Banten

Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin Soroti Gaya 'Koboi' Menkeu Purbaya, Sebut Warga RI Gampang Tertipu Pejabat

Andi Syafrani | 29 Oktober 2025, 12:23 WIB
Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin Soroti Gaya 'Koboi' Menkeu Purbaya, Sebut Warga RI Gampang Tertipu Pejabat

AKURAT BANTEN - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belakangan ini menjadi buah bibir di kalangan warganet. Bukan hanya karena target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen yang ia canangkan, tetapi juga karena gaya komunikasinya yang khas, bahkan cenderung "nyentrik".

Purbaya tak segan tampil di hadapan publik dengan jaket biru tua berlogo angka 8 persen, seolah ingin menegaskan keyakinannya akan masa depan cerah ekonomi Indonesia. Jaket itu, katanya, adalah pemberian langsung dari Istana.

"Sebelumnya nih, dibagi dari sana. Dari orang istana," ujarnya sambil menunjuk logo di dadanya, Selasa (21/10/2025).

Baca Juga: Polemik Pabrik Aqua Subang: Warga Sekitar Keluhkan Kesulitan Air, Bisnis Untung, Rakyat Buntung?

Optimisme Purbaya didasari oleh keyakinan bahwa pertumbuhan konsumsi masyarakat pada kuartal IV-2025 akan melampaui 5,5 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional pada kuartal II yang tercatat 5,12 persen.

Ia mengklaim bahwa kebijakan pemerintah yang menggelontorkan dana Rp 200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mulai menunjukkan hasil.

"Data retail sales BI mulai naik di bulan terakhir ini, di September. Karena sebagian dampak dari uang yang saya gelontorkan mulai terasa di sistem," kata Purbaya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia INDEF, Selasa (28/10/2025).

"Saya pikir Oktober, November, Desember akan lebih terlihat dampaknya di ekonomi."

Baca Juga: Cak Imin Geram! Gurita Minimarket Raksasa Mencekik UMKM, Pemerintah Harus Bertindak

Namun, gaya "Purbaya Everywhere" di media sosial tak luput dari kritik. Sebagian kalangan menilai bahwa sorotan terhadap gaya komunikasi sang Menkeu justru mengalihkan perhatian dari substansi kebijakan yang ia jalankan.

Pengamat Ekonomi sekaligus Analis Pasar Modal, Prof. Ferry Latuhihin, menilai masyarakat Indonesia kerap terlena dengan gaya populis pejabat publik.

Ia mengingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen masih jauh dari realistis jika pemerintah terus bergantung pada belanja negara tanpa memperluas ruang bagi sektor swasta.

Baca Juga: Viral di Medsos, Sopir Jemputan Diduga Cabuli Murid SD di Pandeglang: Polisi Turun Tangan Selidiki Laporan Ibu Korban

"Saya katakan negara ini terlalu dominan menyetir ekonomi," ujar Ferry dalam siniar YouTube Rakyat Bersuara, Rabu (29/10/2025).

"Kita harus memberikan space yang lebih besar kepada swasta untuk beraktivitas ekonomi, karena swasta yang lebih tahu."

Ferry juga mengkritik kebijakan pemerintah yang mengandalkan pajak tinggi dan redistribusi melalui bansos.

Menurutnya, langkah tersebut bukanlah cara organik untuk mendorong ekonomi tumbuh berkelanjutan.

"Ketika penerimaan negara gemuk, barulah pemerintah suntik dana langsung ke masyarakat. Tapi itu bukan langkah yang struktural," tegasnya.

Baca Juga: Nusa Penida Gempar! Lift Kaca di Pantai Kelingking Jadi Sorotan, Keindahan Alam Terancam?

Lebih lanjut, Ferry mempertanyakan efektivitas langkah Purbaya dalam menempatkan dana pemerintah di Himbara. Ia menilai kebijakan tersebut hanya bersifat administratif, bukan strategi fiskal yang benar-benar baru.

"Sekarang Purbaya selalu menjadi perbincangan dengan gaya-gaya yang disebut koboi, tapi sayangnya saya tidak peduli," terang Ferry.

"Yang saya pedulikan, kebijakannya apa? Itu harus jelas. Pemindahan dana ke Himbara hanya soal administratif, bukan kebijakan fiskal yang nyata.”***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC