ROSAN ROESLANI YAKIN! Indonesia Bisa Tembus Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Berkat Kunci Sakti: Investasi Rp13.032 Triliun

AKURAT BANTEN — Target ambisius pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen menjadi sorotan utama dalam agenda pemerintahan.
Di tengah kehati-hatian global, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, muncul dengan optimisme kuat, meyakini bahwa target tersebut sangat achievable.
Kunci saktinya? Investasi masif dan kehadiran entitas baru, Danantara.
Rosan Roeslani, yang juga dikenal sebagai bos Danantara, menegaskan bahwa investasi adalah variabel paling krusial.
Setelah konsumsi domestik, investasi memegang peran penting sebagai kontributor terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, target 8 persen ini tidak main-main. Menurut perhitungan dari Kementerian PPN/Bappenas, Indonesia membutuhkan investasi kolosal senilai Rp13.032 triliun untuk merealisasikannya.
Realisasi Investasi
Optimisme Rosan bukan tanpa dasar. Ia mengklaim realisasi investasi pada Semester I 2025 sudah sesuai target, mencapai Rp942,9 triliun.
Angka ini mencatat pertumbuhan impresif 13,6 persen year on year (yoy), dan diklaim sejalan dengan target akhir tahun.
Yang menarik, Rosan menyoroti pemerataan investasi.
Kontribusi dari luar Jawa tercatat lebih besar, mencapai sekitar 55 persen, sementara Jawa berkontribusi 45 persen—sebuah indikasi bahwa kebijakan hilirisasi dan pemerataan ekonomi mulai membuahkan hasil.
Danantara Memikat Investor Global
Salah satu terobosan strategis yang ditekankan Rosan adalah pembentukan Danantara.
Entitas ini disebut sebagai faktor penentu yang menumbuhkan keyakinan (confidence) investor, baik domestik maupun asing.
Rosan menjelaskan, Danantara menawarkan skema investasi bersama. "Kita bilang ke mereka (investor), kita Danantara, bisa berinvestasi bersama-sama dengan mereka. Kita tidak harus mayoritas, kita bisa minoritas, tapi kita sama-sama investasi," paparnya dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Kehadiran Danantara dianggap sebagai kekuatan keberanian negara untuk ikut ambil bagian.
Logikanya sederhana, jika negara berani menanamkan modal, maka investor luar akan lebih yakin bahwa proyek tersebut akan berjalan sukses, cepat, dan menghasilkan return yang baik.
Jalan Berliku Menuju 8%, Optimisme Rosan dan Kehati-hatian Menkeu Purbaya
Meskipun Rosan Roeslani sangat optimis dengan kekuatan investasi, pandangan yang lebih pragmatis datang dari Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa.
Menkeu Purbaya mengingatkan bahwa untuk mencapai 8 persen, perlu kesabaran dan tidak mungkin tercapai dalam waktu singkat.
"Nggak mungkin tahun depan, kan. Nggak mungkin setahun," kata Menkeu Purbaya. Ia memetakan jalur pertumbuhan secara bertahap:
Akhir Triwulan (Saat Ini): Diupayakan mencapai 5,5 persen.
Tahun Depan (2026): Didorong ke arah 6 persen atau sedikit di atasnya.
Tahun Berikutnya (Setelah 2026): Bisa meningkat antara 6 hingga 6,5 persen berkat perbaikan iklim investasi.
Mendekati target 8 persen
Menkeu Purbaya sepakat bahwa perbaikan iklim investasi adalah kunci untuk mempercepat kenaikan angka tersebut.
Pertumbuhan Bukan Hanya Angka, Tuntutan Kualitas SDM Global
Rosan Roeslani menutup pandangannya dengan pesan penting, pertumbuhan ekonomi 8 persen harus berkesinambungan dan berkelanjutan. Hal ini hanya mungkin jika diikuti dengan pertumbuhan sosial.
"Apabila manusianya ikut tumbuh bersama dengan kita," tegas Rosan. Pertumbuhan ini mencakup wawasan, pemahaman, dan kesiapan untuk menghadapi tantangan global, baik secara geopolitik maupun geoekonomi.
Target 8 persen, menurut Rosan, bukan hanya soal pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia dapat menavigasi kompleksitas global dengan benar.
Dengan sinergi antara investasi masif, keberanian Danantara, dan peningkatan kualitas SDM, Rosan meyakini target fantastis ini benar-benar achievable (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 6Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 7Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 8Golkar Ungkap Alasan Partai Pendukung Tak Turun Bela Gibran di MK, Ini Penjelasannya
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'






