Banten

Rupiah Tertekan Imbas Lonjakan Inflasi Produsen AS, Analis: Dolar Rebound, Tekanan Belum Reda

Moehamad Dheny Permana | 15 Agustus 2025, 20:08 WIB
Rupiah Tertekan Imbas Lonjakan Inflasi Produsen AS, Analis: Dolar Rebound, Tekanan Belum Reda

Akurat Banten - Nilai tukar rupiah kembali tergelincir pada pembukaan perdagangan Jumat, 15 Agustus 2025, seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) setelah rilis data ekonomi terbaru menunjukkan lonjakan inflasi produsen di Negeri Paman Sam.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh respons pasar terhadap data inflasi produsen AS yang jauh di atas proyeksi.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang rebound menyusul data yang menunjukkan inflasi di tingkat produsen AS naik lebih tinggi dari perkiraan, serta data pekerjaan AS klaim pengangguran yang lebih rendah,” ujar Lukman.

Berdasarkan laporan Anadolu, indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada Juli 2025 tercatat naik 3,3 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui perkiraan pasar sebesar 2,5 persen.

Secara bulanan, PPI juga mencatat lonjakan signifikan, yakni 0,9 persen, jauh di atas ekspektasi 0,2 persen.

Baca Juga: Kreasi Hiasan Kepala Unik untuk 17 Agustus: Bikin Penampilan Semarak dan Penuh Semangat Kemerdekaan!

Sementara itu, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim pengangguran pada Juli berada di angka 224 ribu, lebih rendah dibandingkan proyeksi 225 ribu dan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 227 ribu.

“PPI semalam jauh lebih tinggi disebabkan oleh tarif bahan baku dan material yang mulai memberikan dampak pada biaya produksi,” jelas Lukman.

Ia menambahkan, kebijakan tarif yang diberlakukan pemerintah AS berdampak langsung pada industri, mengingat sebagian besar produsen di negara tersebut mengandalkan impor bahan baku dari Kanada, Meksiko, dan negara tetangga lainnya yang kini terkena tarif.

Meski demikian, kebijakan tarif tersebut belum berdampak signifikan pada inflasi konsumen.

Data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS pada Juli tercatat 2,7 persen, sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 2,8 persen.

Baca Juga: HUT ke-80 RI: Pemkot Tangerang Gelar Olahraga Merdeka, Eratkan Silaturahmi Antar-OPD

“Penundaan tarif ke China masih terus diperpanjang, sehingga harga belum sepenuhnya tercermin pada produk konsumen di AS yang umumnya made in China,” ujar Lukman.

Di pasar domestik, rupiah dibuka melemah 40 poin atau 0,25 persen menjadi Rp16.155 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.115 per dolar AS.

Sejumlah pelaku pasar memperkirakan rupiah akan tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek, terutama jika tren penguatan dolar berlanjut dan kebijakan suku bunga AS cenderung mempertahankan posisi ketatnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.