Mensos Ingatkan Sekolah Rakyat Jadi Ruang Aman: Anak Harus Merasa Dicintai, Bukan Ditampung

Akurat Banten - Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengingatkan seluruh pengelola Sekolah Rakyat agar memastikan lingkungan belajar benar-benar aman bagi anak-anak.
Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi praktik perundungan, kekerasan, maupun sikap intoleran.
“Pertama, tidak boleh ada perundungan dari siapapun kepada siapapun. Kedua, tidak boleh ada kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Ketiga, tidak boleh ada intoleransi. Kalau ada tanda-tanda, segera laporkan dan tindaklanjuti, jangan dianggap enteng,” kata Saifullah Yusuf.
Menurutnya, Sekolah Rakyat yang masih dalam tahap rintisan menghadapi tantangan berat, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga sumber daya manusia.
Karena itu, peran kepala sekolah, wali asrama, dan wali asuh menjadi sangat krusial.
“Saya ingin bapak ibu semua bekerja dengan hati, meningkatkan kemampuan, dan yang paling penting adalah sabar. Mari kita selesaikan masalah dengan kolaborasi, koordinasi, disiplin, dan musyawarah,” ujarnya.
Dalam sesi dialog, beberapa tenaga pendidik mengungkapkan kondisi di lapangan.
Silva, wali asuh dari SRMP 28 Pasuruan, menuturkan jumlah siswa yang mencapai 50 anak hanya didampingi tenaga terbatas.
Situasi itu membuat beban kerja wali asuh semakin besar.
Menanggapi keluhan tersebut, Saifullah Yusuf memastikan pemerintah mencatat semua kebutuhan.
Ia berjanji penambahan tenaga dan perbaikan sarana akan dilakukan secara bertahap.
“Jangan khawatir, gaji dan tunjangan pun pasti diterima sesuai ketentuan,” tegasnya.
Mensos menambahkan pemerintah sedang mengkaji pengaturan jam kerja wali asrama dan wali asuh agar lebih manusiawi.
Ia menekankan, pemenuhan hak-hak tenaga kependidikan tetap menjadi prioritas.
Dalam arahannya, ia berulang kali mengingatkan bahwa tugas wali asuh dan wali asrama tidak sebatas mengawasi.
Mereka, kata dia, harus mampu menghadirkan rasa kekeluargaan di tengah anak-anak.
“Sekolah Rakyat adalah rumah kedua bagi siswa. Jangan sampai anak-anak merasa sendiri. Mereka harus merasa dicintai dan diperhatikan, bukan sekadar ditampung,” tuturnya.
Pesan itu menjadi penegasan bahwa pendidikan tidak cukup hanya soal kurikulum dan nilai akademik.
Lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan, serta penuh kasih sayang diyakini menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter anak.
Baca Juga: Jejak Digital Bongkar Peran 6 Penghasut di Balik Ricuh Jakarta
Dengan sikap tegas tersebut, Kementerian Sosial ingin memastikan Sekolah Rakyat benar-benar menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.
Harapannya, anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tumbuh dengan kepercayaan diri, merasa dihargai, dan memiliki empati terhadap sesama.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 3Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 4Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 5Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 6Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 7Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 8Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 9Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 10Sidang Gibran di MK Bikin Terkejut, KPU Akui Tak Cek Langsung Dokumen Pendidikan









