Presiden Putin Larang Adopsi Anak Asal Rusia, Bagi Warga Negara yang Legalkan Perubahan Gender

AKURAT BANTEN - Presiden Rusia, Vladimir Putin, resmi menandatangani undang-undang baru yang melarang warga negara dari negara-negara yang melegalkan perubahan gender untuk mengadopsi anak asal Rusia.
Kebijakan yang diumumkan pada Sabtu (23/11/2024) ini diperkirakan akan memengaruhi setidaknya 15 negara, termasuk sejumlah negara Eropa, Australia, Argentina, dan Kanada.
Larangan ini menambah panjang daftar pembatasan adopsi anak Rusia, setelah sebelumnya warga Amerika Serikat telah dilarang mengadopsi sejak tahun 2012.
Vyacheslav Volodin, Ketua Majelis Rendah Rusia (Duma Negara), menyebut bahwa undang-undang ini dirancang untuk melindungi anak-anak Rusia dari risiko yang dianggap dapat membahayakan stabilitas psikologis dan nilai-nilai tradisional mereka.
Menurutnya, ada kekhawatiran bahwa orang tua angkat dari negara-negara tersebut mungkin akan melakukan perubahan gender setelah mengadopsi anak, sehingga dikhawatirkan memengaruhi perkembangan anak di lingkungan keluarga baru mereka.
Selain pembatasan adopsi, Rusia juga mengesahkan undang-undang lain yang melarang kegiatan yang mempromosikan pilihan untuk tidak memiliki anak.
Undang-undang ini menetapkan denda berat hingga 5 juta rubel (sekitar Rp797 juta) bagi pihak-pihak yang terlibat dalam propaganda tersebut.
Para pendukung kebijakan ini menilai bahwa kampanye "anti-keluarga" semacam itu adalah bagian dari strategi negara-negara Barat untuk melemahkan Rusia melalui pengurangan populasi.
Langkah ini mendapat sorotan tajam dari komunitas internasional. Sebagian pihak memandangnya sebagai upaya Rusia untuk memperkuat narasi konservatif dalam menghadapi apa yang dianggap sebagai "pengaruh budaya Barat".
Sementara itu, para aktivis HAM mengkritik kebijakan tersebut karena dianggap menambah diskriminasi terhadap kelompok tertentu dan mempersempit peluang anak-anak Rusia yang membutuhkan keluarga angkat di luar negeri.
Kebijakan baru ini menegaskan posisi Rusia yang semakin tegas dalam mempertahankan nilai-nilai konservatif tradisional mereka di tengah perubahan sosial global.
Meski menuai kontroversi, pemerintah Rusia mengklaim langkah ini sebagai upaya melindungi masa depan generasi muda sekaligus memperkuat identitas nasional mereka.**
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Makin Tegang! Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Tinggal Ditunggu, Dokumen UTS Insearch Jadi Sorotan
- 2Viral Kapolri Suyudi Baru Dilantik, Komisi III DPR Langsung Sambangi Rumahnya: Ada Apa? Isu Pejabat Polri Arogan Jadi Sorotan
- 3BPEK DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Raih Award of Appreciation di Success Business Mastery
- 4Viral di Jakarta! Surat Asli Bupati Sigi Berisi Permohonan Bantuan Jembatan Malah Jadi Bungkus Nasi Pecel, Ini Isi Lengkapnya
- 5Pendopo Gandeng Batik Indra Loka Perluas Pasar Busana Motif Lokal Lintas Generasi
- 6Geger! Guru ICM Serpong Jadi Tersangka Kekerasan Seksual, Dugaan Child Grooming Terungkap
- 7Fantastis! Orang Superkaya Indonesia Diproyeksi Tembus 6.966 Orang, Pertumbuhannya Nomor 1 Dunia, Ini Penyebabnya
- 8Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026! Drama 120 Menit dan Adu Penalti Akhirnya Putus Kutukan 35 Tahun
- 9Sesko Cedera Lagi, Manchester United Bisa Panik! 3 Striker Ini Berpotensi Jadi Solusi Januari 2027
- 10Dari Bangku Cadangan Jadi Pahlawan! Michael Olise Ungkap Instruksi Zidane yang Bikin Belgia Hancur










