Banten

Hilang 3 Hari di Gunung Rinjani, Pendaki Brasil Juliana Marins Ditemukan Meninggal Setelah Terperosok ke Jurang

Andi Syafrani | 25 Juni 2025, 08:53 WIB
Hilang 3 Hari di Gunung Rinjani, Pendaki Brasil Juliana Marins Ditemukan Meninggal Setelah Terperosok ke Jurang

AKURAT BANTEN - Kabar duka menyelimuti lereng Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, setelah Juliana Marins, pendaki berusia 27 tahun asal Brasil, ditemukan tak bernyawa pada Selasa, 24 Juni 2025.

Setelah tiga hari pencarian penuh ketegangan, tim SAR gabungan akhirnya menemukan jasad Juliana di dasar jurang kawasan Cemara Nunggal, dekat Danau Segara Anak. Wanita muda itu diduga terpeleset saat menapaki jalur menuju puncak, sebuah rute yang dikenal penuh tantangan dan risiko.

Baca Juga: Bau Busuk Kuota Haji, KPK Bidik Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas

Insiden bermula ketika Juliana, yang mendaki bersama rombongan kecil, kehilangan keseimbangan di jalur curam menuju puncak Rinjani. Ia terperosok ke jurang dengan kedalaman diperkirakan mencapai 150-200 meter.

Laporan kehilangannya langsung memicu operasi pencarian besar-besaran sejak Sabtu, 21 Juni 2025. Namun, medan yang terjal dan cuaca buruk menjadi penghalang besar bagi tim SAR.

Baca Juga: Satgas Gaktibmas Gerebek Praktik Prostitusi Daring, Belasan Diamankan

“Kabut tebal dan hujan deras sangat menyulitkan tim di lapangan. Jarak pandang nyaris nol, membuat kami harus ekstra hati-hati,” ungkap Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Kepala Basarnas, saat menjelaskan tantangan operasi.

Baca Juga: MENGUAK MISTERI, Dibalik Tradisi Mencuci Keris Malam 1 Suro: Ritual Sakral Sejak Jaman Majapahit, Bikin Pusaka Penuh Tuah!

Proses evakuasi baru bisa dimulai pada Rabu pagi, 25 Juni 2025, sekitar pukul 06.00 WITA, setelah cuaca sedikit membaik. Tim SAR menggunakan teknik lifting dengan tali dan peralatan khusus untuk mengangkat jenazah Juliana dari dasar jurang.

Proses ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian, mengingat medan yang licin dan curam. Setelah berhasil diangkat, jenazah ditandu melintasi jalur pendakian menuju Posko Sembalun, sebuah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam karena hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Baca Juga: Roy Suryo Ngaku Diancam Pemilik Kios Pramuka Usai Bongkar Isu Ijazah Palsu Jokowi: Pesannya Bikin Merinding!

Dari Posko Sembalun, rencananya jenazah Juliana akan diterbangkan menggunakan helikopter menuju RS Bhayangkara Polda NTB untuk proses identifikasi dan otopsi awal. Pihak Basarnas berharap semua tahap evakuasi berjalan lancar, meski tantangan logistik di medan Rinjani tetap menjadi ujian berat.

“Kami mohon doa dari masyarakat agar proses ini selesai dengan baik. Tim sudah berupaya maksimal demi membawa Juliana kembali,” ujar Syafii dengan nada penuh empati.

Baca Juga: JANGAN SAMPAI LEWAT! Kapan 1 Suro 2025? Terungkap Tanggal, Tradisi Sakral, dan Mitos-Mitos Keramat yang Wajib Kamu Tahu

Tragedi ini kembali menyoroti bahaya yang mengintai di Gunung Rinjani, destinasi pendakian yang memukau namun penuh risiko. Jalur menuju puncak, terutama di kawasan Cemara Nunggal, dikenal memiliki tanjakan curam dan bebatuan licin, terutama saat musim hujan.

Data dari Taman Nasional Gunung Rinjani menyebutkan, setidaknya tiga insiden serupa terjadi dalam lima tahun terakhir, menggarisbawahi perlunya persiapan matang dan pemandu berpengalaman bagi pendaki, baik lokal maupun mancanegara.

Baca Juga: 4 Fakta Mencengangkan Serangan Rudal Iran ke Pangkalan Militer AS di Qatar: Balas Dendam yang Bikin Trump Malah Berterima Kasih!

Pihak berwenang dan komunitas pendaki menyampaikan duka cita mendalam untuk Juliana dan keluarganya di Brasil. Konsulat Brasil di Jakarta telah diberi kabar oleh pemerintah daerah dan tengah berkoordinasi untuk proses pemulangan jenazah. 

“Kami turut berduka dan akan memastikan semua prosedur diurus dengan baik,” kata seorang perwakilan konsulat.

Baca Juga: Miris! ART Dipaksa Makan Kotoran Anjing dan Tak Digaji Setahun oleh Majikan di Batam

Kisah pilu Juliana menjadi pengingat bahwa keindahan alam Rinjani datang dengan tanggung jawab besar. Para pendaki diimbau untuk selalu memeriksa kondisi cuaca, membawa peralatan memadai, dan mendaki bersama pemandu resmi.

Sementara itu, keluarga dan teman-teman Juliana kini hanya bisa berharap agar proses evakuasi dan pemulangan jenazah berjalan lancar, sambil mengenang semangat petualangnya yang kini telah beristirahat di pelukan alam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC