Banten

Haedar Nashir Ajak Bangsa Bersatu Hadapi Duka Bencana di Tengah Agenda Akademik Muhammadiyah

Moehamad Dheny Permana | 30 Desember 2025, 04:37 WIB
Haedar Nashir Ajak Bangsa Bersatu Hadapi Duka Bencana di Tengah Agenda Akademik Muhammadiyah

Akurat Banten - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir kembali menegaskan komitmen organisasi yang dipimpinnya untuk terus berada di garis depan dalam mendorong solidaritas nasional guna membantu masyarakat yang terdampak bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar Nashir saat meninjau perkembangan pembangunan gedung 15 lantai di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang berlokasi di Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, Haedar menyampaikan bahwa bangsa Indonesia hingga kini masih berada dalam suasana duka mendalam akibat bencana banjir yang melanda sejumlah daerah, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga wilayah lain yang turut merasakan dampaknya.

Ia menjelaskan kehadirannya di Purwokerto merupakan bagian dari agenda resmi PP Muhammadiyah untuk menghadiri peringatan Milad Ke-60 Universitas Muhammadiyah Purwokerto sekaligus melihat langsung progres pembangunan gedung utama yang ke depan akan diberi nama Presiden Tower.

“Hari ini, 29 Desember 2025 kami mewakili PP Muhammadiyah menghadiri Milad Ke-60 Universitas Muhammadiyah Purwokerto, sekaligus meninjau gedung utama yang nantinya akan diberi nama Presiden Tower,” ujar Haedar Nashir.

Baca Juga: KPK Panggil Mantan Sekdis CKTR Bekasi sebagai Saksi Dugaan Suap Ijon Proyek

Meski agenda akademik dan pengembangan infrastruktur berjalan sesuai rencana, Haedar mengingatkan agar seluruh kegiatan tersebut tidak sampai mengesampingkan keprihatinan terhadap kondisi kemanusiaan yang sedang dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Menurutnya, situasi darurat akibat bencana menuntut perhatian dan fokus bersama, sehingga penanganan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali.

“Kita masih dalam keadaan duka, dan tanpa mempersoalkan status kebencanaan yang bisa memicu perdebatan panjang, yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama menyelesaikan penanggulangan darurat bagi saudara-saudara kita,” katanya.

Haedar meyakini bahwa apabila pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, serta masyarakat luas dapat bergerak dalam satu irama, maka fase tanggap darurat dapat segera dituntaskan dan dilanjutkan ke tahap rehabilitasi serta rekonstruksi.

Ia menambahkan bahwa proses pemulihan pascabencana bukanlah pekerjaan singkat, melainkan membutuhkan waktu panjang, konsistensi kebijakan, serta energi kolektif yang kuat dari seluruh komponen bangsa.

Terkait berbagai kajian tentang penyebab bencana, Haedar menilai pembahasan mengenai ekosistem, lingkungan, dan faktor alam tetap penting, namun sebaiknya dilakukan setelah kondisi darurat terlewati melalui pendekatan ilmiah yang objektif.

“Yang diperlukan saat ini adalah semangat bersatu, semangat bersama, semangat peduli, dan berbagi dari seluruh komponen bangsa,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah sejak hari pertama terjadinya bencana telah terlibat aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan di lapangan.

Keterlibatan tersebut meliputi pengiriman relawan, distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan, hingga pendampingan psikososial bagi warga yang terdampak langsung oleh bencana.

Selain aksi langsung, Muhammadiyah juga terus melakukan penggalangan dana agar bantuan dapat diberikan secara berkelanjutan, tidak hanya saat masa tanggap darurat, tetapi juga hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

Baca Juga: Tragedi di Labuan Bajo: Pelatih Valencia B dan 3 Anaknya Hilang Saat Kapal Tenggelam di Pulau Padar, Ini Daftarnya

“Kita memiliki pengalaman panjang dalam penanganan bencana, mulai dari tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, gempa Sumatera Barat, hingga gempa Sulawesi Tengah, dan pengalaman itu menjadi modal penting untuk terus memperkuat peran kemanusiaan,” katanya.

Haedar turut menyoroti peran strategis perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dalam membangun kesadaran kebencanaan melalui riset, edukasi, dan implementasi tridarma perguruan tinggi.

Ia berharap peringatan Milad Ke-60 UMP tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum refleksi dan penguatan komitmen Muhammadiyah untuk terus mengabdi kepada bangsa, khususnya dalam menjawab tantangan kemanusiaan dan kebencanaan di masa depan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.