Banten

Tragis Gelombang Putus Asa Remaja Jepang Pecah Rekor Bunuh Diri Sepanjang Sejarah

Moehamad Dheny Permana | 25 Oktober 2025, 21:55 WIB
Tragis Gelombang Putus Asa Remaja Jepang Pecah Rekor Bunuh Diri Sepanjang Sejarah

Akurat Banten - Jepang tengah menghadapi krisis yang mengguncang hati yaitu semakin banyak pelajar yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri di tahun 2024.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat 529 pelajar bunuh diri sepanjang tahun lalu angka tertinggi dalam lebih dari empat dekade terakhir sejak data pertama kali dikumpulkan pada 1980.

Kenaikan 16 kasus dibandingkan tahun sebelumnya ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras atas kondisi mental generasi muda di negeri yang dikenal paling disiplin di dunia itu.

Data resmi dalam Buku Putih Pencegahan Bunuh Diri 2025 mengungkap rincian mencengangkan: 15 siswa sekolah dasar, 163 siswa SMP, dan 351 siswa SMA ditemukan meninggal akibat bunuh diri.

Yang paling mengejutkan, tingkat bunuh diri di kalangan siswa SMP mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah Jepang modern.

Pemerintah menyebut tekanan akademik, perundungan, dan masalah sosial di sekolah sebagai penyebab utama.

Masalah kesehatan dan persoalan keluarga turut memperparah situasi, menjadikan beban mental para pelajar kian berat.

Baca Juga: Polisi Beber Alasan Lisa Mariana Tak Dijebloskan ke Tahanan Meski Sudah Jadi Tersangka Kasus Ridwan Kamil

“Banyak anak merasa tidak punya tempat untuk melarikan diri,” ujar seorang pejabat kementerian.

Laporan itu juga menyoroti mahasiswa berusia sekitar 21 tahun, yang banyak ditemukan bunuh diri karena stres menghadapi dunia kerja dan tekanan untuk sukses setelah lulus.

Transisi menuju kehidupan dewasa yang penuh persaingan membuat banyak dari mereka merasa gagal sebelum sempat memulai.

Angka bunuh diri di kalangan pemuda berusia 15 hingga 29 tahun pun masih berada di level mengkhawatirkan, dengan lebih dari 3.000 kasus setiap tahun sejak 2020.

Sementara itu, wanita muda juga mengalami peningkatan signifikan.

Sebanyak 40 persen dari mereka yang bunuh diri pernah mencoba mengakhiri hidup sebelumnya, menunjukkan betapa dalam luka psikologis yang mereka bawa.

Meski total angka bunuh diri di Jepang secara keseluruhan menurun menjadi 20.320 kasus pada 2024, fakta bahwa pelajar menjadi kelompok paling terdampak membuat publik terhenyak.

Banyak pihak mendesak pemerintah untuk memperkuat program kesehatan mental di sekolah dan memastikan setiap anak memiliki akses terhadap konselor profesional.

“Setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan besar bagi bangsa ini,” ujar seorang pejabat di Tokyo.

Baca Juga: Agen46 Jadi Andalan Baru Warga Desa, BNI Ungkap Rahasia Lonjakan Transaksi

Ia menegaskan, pemerintah akan memperluas kampanye pencegahan bunuh diri, meningkatkan kesadaran publik, dan memastikan sistem pendidikan lebih manusiawi bagi generasi muda.

Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi Jepang negara maju dengan ekonomi kuat, namun di sisi lain tengah berjuang melawan musuh tak kasat mata: keputusasaan yang perlahan membunuh masa depan anak-anaknya sendiri.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.