemukan dalam berbagai hidangan.
Namun, di balik bentuknya yang sederhana, jamur memiliki kandungan gizi dan senyawa aktif yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional.
Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan, menyebut jamur rata-rata memiliki kandungan protein 19-35%, vitamin dan mineral, serta serat sekitar 7,4-24,6%.
Dalam podcast Kelas Periset BRIN yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, Rabu (16/9), Iwan menjelaskan bahwa hanya sebagian kecil dari sekitar 10 ribu jenis jamur di dunia yang aman untuk dikonsumsi.
Baca Juga: Cole Palmer Lagi-Lagi Tak Bisa Bela Inggris, Begini Respons Thomas Tuchel
“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujarnya.
Menurut Iwan, jamur pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat merupakan tubuh buah dari kelompok jamur makroskopis.
Jamur tidak mempunyai klorofil sehingga tidak mampu membuat makanan sendiri seperti tumbuhan hijau.
Untuk memperoleh nutrisi, jamur menghasilkan enzim yang berfungsi memecah senyawa kompleks di lingkungan menjadi bentuk sederhana yang kemudian dapat diserap.
Baca Juga: Gol Kemenangan Berujung Petaka, Mbappé Cedera dan Harus Pulang ke Madrid: Ada Apa dengan Lututnya?
Kandungan gizi yang cukup tinggi membuat jamur memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan pangan bernilai tambah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Iwan menyebut kandungan protein rata-rata jamur mencapai 19-35%, lebih tinggi dibandingkan beras yang sekitar 7,38% dan gandum sebesar 13,2%.
Jamur juga memiliki sekitar sembilan jenis asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
Selain itu, sekitar 72% kandungan lemak pada jamur merupakan lemak tidak jenuh.
Tidak hanya mengandung protein, jamur juga menjadi sumber berbagai vitamin dan mineral.
Iwan menjelaskan bahwa sejumlah vitamin yang terdapat dalam jamur antara lain vitamin B1, B2, niasin, dan biotin.
Sementara itu, mineral yang terkandung di dalamnya meliputi kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga.
“Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6% juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah,” imbuhnya.
Salah satu jamur yang telah lama dikenal dan banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram atau Pleurotus sp.
Iwan menerangkan bahwa jamur tiram memiliki kandungan protein sekitar 19-30%, karbohidrat 50-60%, asam amino, vitamin B, vitamin C, serta beragam mineral.
Mineral tersebut di antaranya kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, dan seng.
Jamur tiram juga memiliki kandungan pleuran yang menjadi salah satu senyawa menarik dalam pengembangan jamur sebagai pangan fungsional.
Pleuran merupakan senyawa gula sederhana yang disebut mempunyai aktivitas antioksidan.
“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.
Selain jamur tiram, jamur kuping juga termasuk jenis jamur kayu yang cukup banyak dibudidayakan di Indonesia.
Masyarakat Indonesia juga telah memanfaatkan sejumlah jenis jamur yang tumbuh secara alami di lingkungan sekitar.
Beberapa di antaranya adalah jamur bulan atau Termitomyces sp., jamur grigit atau Schizophyllum commune, dan jamur pelawan atau Heimioporus sp.
Keanekaragaman jamur tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatannya dapat dikembangkan lebih luas dan tidak hanya sebatas sebagai bahan pangan.
Kekayaan biodiversitas Indonesia juga membuka peluang pengembangan jamur melalui bioprospeksi.
Bioprospeksi merupakan upaya menggali potensi sumber daya hayati untuk menghasilkan produk serta manfaat baru yang memiliki nilai bagi masyarakat.
Iwan mencontohkan penggunaan jamur tiram untuk membantu penanganan gizi buruk pada balita yang dilakukan oleh seorang bidan desa bernama Sunarti.
Sunarti merupakan penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan.
Dalam penerapannya, jamur tiram diolah menjadi berbagai jenis makanan yang diberikan kepada balita.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa jamur dapat diolah menjadi bahan pangan yang fleksibel untuk berbagai kebutuhan dan kelompok usia.
Ke depan, Iwan menilai Indonesia perlu meningkatkan penguasaan ilmu mengenai jamur atau mushroom science agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara lebih terarah.
Kerja sama antara peneliti, industri budidaya jamur, dan perusahaan farmasi juga dinilai penting untuk memperluas pemanfaatan hasil bioprospeksi jamur pangan.
“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkas Iwan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 2Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Jokowi Akhirnya Buka Suara soal Pendidikan Gibran, Singgung Paket C, 'Masa Disuruh Lagi?'
- 5Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 6Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 7Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat
- 8Makin Terbuka! Hakim MK Pertanyakan Verifikasi Dokumen Pendidikan Gibran oleh KPU
- 9Meta Sudah Nonaktifkan 184 Ribu Akun Anak, Meutya Hafid Minta Langkah Lebih Tegas
- 10Microsoft Investasi USD 1,7 Miliar di Indonesia, Ini yang Disiapkan untuk Masa Depan Digital






