Pupuk Silika Terbukti Tingkatkan Produktivitas Bawang Merah, Ini Hasil Penelitian BRIN

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa penerapan pupuk berbasis silika (Si) mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan peningkatan produktivitas bawang merah yang dikembangkan dari true shallot seed (TSS).
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan bahwa kebutuhan bawang merah di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
Namun, tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian adalah sebagian besar petani masih mengandalkan umbi sebagai sumber bahan tanam.
Penggunaan TSS atau benih botani menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Baca Juga: Hiu Berjalan Raja Ampat Terancam, Pariwisata dan Perubahan Iklim Jadi Ancaman Nyata
Dibandingkan benih dari umbi, TSS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kebutuhan benih yang lebih sedikit, proses distribusi yang lebih mudah, masa penyimpanan yang lebih lama, serta peluang menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Meski memiliki potensi besar, pemanfaatan TSS oleh petani masih belum berjalan optimal.
Salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan tanaman yang masih sangat bergantung pada teknik budi daya, sehingga hasil produksi yang diperoleh belum sepenuhnya konsisten.
Arlyna mengungkapkan, penelitian dilakukan melalui pengujian terhadap tiga varietas bawang merah asal TSS, yaitu Sanren, Lokananta, dan Merdeka.
Baca Juga: Prediksi Skor Jerman vs Paraguay: Der Panzer Diunggulkan, tapi Los Guaranies Siap Bikin Kejutan!
Ketiga varietas tersebut diberikan perlakuan pupuk silika dengan dosis berbeda, yakni 0, 5, dan 10 mL per liter.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh silika terhadap penyerapan unsur, struktur daun, perkembangan tanaman, kandungan hara, hingga produktivitas bawang merah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Sanren memiliki respons paling optimal terhadap pemberian pupuk silika.
Pada dosis 10 mL per liter, kandungan silika dalam daun meningkat mencapai 5,39 persen.
Tidak hanya itu, ketebalan lapisan kutikula daun juga mengalami peningkatan sekitar 121 persen dibandingkan tanaman yang tidak memperoleh perlakuan silika.
"Kondisi ini membuat tanaman lebih kuat menghadapi serangan patogen sekaligus meningkatkan efisiensi fotosintesis," jelasnya, Senin (29/6/2026).
Peningkatan kondisi fisiologis tanaman tersebut turut berkontribusi terhadap kenaikan hasil produksi bawang merah.
Jumlah daun meningkat lebih dari dua kali lipat, jumlah anakan bertambah dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, sedangkan jumlah umbi mengalami peningkatan dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman.
Selain itu, ukuran diameter umbi juga bertambah dari 2,31 sentimeter menjadi 2,86 sentimeter.
"Secara keseluruhan, produktivitas varietas Sanren meningkat sekitar 30–70 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi silika," ungkap Arlyna.
Peneliti PRTP BRIN lainnya, Kristamtini, menyebutkan bahwa tingginya kemampuan tanaman dalam menyerap silika tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, tetapi juga berhubungan dengan berkurangnya kandungan logam berat seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun.
"Temuan ini membuka peluang penggunaan pupuk silika tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung kualitas dan keamanan hasil pertanian. Meski demikian, penelitian lanjutan terhadap kandungan logam berat pada umbi masih diperlukan," ungkapnya.
Lebih lanjut, penelitian tersebut membuktikan bahwa keberhasilan penerapan teknologi budi daya bawang merah berbasis TSS juga dipengaruhi oleh pemilihan varietas.
Sanren tercatat sebagai varietas yang paling responsif terhadap aplikasi pupuk silika, sementara Merdeka menunjukkan respons menengah dan Lokananta memiliki tingkat respons yang lebih rendah.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi petani dalam menentukan varietas bawang merah sekaligus menerapkan metode pemupukan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas.
Di samping itu, pemanfaatan TSS juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap benih umbi, sehingga mendukung sistem budi daya bawang merah yang lebih efisien, berkelanjutan, serta memperkuat ketersediaan pasokan bawang merah nasional.
Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara tim peneliti BRIN dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan The University of Queensland.
Hasil kajian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Chilean Journal of Agricultural Research melalui artikel berjudul Use of Si-based Fertilizer Significantly Improves the Performance of 'Sanren' Botanical Seed-derived Shallot.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 4Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6Terungkap! Alasan Jokowi Gabung PSI Mulai Dibaca Pengamat, Ada Tujuan Besarnya Sinyal Politik untuk Kaesang dan Gibran Menuju 2029
- 7MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 8Data Desil Bermasalah, Warga Garut Meninggal di RSUD Dr. Slamet Tanpa Penanganan
- 9Man City Dinyatakan Bersalah, Thomas Tuchel Pilih Diam: Begini Sikapnya kepada Pemain The Citizens di Inggris
- 10Tinggal 21 Gol Lagi! João Félix Sudah Siapkan Misi Khusus untuk Antar Cristiano Ronaldo ke 1.000 Gol









