Banten

Aroma Tak Sedap di Balik Segel 'Rumah Aspirasi' Lebak, Benarkah Ada Praktik Mutasi Pejabat?

Abdurahman | 11 Maret 2026, 07:05 WIB
Aroma Tak Sedap di Balik Segel 'Rumah Aspirasi' Lebak, Benarkah Ada Praktik Mutasi Pejabat?
Ilustrasi Rumah Aspirasi milik Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, kini terkunci rapat dengan gembok besar (dok Ist)

AKURAT BANTEN – Publik Kabupaten Lebak digegerkan dengan pemandangan tak biasa di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Desa Kaduagung Timur. Rumah Aspirasi milik Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, kini terkunci rapat dengan gembok besar. Di temboknya, terpampang tulisan mencolok: “DITUTUP”.

Bukan aparat penegak hukum yang melakukan penyegelan, melainkan pemilik bangunan yang juga ayah kandung sang Bupati sendiri, yakni tokoh kharismatik Banten, Mulyadi Jayabaya (JB). Langkah drastis ini pun memicu spekulasi liar: Apa yang sebenarnya terjadi di dalam "Rumah Aspirasi" tersebut?

Sinyal 'Permainan' Jabatan dan Pelat Merah

Penyegelan ini bukan sekadar urusan keluarga. Mulyadi Jayabaya secara terang-terangan mengungkap alasan di balik keputusannya yang mengejutkan. Ia mengaku menerima banyak laporan miring mengenai aktivitas di gedung yang seharusnya menjadi wadah aspirasi rakyat tersebut.

"Betul, rumah aspirasi itu saya tutup karena sering dipakai hal-hal yang tidak benar," tegas JB dengan nada bicara yang berwibawa namun tajam, Selasa (10/3/2026).

Isu yang paling menyengat adalah dugaan bahwa lokasi tersebut kerap dijadikan tempat verifikasi pejabat yang mengincar promosi atau mutasi jabatan. Aroma tak sedap praktik "jual beli jabatan" pun menyeruak ke permukaan. JB menyoroti banyaknya kendaraan dinas berpelat merah yang sering terlihat terparkir di sana, seolah-olah rumah aspirasi telah beralih fungsi menjadi "kantor bayangan".

Kritik Pedas Terhadap 'Eksistensi' Relawan

Tak hanya soal mutasi, JB juga menyentil keberadaan relawan politik yang masih aktif di gedung tersebut meski Pilkada 2024 telah lama usai. Menurut mantan Bupati Lebak dua periode ini, relawan seharusnya membubarkan diri setelah tugas politik selesai, bukan malah terus "eksis" di sekitar kepala daerah.

"Keberadaan relawan yang terus mencampuri urusan pemerintahan justru bisa mengganggu kewibawaan birokrasi," tambahnya.

Pembelaan Tim Bupati: "Hanya Sasaran Tembak"

Di sisi lain, Ketua Tim Aspirasi Hasbi Jayabaya, Iman Pribadi, mencoba menepis segala tudingan miring tersebut. Ia menegaskan bahwa aktivitas di lokasi tersebut murni silaturahmi masyarakat biasa.

"Tudingan itu tidak benar. Jual beli jabatan apa? Paling hanya ada yang datang menyampaikan aspirasi. Intinya kami hanya jadi sasaran tembak saja," ujar Iman saat dikonfirmasi.

Iman berdalih bahwa penutupan gedung dilakukan karena pemilik (JB) berencana menyewakan bangunan tersebut kepada pihak perbankan. Namun, bagi masyarakat Lebak, alasan "sewa bank" terasa kontras dengan pernyataan keras JB soal "aktivitas tidak benar" yang menjadi dasar penyegelan.

Drama Politik yang Menguji Marwah Pemerintah

Kejadian ini menjadi sinyal kuat adanya dinamika panas di internal keluarga besar Jayabaya sekaligus menjadi ujian bagi kepemimpinan Bupati Hasbi. Apakah penyegelan ini adalah bentuk "bersih-bersih" dari sang ayah untuk menyelamatkan wajah pemerintahan anaknya, ataukah ada keretakan yang lebih dalam?

Satu yang pasti, publik kini menanti langkah nyata dari Pemkab Lebak untuk membuktikan bahwa tidak ada praktik transaksional di balik kursi jabatan.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman