MSCI Kembali Soroti Pasar Indonesia, Ancaman Dana Rp 211 Triliun Keluar dan Status Turun Makin Nyata

AKURAT BANTEN - Penyedia indeks global MSCI pada Kamis kembali menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai memengaruhi kelayakan investasi di Indonesia.
Lembaga tersebut mengungkapkan kekhawatiran terkait keterbatasan transparansi kepemilikan saham serta indikasi aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.
Kondisi ini menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham Indonesia yang saat ini tercatat sebagai salah satu pasar dengan kinerja terburuk di dunia.
Peringatan tersebut muncul menjelang keputusan penting MSCI pekan depan terkait status pasar Indonesia.
Baca Juga: Kabar Gembira! Ancol, Ragunan, MRT dan TransJakarta Gratis Selama Perayaan HUT Jakarta
MSCI tengah mempertimbangkan kemungkinan menurunkan klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar perbatasan (frontier market), sebuah langkah yang berpotensi memicu arus keluar modal hingga 13 miliar dolar AS.
Pasar modal Indonesia sendiri telah mengalami tekanan sejak Januari lalu ketika MSCI pertama kali menyampaikan kekhawatiran mengenai tingkat transparansi pasar dan membuka kemungkinan penurunan status Indonesia dalam indeks globalnya.
Dalam laporan tinjauan aksesibilitas pasar yang diterbitkan Kamis, MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek aliran informasi menjadi negatif.
Penilaian ini mencerminkan minimnya transparansi terkait data kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan, yang dinilai dapat mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
Baca Juga: Letusan Gunung Semeru Sebabkan Penambang Pasir Luka Bakar 80 Persen, Begini Kronologinya
Selain itu, kondisi tersebut juga membatasi kemampuan investor global dalam menghitung jumlah saham beredar bebas (free float) yang sebenarnya dimiliki perusahaan.
Mohit Mirpuri, manajer dana di SGMC Capital, Singapura, menilai laporan terbaru MSCI masih cukup berimbang dibandingkan kekhawatiran yang berkembang sebelumnya.
Menurutnya, hanya satu indikator aksesibilitas yang mengalami penurunan, sementara Indonesia masih memperoleh penilaian yang relatif baik dibandingkan sejumlah negara lain seperti Korea Selatan, China, dan India dalam beberapa aspek utama.
"Pasar mungkin mencoba membaca tersirat, tetapi poin kuncinya adalah ini bukanlah penurunan luas dalam kerangka aksesibilitas Indonesia," kata Mohit.
"Skenario dasar kami tetap bahwa Indonesia mempertahankan statusnya sebagai Pasar Berkembang," tuturnya.
Kekhawatiran yang disampaikan MSCI pada Januari lalu mendorong pemerintah dan regulator pasar melakukan sejumlah reformasi.
Salah satunya adalah meningkatkan persyaratan minimum saham beredar bebas bagi perusahaan tercatat menjadi 15%.
Langkah tersebut dilakukan di tengah perubahan besar di lingkungan bursa, termasuk pengunduran diri sejumlah petinggi bursa dan regulator dalam satu hari pada Januari.
Pada April, MSCI memutuskan memperpanjang masa peninjauan terhadap pasar Indonesia.
Kemudian pada Mei, lembaga tersebut mengeluarkan enam perusahaan dari indeksnya, sebagian besar terkait kelompok konglomerat besar.
Keputusan itu kembali memicu penurunan signifikan pada harga saham perusahaan terkait.
Jika MSCI benar-benar menurunkan status Indonesia, dampaknya diperkirakan cukup besar.
Sebagai salah satu penyedia indeks terbesar yang menjadi acuan investasi pasif bernilai miliaran dolar, keputusan MSCI akan memaksa berbagai dana pelacak indeks melakukan penjualan saham Indonesia.
Selain itu, manajer investasi aktif yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan juga berpotensi mengurangi porsi investasinya di pasar domestik.
Sorotan MSCI juga memperkuat kekhawatiran yang lebih luas terhadap kondisi ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Sejumlah kebijakan populis serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal telah menekan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Situasi tersebut mendorong bank sentral menaikkan suku bunga dalam beberapa pekan terakhir guna menjaga stabilitas mata uang.
Dalam laporannya, MSCI juga menilai Indonesia belum memiliki pasar valuta asing luar negeri yang efisien.
Di sisi lain, pasar domestik masih menghadapi berbagai hambatan yang dinilai mengurangi efisiensi transaksi.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional Moody's dan Fitch juga telah menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif pada awal tahun ini.
Kedua lembaga tersebut menyoroti menurunnya kredibilitas kebijakan ekonomi di tengah tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia senilai 1,4 triliun dolar AS, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pasar favorit investor global.
Sepanjang tahun 2026, indeks saham acuan Jakarta telah terkoreksi sekitar 29%.
Pada periode yang sama, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih saham Indonesia senilai sekitar 3,65 miliar dolar AS, mencerminkan masih lemahnya kepercayaan pasar terhadap prospek investasi di Indonesia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 6Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 7Golkar Ungkap Alasan Partai Pendukung Tak Turun Bela Gibran di MK, Ini Penjelasannya
- 8Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'









