Banten

Geram Akibat Jalan Hancur dan Udara Kotor, Warga Cipete Lawan Pengembang Alsut

David Amanda | 3 Maret 2026, 11:14 WIB
Geram Akibat Jalan Hancur dan Udara Kotor, Warga Cipete Lawan Pengembang Alsut
Aksi Unjuk Rasa Warga Cipete Lawan Pengembang Alsut

AKURAT BANTEN - Aksi yang digelar Pemuda Cipete Bersatu pada Senin (2/3/26) berujung pada kesepakatan pembatasan jam operasional kendaraan besar yang melintas di wilayah Cipete, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang,(3/3/26).

Kesepakatan itu dicapai setelah perwakilan massa melakukan mediasi dengan pihak pengembang yang difasilitasi unsur Muspika setempat.

Koordinator aksi, Ibnu Asuqalani, mengatakan aksi tersebut dilatarbelakangi tiga tuntutan utama warga, yakni perbaikan jalan rusak, pengaturan jam operasional mobil besar, serta penanganan polusi udara.

Baca Juga: Konflik Memanas! Israel Bidik Pemimpin Hizbullah Usai Serangan ke Iran, Nama Naim Qassem Jadi Target Militer

"Kami dari Pemuda Cipete Bersatu. Aksi ini yang pertama kami menuntut jalan rusak harus diperbaiki. Kedua, jam operasional mobil besar. Ketiga, polusi udara," ujar Ibnu kepada wartawan.

Ia menjelaskan, kendaraan besar seperti truk molen dan truk tambang dinilai sangat mengganggu aktivitas warga, terutama pada pagi hari saat jam masuk sekolah dan sore hari ketika masyarakat beraktivitas menjelang berbuka puasa.

"Jam operasional sangat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama di pagi hari saat anak-anak sekolah. Di sore hari juga ketika masyarakat memburu takjil," katanya.

Baca Juga: THR PNS Belum Juga Cair di Pekan Kedua Ramadan, Purbaya Buka Suara Soal Penyebabnya

Dalam mediasi yang turut dihadiri pihak Kecamatan Pinang, Kapolsek, Bhabinkamtibmas, serta jajaran kepolisian setempat, disepakati pembatasan jam operasional kendaraan besar.

"Dari hasil mediasi, kita menyepakati jam operasional dari jam 6 pagi sampai jam 9 itu di-stop dulu. Nanti dilanjut lagi setelah magrib. Baik itu truk molen maupun truk tambang," jelasnya.

Ibnu menyebut aksi tersebut sebagai langkah preventif untuk mencegah potensi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan berat.

Baca Juga: Operasi Gabungan Israel–Amerika Serikat Sudah Sasar 2.000 Lebih Titik di Iran

Ia menegaskan, warga ingin memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.

"Kita menjaga sedia payung sebelum hujan. Supaya tidak terjadi jatuhnya korban jiwa. Karena yang kita lihat di berita-berita banyak yang terlindas dan sebagainya. Makanya kita menjaga warga agar tidak terlindas," tegasnya.

Selain pembatasan jam operasional, terdapat empat poin kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut.

Kesepakatan itu rencananya akan dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) sebagai bentuk komitmen bersama.

Baca Juga: Perusahaan Jangan Sampai Terlambat, Cek Jadwal Pencairan THR 2026 untuk  Karyawan Swasta

Apabila di kemudian hari kesepakatan tersebut dilanggar, Ibnu memastikan pihaknya tidak akan tinggal diam dan mengancam akan kembali melakukan aksi bersama warga.

Oleh karena itu, dengan adanya kesepakatan tersebut, warga berharap pengaturan operasional kendaraan berat dapat berjalan konsisten sehingga aktivitas masyarakat tetap aman dan nyaman.

"Kalau jam operasional dilanggar, kita sudah sepakat nanti ada perjanjian MoU. Apabila hal itu dilanggar, maka kita akan kembali turun aksi untuk menyuarakan keinginan masyarakat Cipete," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.