Banten

HEBOH! Warung Jukut Goreng Epy Kusnandar Diusik 'Preman': Bukan Pungli, Polisi Tegaskan Cuma Persoalan Makanan Habis dan Jukir Mabuk

Saeful Anwar | 21 Oktober 2025, 20:14 WIB
HEBOH! Warung Jukut Goreng Epy Kusnandar Diusik 'Preman': Bukan Pungli, Polisi Tegaskan Cuma Persoalan Makanan Habis dan Jukir Mabuk

AKURAT BANTEN – Sebuah unggahan video emosional dari Karina Ranau, istri aktor ternama Epy Kusnandar, telah menggemparkan jagat maya. Video yang menunjukkan tangisan Karina setelah beradu argumen dengan dua pria di lokasi rumah makan barunya, Jukut Goreng Samali di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, viral dalam hitungan jam.

Insiden yang terjadi pada Minggu malam (19/10/2025) ini awalnya sontak memicu dugaan serius: rumah makan Kang Mus 'Preman Pensiun' menjadi korban premanisme dan pungutan liar (pungli).

Namun, drama yang mencuat ke permukaan ini perlahan diklarifikasi oleh pihak kepolisian, mengungkap fakta di balik layar yang jauh dari dugaan awal.

Baca Juga: Isu Perang Dingin Purbaya vs Luhut di Sidang Kabinet, Purbaya Angkat Bicara!

Tangisan di Hari-Hari Awal Usaha

Karina Ranau, melalui akun Instagram-nya @karinaranau9, meluapkan emosinya yang tak terbendung.

"Ya Allah baru aja beberapa Langkah Perjalanan Kami. Baru menghitung Hari di @jukutgorengsamali," tulisnya.

Dalam video tersebut, Karina dengan tegas memprotes aksi dua pria yang diduga mengganggu usahanya yang baru seumur jagung.

"Caranya yang sopan dong! Kita capek. Kita di sini bayar, kita sewa, pakai tenaga," ucap Karina dengan nada emosi, menyinggung bahwa usahanya diganggu saat baru memulai perjuangan. Ia bahkan menantang, "Jangan mentang-mentang preman. Sini hadapi saya."

Unggahan ini segera memicu gelombang kemarahan warganet yang bersimpati, ramai-ramai me-mention akun kepolisian dan mendesak agar praktik premanisme terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ditindak tegas.

Banyak yang menduga pria tersebut adalah preman yang berkedok Ormas atau pelaku pungli.

Baca Juga: Waspada Bronkopneumonia, Pemkot Tangerang Imbau Masyarakat Kenali Gejalanya dan Lindungi Keluarga dari Infeksi Paru

Polisi Turun Tangan, Fakta Berbalik 180 Derajat

Menanggapi kegaduhan publik, petugas dari Polsek Pancoran bergerak cepat mendatangi lokasi untuk melakukan penyelidikan.

Hasilnya, fakta yang ditemukan oleh kepolisian jauh berbeda dari narasi "premanisme" yang beredar.

Kapolsek Pancoran, Kompol Mansur, memberikan klarifikasi yang menohok. Ia menjelaskan bahwa dua orang yang terlibat cekcok bukanlah preman atau anggota ormas, melainkan juru parkir yang biasa berada di sekitar lokasi.

"Kondisinya gini, itu warung, malam hari sudah mau tutup. Nah yang minta makan itu, tadi hasil penyelidikan anggota Serse, itu tukang parkir yang biasa nongkrong di situ," ujar Kompol Mansur.

"Bukan pungli. Setelah kami mintain keterangan tadi ya, faktor makanan saja." – Kompol Mansur, Kapolsek Pancoran.

Kompol Mansur menegaskan bahwa perdebatan sengit itu murni dipicu masalah makanan yang sudah habis karena warung akan segera tutup.

"Mau tutup, makanan ini habis, setelah itu dia (juru parkir) enggak terima, dengan nada tinggi mereka begitu. Akhirnya terjadilah cekcok mulut, itu aja sebetulnya," jelasnya.

Pihak kepolisian juga secara lugas membantah adanya dugaan pungutan liar (pungli). Bahkan, berdasarkan keterangan dari pemilik warung di sekitar lokasi, kedua juru parkir tersebut diduga berada di bawah pengaruh alkohol saat kejadian, yang disinyalir menjadi pemicu nada tinggi dan perilaku tak menyenangkan.

Baca Juga: Kejari Cilegon Sita Rp 3,7 Miliar dari Lelang Tanah Hasil Korupsi Bapelkes KS

Belum Ada Laporan Resmi, Upaya Damai Dikedepankan

Meskipun insiden ini sempat memicu tangisan dan amarah Karina Ranau, hingga saat ini istri Epy Kusnandar tersebut diketahui belum membuat Laporan Polisi (LP) secara resmi.

Pihak kepolisian telah mengarahkan Karina untuk membuat laporan jika memang merasa ada hal yang merugikan dan perlu ditindaklanjuti.

Namun, insiden ini disebut oleh Ketua RT setempat sebagai "kesalahpahaman kecil" yang kini sudah berujung damai secara kekeluargaan, mengakhiri drama viral yang sempat menyeret nama Epy Kusnandar.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa narasi yang viral di media sosial tidak selalu sejalan dengan fakta di lapangan.

Di satu sisi, ia menyuarakan keresahan para pelaku UMKM terhadap premanisme, namun di sisi lain, ia menegaskan pentingnya penyelidikan untuk mengungkap akar masalah yang sesungguhnya: cekcok yang dipicu oleh minuman keras dan rasa lapar, bukan pungli yang terencana (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman