Banten

Air Keruh Jadi Andalan Bertahan Hidup, Warga Desa Sekumur Bergulat dengan Krisis Pascabanjir

Andi Syafrani | 22 Desember 2025, 14:07 WIB
Air Keruh Jadi Andalan Bertahan Hidup, Warga Desa Sekumur Bergulat dengan Krisis Pascabanjir

AKURAT BANTEN - Kondisi darurat masih membayangi warga Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, menyusul banjir yang belum sepenuhnya surut. Terputusnya akses dan minimnya pasokan air bersih membuat warga berada pada situasi serba terbatas untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Berhari-hari terisolasi, warga harus mengesampingkan rasa khawatir demi bertahan hidup. Air bersih yang biasanya diperoleh dari sumur dan jaringan desa kini tak bisa dimanfaatkan karena tercemar lumpur dan sisa genangan banjir.

Baca Juga: Detik-detik Mencekam Bus Cahaya Trans Terguling di Tol Krapyak: Begini Kesaksian Aviz Ahmad, Penumpang yang Berhasil Selamat

Gambaran getir itu terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial pada Minggu (21/12/2025). Rekaman tersebut memperlihatkan upaya warga memanfaatkan air genangan yang sudah berubah warna demi keperluan memasak.

Dalam video itu, seorang pria terlihat jongkok di tepi genangan air keruh. Dengan jerigen besar, ia mengumpulkan air yang tersisa di sekitar pemukiman, meski jelas tak lagi layak konsumsi.

Ketika ditanya untuk apa air tersebut digunakan, jawabannya singkat namun penuh makna.

“Untuk masak,” ujarnya lirih, seolah menegaskan bahwa situasi telah memaksa mereka mengambil risiko.

Baca Juga: TRAGIS! Bus Cahaya Trans Terguling di Exit Tol Krapyak, 16 Penumpang Tewas

Krisis air bersih menjadi persoalan lanjutan setelah banjir merendam kawasan tersebut. Banyak sumur warga tertutup lumpur, sementara distribusi bantuan air bersih belum menjangkau seluruh rumah karena keterbatasan akses dan medan.

Sebagian warga mengaku telah mencoba menunggu bantuan, namun kebutuhan harian tak bisa ditunda. Air genangan akhirnya menjadi satu-satunya pilihan untuk memasak dan mencuci peralatan dapur.

Kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Air yang tidak higienis berpotensi memicu penyakit kulit, diare, hingga infeksi saluran pencernaan, terlebih di lingkungan pascabanjir yang rentan.

Baca Juga: Bantuan Malaysia Untuk Korban Bencana Sumatra Disebut 'Tak Seberapa', Ucapan Tito Tuai Kontroversi: Dinilai Lukai Etika Diplomasi!

Warga berharap perhatian pemerintah daerah dan pihak terkait segera ditingkatkan. Mereka membutuhkan pasokan air bersih secara rutin, bukan hanya bantuan sesekali, agar aktivitas sehari-hari bisa kembali berjalan aman.

Kisah dari Desa Sekumur menjadi potret nyata dampak lanjutan bencana yang kerap luput dari sorotan. Di tengah proses pemulihan, pemenuhan air bersih bukan sekadar bantuan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga keselamatan dan kesehatan warga.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC