2000 Tentara Israel Jadi Korban Perang, Belum Termasuk Warga Sipil Sejak 7 Oktober 2023

AKURAT BANTEN - Genderang perang Israel-Palestina telah memasuki masa dimana logika perang modern tidak lagi berlaku bagi israel karena dianggap sudah adil dengan terbunuhnya puluhan ribu jiwa yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dan perempuan.
Tewasnya masyarakat sipil dengan serangan membabibuta Zionis Israel mamancing reaksi dunia hingga PBB untuk melakukan upaya perdamaian salah satunya adalah gencatan senjata, Namun Amerika Serikan Menggunakan hak Vetonya untuk menolak keputusan tersebut.
Warga Israel terutama mereka yang bertugas menerima korban perang dirumah sakit sangat mengkhwatirkan keputusan negaranya untuk mengabaikan himbauan dunia.
Apalagi diketahui IDF tidak pernah jujur dengan jumlah korban yang bergelimpangan dari pihak Israel, hingga rumah sakit tidak lagi mampu menampungnya.
- Baca Juga: Tentara Israel Kena Penyakit Kutukan, Menyerang Saluran Pencernaan Hingga Menimbulkan Kematian
- Baca Juga: Juru Bicara Militer Israel Menyampaikan Pasukannya Terbunuh HAMAS Hingga 76 orang Saat Perang Baru di Mulai
- Baca Juga: Melawan HAMAS Amerika Menjanjikan Angaran Rp 225 Triliun Kepada Israel, Setiap Tahunnya Rp 60 Triliun Untuk Menghapus Palestina Dari Peta Dunia
Pemerintah Israel di kenal sangat irit membagikan informasi soal kerugian yang mereka derita selama perang Gaza yang dimulai 7 Oktober 2023. Agar opini dunia menganggap seperti tidak mengalami korban banyak atas perang ini.
Secara berkala, militer Israel [IDF] mengumumkan identitas tentara yang tewas pada hari sebelumnya yang jumlahnya diyakini lebih banyak dibandingkan yang disampaikan tapi tak pernah mengabarkan jumlah yang terluka.
Padahal, korban luka dari pasukan Israel sangat banyak.
“Angka yang tidak dipublikasikan setiap hari adalah jumlah korban luka atau kondisinya,” tulis media Israel, Ynet, dikutip Selasa (12/11).
Dijelaskan, setiap hari, sekitar 60 korban luka baru diterima oleh departemen rehabilitasi, yang mendampingi korban luka dari pasukan keamanan dan cadangan (wamil), tidak termasuk korban luka biasa.
"Jumlah kumulatif sejak tanggal 7 Oktober 2023 sangatlah besar: lebih dari 2.000 tentara, polisi dan anggota pasukan keamanan lainnya telah secara resmi diakui sebagai penyandang disabilitas IDF yang diterima oleh Kementerian Pertahanan," tulisnya.
“Kami belum pernah mengalami hal seperti ini,” kata Limor Luria, Kepala Departemen Rehabilitasi di Kementerian Pertahanan Israel.
“Lebih dari 58% korban luka yang kami rawat mengalami luka parah di tangan dan kaki, termasuk yang memerlukan amputasi. Sekitar 12% menderita luka dalam, limpa, ginjal, laserasi [robekan] organ dalam. Ada juga cedera kepala dan mata,” lanjut Luria.
Penderita "luka jiwa' atau sakit mental berada di angka 7 persen. Jumlah ini diyakini akan meroket karena anggapan bahwa setiap orang yang terluka di tubuhnya juga terluka di pikirannya.
"Dan juga luka mental selalu ditemukan berbulan-bulan atau lebih setelah perang,” kata Luria.
Ketua Organisasi Penyandang Disabilitas IDF, Idan Kaliman, memberikan gambaran serupa.
“Negara Israel sedang memasuki peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di tingkat dunia. Banyak sekali orang yang terluka di sini, bahkan sebelum gelombang pascatrauma yang akan melanda kita dalam waktu sekitar satu tahun,” ujarnya.
“Kami mendampingi beberapa veteran penyandang cacat yang terluka paling parah akibat Perang Yom Kippur [perang Israel dan koalisi negara Arab tahun 1973], Pedang Besi [operasi militer Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023] juga membangkitkan kembali trauma mereka dan mereka membutuhkan kita lebih dari sebelumnya,” beber Kaliman.
- Baca Juga: Amerika, Eropa, Israel: HAMAS Menjadi Musuh Bersama. Kenapa? Ini Alasannya!
- Baca Juga: Kenapa Tentara HAMAS Brigade Izzuddin Al Qassam Kuat? Ternyata Ini Persyaratannya sangat Berat!
- Baca Juga: Alasan HAMAS Gencar Lawan Israel dan suksesnya Kaderisasi Mujahidin Baru!
Akibat banyaknya korban luka yang terus masuk, akhirnya pasien lama harus diburu-buru segera dipulangkan agar rumah sakit bisa menerima korban baru.
Pihak rumah sakit berharap pemerintah menambah sumber daya di rumah sakit, yang akan membantu pasien untuk mandi ataupun bermobilitas.
"Sebagian besar korban menderita luka serius. Negara perlu memahami bahwa ada arena di sini yang memerlukan distribusi sumber daya baru,” kata Limor Luria, Kepala Departemen Rehabilitasi di Kementerian Pertahanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Makin Tegang! Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Tinggal Ditunggu, Dokumen UTS Insearch Jadi Sorotan
- 2Viral Kapolri Suyudi Baru Dilantik, Komisi III DPR Langsung Sambangi Rumahnya: Ada Apa? Isu Pejabat Polri Arogan Jadi Sorotan
- 3BPEK DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Raih Award of Appreciation di Success Business Mastery
- 4Viral di Jakarta! Surat Asli Bupati Sigi Berisi Permohonan Bantuan Jembatan Malah Jadi Bungkus Nasi Pecel, Ini Isi Lengkapnya
- 5Pendopo Gandeng Batik Indra Loka Perluas Pasar Busana Motif Lokal Lintas Generasi
- 6Geger! Guru ICM Serpong Jadi Tersangka Kekerasan Seksual, Dugaan Child Grooming Terungkap
- 7Fantastis! Orang Superkaya Indonesia Diproyeksi Tembus 6.966 Orang, Pertumbuhannya Nomor 1 Dunia, Ini Penyebabnya
- 8Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026! Drama 120 Menit dan Adu Penalti Akhirnya Putus Kutukan 35 Tahun
- 9Sesko Cedera Lagi, Manchester United Bisa Panik! 3 Striker Ini Berpotensi Jadi Solusi Januari 2027
- 10Dari Bangku Cadangan Jadi Pahlawan! Michael Olise Ungkap Instruksi Zidane yang Bikin Belgia Hancur










