Banten

Trump dan Xi Bertemu di Korsel, Awal dari Babak Baru Hubungan Dagang AS–China?

Andi Syafrani | 30 Oktober 2025, 14:14 WIB
Trump dan Xi Bertemu di Korsel, Awal dari Babak Baru Hubungan Dagang AS–China?

AKURAT BANTEN – Di tengah gejolak perang dagang yang belum juga mereda, dua pemimpin ekonomi terbesar dunia, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, akhirnya bertatap muka di Busan, Korea Selatan, Kamis, 30 Oktober 2025.

Pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam itu menjadi sorotan global, mengingat hubungan kedua negara belakangan ini diwarnai ketegangan akibat aksi saling balas tarif yang berdampak luas pada rantai pasok dunia.

Trump datang ke Busan dengan misi diplomatik besar: membangun kembali kepercayaan dengan Beijing dan membuka peluang kesepakatan baru yang dapat mengakhiri perang tarif yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun.

Baca Juga: Polemik Dugaan Mark-Up Kereta Cepat Whoosh, NCW Desak KPK Periksa Jokowi hingga Empat Mantan Menterinya

Dalam pernyataannya, Trump mengaku pertemuan ini bukan hal yang mudah, namun tetap optimistis akan tercapai kesepahaman baru.

“Saya yakin ini akan menjadi pertemuan yang produktif. Presiden Xi adalah negosiator tangguh, tapi saya selalu percaya bahwa dialog lebih baik daripada konfrontasi,” ujar Trump saat berjabat tangan dengan Xi di sela pertemuan bilateral tersebut, dikutip Reuters.

Sementara itu, Xi Jinping menilai gesekan antara AS dan China merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam hubungan dua kekuatan besar dunia. Namun, ia menegaskan pentingnya menjaga kemitraan yang saling menguntungkan ketimbang memperpanjang perseteruan.

Baca Juga: Dugaan Suap Rp20 Juta per Kontainer Bikin Geger, Pengawasan Bea Cukai di Impor Pakaian Bekas Disorot

“Adalah hal wajar bagi dua negara besar memiliki perbedaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelola perbedaan itu dan tetap menjadi mitra yang saling menghormati,” tutur Xi dengan tenang.

Pernyataan Xi memberi sinyal bahwa Beijing masih membuka pintu negosiasi. Namun, di sisi lain, China juga tetap berhati-hati setelah serangkaian kebijakan proteksionis AS membuat banyak sektor industrinya terpukul, terutama manufaktur dan teknologi tinggi.

Ketegangan antara AS dan China memanas sejak Washington menaikkan tarif impor hingga 100 persen untuk sejumlah produk asal Beijing.

Baca Juga: Warga Resah, Gunungan Sampah di TPA Cipecang Makan Lahan dan Bikin Air Tercemar

Sebagai balasan, China menerapkan tarif baru untuk kapal berbendera AS sebesar 400 yuan per tonase bersih, dan akan naik hingga 1.120 yuan pada 2028. Langkah ini membuat biaya logistik internasional melonjak dan menekan ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menilai perang tarif yang berlarut justru menciptakan ketidakpastian global. Menurutnya, kondisi ini menjadi pengingat bahwa dunia usaha perlu memperluas pasar dan memperkuat kemitraan di kawasan lain.

“Persaingan dagang seperti ini bukan lagi soal siapa yang menang. Yang berbahaya justru ketidakkonsistenan kebijakan yang bisa mengguncang stabilitas ekonomi dunia,” ujar Anindya dalam forum Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta, awal Oktober lalu.

Baca Juga: Tragis! Pasangan Kekasih di Karawang Tega Lakban Mulut Bayi Kandung Hingga Tewas, Motifnya Bikin Geram

Ia menambahkan, dinamika ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama yang lebih luas dengan Eropa, yang dinilai lebih stabil dan memiliki nilai pasar yang besar.

“Eropa punya konsistensi kebijakan dan market size yang luar biasa. Itu peluang yang harus kita tangkap,” tandasnya.

Pertemuan Trump dan Xi di Busan ini dinilai menjadi momen krusial yang dapat menentukan arah hubungan dua raksasa ekonomi dunia. Dunia kini menanti, apakah pertemuan ini benar-benar membuka jalan menuju perdamaian dagang, atau hanya jeda singkat sebelum babak baru rivalitas dimulai. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC