Banten

Polemik Pabrik Aqua Subang: Warga Sekitar Keluhkan Kesulitan Air, Bisnis Untung, Rakyat Buntung?

Andi Syafrani | 29 Oktober 2025, 11:26 WIB
Polemik Pabrik Aqua Subang: Warga Sekitar Keluhkan Kesulitan Air, Bisnis Untung, Rakyat Buntung?

AKURAT BANTEN – Dedi Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kang Dedi, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pabrik PT Tirta Investama (Aqua) di Subang pada Rabu (22/10) lalu.

Aksi ini dilakukan setelah Kang Dedi menerima keluhan langsung dari warga sekitar pabrik yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Momen sidak ini pun langsung viral di media sosial, memperlihatkan bagaimana Kang Dedi dengan sigap mendengarkan keluh kesah warga.

"Jangan sampai air dari sini diambil dan dijual mahal, sementara warga di sekitar gunung kesulitan mandi karena kekurangan air," ujar Kang Dedi dengan nada prihatin.

Baca Juga: Cak Imin Geram! Gurita Minimarket Raksasa Mencekik UMKM, Pemerintah Harus Bertindak

Kang Dedi menekankan pentingnya keseimbangan antara aktivitas industri dan kebutuhan dasar masyarakat. Ia meminta pihak perusahaan untuk memastikan bahwa operasional mereka tidak mengganggu akses air bersih bagi warga sekitar.

"Perusahaan harus bertanggung jawab, jangan hanya mengeruk keuntungan tapi melupakan masyarakat," tegasnya.

Dalam dialog dengan warga, seorang ketua RW mengungkapkan bahwa selama ini mereka belum merasakan manfaat langsung dari keberadaan pabrik Aqua.

"Saya sebagai ketua RW saja belum pernah minum Aqua gratis, apalagi warga lainnya. Bantuan air bersih juga tidak ada," keluhnya dengan nada kecewa.

Baca Juga: HEBOH! Impor Solar Anjlok 86% Berkat Biodiesel, Bahlil Kini Bidik Bensin dengan Etanol (E20)

Keluhan serupa juga datang dari berbagai daerah lain yang memiliki pabrik Aqua, seperti Klaten, Bogor, dan Pasuruan. Warga mengeluhkan sumur-sumur mereka sering mengering saat musim kemarau, memaksa mereka untuk membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini tentu memberatkan ekonomi keluarga mereka.

Kang Dedi menegaskan bahwa perusahaan sebesar Aqua memiliki tanggung jawab sosial yang jelas, termasuk memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar pabrik. Ia mendorong pemerintah daerah dan pihak perusahaan untuk membuat sistem distribusi air yang adil, sehingga warga tetap bisa mengakses air bersih tanpa terganggu oleh aktivitas industri.

Baca Juga: Viral di Medsos, Sopir Jemputan Diduga Cabuli Murid SD di Pandeglang: Polisi Turun Tangan Selidiki Laporan Ibu Korban

"Ini bukan hanya soal keluhan sesaat, tapi juga tentang perlindungan hak warga atas kebutuhan dasar dan keberlanjutan lingkungan hidup," jelas Kang Dedi. Ia menambahkan bahwa air adalah sumber kehidupan, dan semua orang berhak mendapatkannya.

Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 2021 menunjukkan adanya penurunan debit air irigasi hingga 76 persen di Desa Kepanjen, Klaten, sejak pabrik Aqua beroperasi. Hal ini berdampak pada kenaikan biaya pertanian hingga 62 persen, yang semakin membebani petani setempat.

Baca Juga: Rapel Kenaikan Gaji Pensiunan PNS November 2025 Hoaks atau Fakta? Ternyata Ini Kata Kemenkeu

Para pengamat menilai bahwa kondisi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah dan pelaku industri untuk meninjau ulang tata kelola sumber daya air.

"Keadilan ekologis harus berjalan seiring dengan keberlanjutan bisnis. Jangan sampai masyarakat menjadi korban kekeringan demi kepentingan industri," ujar seorang pengamat lingkungan dari UGM.

Menanggapi sidak Kang Dedi, pihak Aqua menyatakan bahwa mereka telah aktif berdialog dengan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam upaya menjaga kelestarian air. Mereka juga berkomitmen untuk terus mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah krisis air di sekitar pabrik. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC