Banten

Deflasi Agustus Jadi Sinyal Kuatnya Ekonomi RI, Airlangga Sebut Strategi Pemerintah Efektif

Moehamad Dheny Permana | 2 September 2025, 15:38 WIB
Deflasi Agustus Jadi Sinyal Kuatnya Ekonomi RI, Airlangga Sebut Strategi Pemerintah Efektif

Akurat Banten - Deflasi bulanan 0,08 persen pada Agustus 2025 dinilai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai bukti bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global.

Menurut Airlangga, capaian ini sekaligus memperlihatkan efektivitas langkah pemerintah dalam mengendalikan harga dan menjaga daya beli masyarakat.

“Deflasi Agustus masih dipengaruhi pergerakan harga beberapa komoditas pangan, termasuk tomat dan cabai rawit. Pasokan melimpah dari panen raya mendorong harga turun,” ujarnya.

Selain komoditas pangan, deflasi juga terdorong oleh turunnya harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi udara, yang sebagian besar disebabkan oleh program diskon tiket pesawat untuk perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80.

Airlangga menegaskan, kebijakan ini efektif meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus menjaga stabilitas daya beli.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2025 mengalami deflasi 0,08 persen (mtm), sementara inflasi tahunan tercatat 2,31 persen (yoy), masih sesuai dengan sasaran pemerintah 2,5±1 persen.

Inflasi inti mengalami kenaikan tipis 0,06 persen (mtm), menandakan daya beli masyarakat relatif stabil.

Baca Juga: Aksi Anarkis di Surabaya Tinggalkan Jejak Kerugian Fantastis Rp124 Miliar, Polisi Perketat Penyelidikan

Sementara inflasi pangan bergejolak turun 0,61 persen, sejalan dengan target pemerintah menjaga inflasi VF di kisaran 3-5 persen.

Pemerintah juga terus menekan potensi kenaikan harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan target penyaluran 1,3 juta ton hingga akhir tahun.

Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, Airlangga menyebut akses pembiayaan lewat KUR sektor pertanian dan Kredit Usaha Alsintan akan terus dioptimalkan, dengan total realisasi per Agustus mencapai Rp60,93 triliun dari total alokasi Rp287,47 triliun.

Selain menjaga inflasi, pemerintah berencana mempertahankan daya beli masyarakat melalui stimulus ekonomi, termasuk melanjutkan program diskon transportasi pada periode Natal dan Tahun Baru.

Tren positif juga terlihat dari neraca perdagangan yang tetap surplus 4,17 miliar dolar AS pada Juli 2025, naik 1,71 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Surplus perdagangan dengan Amerika Serikat tercatat 2,2 miliar dolar AS untuk sektor nonmigas, didukung aktivitas manufaktur di negara mitra dagang dan kenaikan harga beberapa komoditas ekspor unggulan seperti batu bara, gas alam, kelapa sawit, dan karet.

Sektor manufaktur berorientasi ekspor menunjukkan pertumbuhan positif, terutama pada kendaraan, mesin, dan alas kaki.

Baca Juga: Innalillahi, Acil Bimbo Meninggal Dunia: Sosok Legendaris yang Dikenang Lewat Karya Abadi

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi di angka 51,5 pada Agustus setelah empat bulan kontraksi, menandakan optimisme pelaku usaha yang menguat seiring membaiknya daya beli masyarakat.

Airlangga menegaskan, pemerintah berkomitmen menjaga momentum pemulihan ekonomi lewat program Kredit Industri Padat Karya dan mendorong konsumsi produk lokal melalui Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).

“Kembalinya PMI ke zona ekspansi menunjukkan ekonomi domestik membaik dan produksi akan meningkat di periode mendatang,” tuturnya.

Dengan langkah strategis ini, pemerintah berharap deflasi tidak hanya menjadi indikator stabilitas harga, tetapi juga katalis pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.