Banten

Jakarta Terancam Tenggelam! Tanggul Pantai Mutiara Sudah :Sejajar' Laut, Warga Elit Hingga Nelayan Histeris

Saeful Anwar | 14 November 2025, 15:59 WIB
Jakarta Terancam Tenggelam! Tanggul Pantai Mutiara Sudah :Sejajar' Laut, Warga Elit Hingga Nelayan Histeris

 

Ketinggian air laut yang terus naik di Pantai Mutiara, Jakarta Utara, memicu kekhawatiran besar. Tanggul setebal 15 cm tak lagi mampu menahan amukan ombak, memunculkan pertanyaan: apakah Jakarta akan benar-benar tenggelam?

 

AKURAT BANTEN-Dalam sepekan terakhir, warga di kawasan elit Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Dilansir dari laman Kompas.com, penyebabnya adalah cuaca buruk yang ekstrem, membuat gelombang laut pasang lebih tinggi hingga hampir menyentuh puncak tanggul yang tingginya hanya sekitar satu meter.

"Ketinggian air laut ini baru-baru ini setinggi ini," ungkap Endang (41), salah seorang warga, Kamis (13/11/2025). "Kalau sejajar, mungkin iya, terutama kalau musim mau hujan."

Kondisi kritis ini membuat air laut kerap "melompat" melewati tanggul, mengubah jalanan perumahan elit menjadi becek dan licin. Namun, yang lebih menakutkan adalah ancaman bencana yang lebih besar.

Baca Juga: TEROBOSAN MENSOS! Lansia dan Disabilitas Dapat Jatah 'Makan Bergizi Gratis' dari Pemerintah Prabowo, Anggaran Rp15 Ribu per Porsi!

Ketakutan Warga: Tanggul Jebol, Jakarta Tenggelam

Kekhawatiran utama warga adalah ketebalan tanggul yang dinilai sangat minim, hanya sekitar 10 hingga 15 sentimeter.

"Takut juga sih kalau tanggulnya jebol, otomatis kan pasti banjir," jelas Endang. Dengan ketebalan sekecil itu, warga khawatir tanggul akan terkikis dan jebol jika terus menerus terbentur ombak.

Ketakutan itu diperkuat oleh warga lain, Udin (40). Menurutnya, jebolnya tanggul Pantai Mutiara tidak hanya mengancam kawasan elit, tetapi berpotensi membuat seluruh Jakarta tenggelam.

"Ada kekhawatiran takut jebol dan air laut tumpah ke daratan berpotensi membuat Jakarta tenggelam," kata Udin.

Udin menambahkan, dampaknya akan sangat parah bagi pemukiman padat penduduk di belakang Pantai Mutiara, terutama masyarakat kecil seperti kaum nelayan di sekitar Muara Baru. "Bagi kalangan elit kan enak saja mereka mengungsi, tapi kalau yang masyarakat kecil kan kasihan," ujarnya prihatin.

Baca Juga: BREAKING! Polisi Aktif Dilarang Jabat Posisi Sipil: Istana & Polri 'Tunduk' ke MK, Ratusan Jabatan Bakal Kosong?

Ancaman Tak Terhindarkan: Gedung Pencakar Langit dan Penurunan Tanah

Bukan hanya ombak, masalah ini ternyata diperparah oleh kebijakan pembangunan di Jakarta Utara.

Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah tegas menilai pembangunan gedung-gedung bertingkat (pencakar langit) di Jakarta Utara adalah biang keladi utama.

Trubus menyebut, pengambilan air tanah besar-besaran untuk menopang gedung-gedung ini telah menyebabkan permukaan tanah di Jakarta Utara turun drastis.

"Bahkan, di wilayah utara itu per tahun rata-rata bisa 20 sentimeter turunnya. Nah, itu yang menyebabkan airnya jadi lebih tinggi," jelas Trubus.

Kondisi penurunan tanah inilah yang membuat air laut kini dengan mudah menyaingi ketinggian tanggul. Jika didiamkan, potensi banjir rob akan semakin sering dan parah.

Baca Juga: Geger Manokwari! Istri Pegawai Pajak Ditemukan Tewas Mengenaskan, Dikubur di Septic Tank Rumah Kosong, Ini Motifnya

Dampak Horor Jika Tanggul Jebol: Ekonomi Lumpuh dan Radius Puluhan Kilometer

Trubus memperingatkan bahwa jebolnya tanggul Pantai Mutiara akan memicu bencana yang dampaknya meluas, jauh melampaui perumahan mewah.

Lumpuhnya Ekonomi: "Tentu saja tidak hanya perumahan elit, akses jalan juga akan ketutup semua, artinya ekonomi bisa lumpuh," tegasnya.

Ancaman Jakarta Tenggelam: Sebagai Pengamat Tata Kota, Trubus bahkan menilai jebolnya tanggul berpotensi membuat Jakarta tenggelam jika disertai hujan deras dan kiriman air dari Bogor.

Jangkauan Bencana: Dampaknya tidak hanya di Jakarta Utara, tetapi "radiusnya mungkin bisa berpuluh-puluh kilometer," tambahnya.

Baca Juga: 5 Artis Indonesia Ini Punya Gym Pribadi di Rumah, Isinya Bikin Melongo! Intip Potret Mewah dan Inspiratifnya

Pemerintah Dianggap Gagal, Diminta Bertindak Cepat

Kondisi tanggul yang kini sejajar dengan air laut dinilai sebagai bukti kegagalan Pemprov Jakarta dalam menyelesaikan persoalan rob di Utara. Trubus mengkritik keras, sebab rob di Jakarta Utara justru semakin parah.

Ia mendesak agar Pemprov Jakarta segera bertindak masif, tidak hanya mengandalkan proyek mercusuar pemerintah pusat seperti Giant Sea Wall (GSW).

"Jadi Giant Sea Wall yang digagas Presiden itu harusnya Pemprov juga punya orientasi sendiri untuk menyelamatkan wilayah Jakarta sendiri jangan kemudian seolah itu urusan pemerintah pusat saja," tegas Trubus.

Baca Juga: Sorotan Tajam DPR: Investasi Rp 64 T Lotte Chemical Cilegon Wajib Jadi 'Ladang Emas' Tenaga Kerja Lokal!

Janji NCICD: Meredam Kepanikan Warga

Menanggapi kekhawatiran ini, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta melalui Nugraha meminta masyarakat untuk tidak panik.

Kenaikan air laut disebabkan oleh gelombang tinggi pada awal November. Pemprov DKI mengklaim sedang melakukan perencanaan pembangunan tanggul baru melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

Pembangunan Lebih Tinggi: "Lokasi tersebut termasuk kewenangan Pemprov DKI Jakarta, melalui Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sedang dilaksanakan tahap perencanaan dengan elevasi tanggul yang akan lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi tanggul saat ini," jelasnya.

Memperhitungkan Safety Factor: Rencana pembangunan akan memperhitungkan safety factor (faktor keamanan) untuk memastikan infrastruktur pengendalian rob di pesisir Jakarta kuat.

Meskipun demikian, pembangunan NCICD masih dalam tahap perencanaan dan harus menunggu persetujuan anggaran. Sementara itu, warga Pantai Mutiara terus dihantui ombak yang setiap saat bisa melompati tanggul tipis tersebut.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman