Banten

Gonjang-Ganjing Politik Jateng Memanas, Ketua Partai Dijatuhi Hukuman Penjara Akibat Kasus Prostitusi

Moehamad Dheny Permana | 14 November 2025, 21:20 WIB
Gonjang-Ganjing Politik Jateng Memanas, Ketua Partai Dijatuhi Hukuman Penjara Akibat Kasus Prostitusi

Akurat Banten - Pengadilan Negeri Semarang kembali menjadi sorotan publik setelah majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara kepada Ketua Partai Hanura Jawa Tengah, Bambang Raya Saputra.

Putusan itu dibacakan dalam persidangan yang digelar pada Rabu siang dan langsung menyita perhatian media serta masyarakat.

Dalam ruang sidang yang dipenuhi pengunjung, hakim ketua Sudar membacakan keputusan dengan suara tegas yang membuat suasana seketika menjadi hening.

Majelis hakim memutuskan bahwa Bambang bersalah atas keterlibatannya dalam pengelolaan praktik prostitusi berkedok tempat karaoke mewah Mansion KTV Semarang.

Vonis yang dijatuhkan adalah hukuman penjara selama delapan bulan, lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa yang sebelumnya mengusulkan satu tahun kurungan.

Selain hukuman badan, majelis hakim juga mengharuskan Bambang membayar denda sebesar Rp250 juta.

Apabila denda tersebut tidak dipenuhi, maka akan diganti dengan masa kurungan satu bulan.

Hakim Sudar menyatakan dengan jelas dalam sidang, “Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 30 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi.”

Dalam pertimbangannya, hakim menegaskan bahwa Bambang bukan sekadar mengetahui praktik ilegal itu, tetapi juga berperan aktif dalam pengelolaannya.

Hakim menyebutkan bahwa terdakwa ikut mengatur alur operasional layanan prostitusi yang melibatkan sejumlah perempuan.

Baca Juga: Bencana Longsor di Cilacap, Tim Gabungan Kebut Pencarian Puluhan Warga yang Masih Hilang

Tidak hanya itu, Bambang disebut menerima pembayaran dari layanan yang termasuk dalam kategori pornografi tersebut.

Hakim juga mengungkapkan bahwa terdakwa memiliki kewenangan penuh dalam pengambilan keputusan di tempat hiburan itu.

Dengan posisinya sebagai penanggung jawab tertinggi, ia dianggap mengetahui aliran uang serta pengelolaan bisnis di Mansion KTV.

Tempat karaoke tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi hiburan eksklusif di Semarang yang menyediakan layanan penari telanjang dan prostitusi terselubung.

Pengungkapan praktik tersebut berawal dari operasi kepolisian Polda Jawa Tengah pada Februari 2025 yang menyita banyak pihak.

Dalam penggerebekan itu, aparat menemukan bukti transaksi serta dokumentasi yang menguatkan dugaan terjadinya bisnis prostitusi terorganisir.

Kasus ini kemudian bergulir dan menyeret nama Bambang karena ia diketahui sebagai pihak yang memberi persetujuan terhadap praktik di dalam tempat karaoke tersebut.

Saat pembacaan putusan berakhir, ekspresi Bambang terlihat datar meski sorotan kamera media menempel padanya.

Usai putusan dibacakan, baik pihak jaksa maupun Bambang memilih untuk tidak langsung menyatakan banding.

“Masing-masing pihak menyatakan pikir-pikir,” ujar hakim ketua.

Langkah “pikir-pikir” ini membuat publik kembali menunggu potensi babak lanjutan dari kasus yang sudah terlanjur menjadi konsumsi nasional.

Baca Juga: Komisi Reformasi Polri Ungkap Banyaknya Masalah Internal, Soroti Intervensi Politik hingga Krisis Kepercayaan Publik

Sejumlah pengunjung sidang berkomentar bahwa kasus ini menjadi bukti bahwa praktik prostitusi terselubung masih marak di balik bisnis hiburan malam.

Sementara itu, berbagai pihak di internal partai disebut mulai mengevaluasi posisi Bambang usai putusan tersebut.

Sejumlah pengamat politik menilai bahwa kasus ini bisa berpengaruh pada citra partai di tahun politik yang semakin dekat.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Dewan Pimpinan Pusat Hanura mengenai status Bambang di partai.

Banyak pihak menilai putusan pengadilan ini akan menjadi ujian bagi transparansi dan integritas partai dalam menindak kadernya.

Publik kini menunggu langkah Bambang, apakah ia akan menerima putusan atau mengajukan banding.

Satu hal yang jelas, kasus ini menjadi alarm keras bahwa dunia hiburan malam tak jarang menjadi pintu masuk praktik ilegal yang melibatkan tokoh publik.

Kasus Bambang menunjukkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan dapat berujung pada konsekuensi hukum yang tidak bisa dihindari.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.