AI Dorong Produktivitas, Tapi Bijak dan Transparan Jadi Syarat Utama

Akurat Banten - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin merambah ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, bisnis, hingga media.
Pakar teknologi informasi sekaligus Rektor Pradita University, Prof. Eko Indrajit, menegaskan bahwa teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas individu asalkan digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
“Penggunaan AI yang benar dapat mengangkat kualitas karya kita, tetapi harus disertai etika dan kebijaksanaan karena masih banyak yang keliru dalam memandang teknologi ini,” ujarnya.
Menurut Eko, posisi AI seharusnya dipahami sebagai alat bantu, bukan sebagai pengambil keputusan utama.
Manusia tetap menjadi pihak yang mengendalikan arah dan hasil kerja, sementara AI berfungsi mempercepat dan mempermudah proses.
Ia menekankan, kesalahan sering muncul ketika seseorang terlalu bergantung pada hasil yang diberikan AI tanpa melakukan pengecekan ulang.
“Apa pun yang keluar dari mesin tetap perlu diteliti kembali, jangan sampai kita sepenuhnya percaya begitu saja,” tambahnya.
Eko mengingatkan bahwa keberadaan AI tidak bisa lagi dihindari.
Justru, manusia harus belajar hidup berdampingan dengan teknologi ini. Dalam pandangannya, AI akan membawa manfaat besar bila dimanfaatkan secara etis dan transparan.
“Etika komunikasi sangat penting ketika menggunakan AI. Produk yang dibuat dengan bantuan teknologi ini sebaiknya disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.
Ia mencontohkan bahwa AI tidak akan mampu menggantikan peran dokter atau jurnalis sepenuhnya.
Namun, mereka yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaannya berpotensi unggul dibandingkan yang menolak perkembangan teknologi tersebut.
“AI memang tidak bisa menggantikan dokter atau jurnalis, tetapi dokter atau jurnalis yang menggunakan AI akan lebih kompetitif dibanding yang tidak memanfaatkannya,” ucapnya.
Selain itu, Eko juga menyoroti pentingnya literasi digital terkait AI.
Ia menilai masyarakat perlu memiliki pemahaman yang baik agar bisa membedakan konten buatan mesin dengan karya manusia.
Hal ini penting untuk menghindari jebakan informasi palsu yang kini banyak beredar di media sosial.
Menurutnya, edukasi dan literasi AI akan menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah termakan manipulasi konten digital.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Rampungkan Renovasi 785 Rumah Tidak Layak Huni
Ia menambahkan, tren pemanfaatan AI di masa depan akan semakin meningkat, sehingga kesiapan individu dan etika penggunaannya menjadi tantangan utama.
“AI bukan ancaman bila kita mampu mengelolanya dengan baik. Justru, ini adalah peluang untuk melipatgandakan produktivitas dan kreativitas,” pungkas Eko.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 7MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 8Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 9Bukan Cuma Menang 4-1, Italia Ukir Sejarah Lewat Kakak-Adik Esposito Setelah Lebih dari 1 Abad
- 10Barcelona Sudah Menggila di Liga Champions, tapi Lamine Yamal Bilang Trofi Tetap Bergantung pada Keberuntungan










