Banten

Program B50 Terancam Jadi Bumerang? Petani Sawit Khawatir Harga TBS Justru Anjlok

Aullia Rachma Puteri | 26 Juni 2026, 20:28 WIB
Program B50 Terancam Jadi Bumerang? Petani Sawit Khawatir Harga TBS Justru Anjlok
penerapan B50 menuai kekhawatiran

AKURAT BANTEN – Rencana pemerintah meningkatkan mandatori biodiesel menjadi B50 kembali menjadi perhatian sejumlah kalangan.

Meski dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, kebijakan tersebut disebut berpotensi membawa dampak negatif bagi petani sawit rakyat apabila diterapkan tanpa persiapan yang matang.

Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) mengingatkan bahwa keberhasilan program biodiesel tidak hanya bergantung pada peningkatan konsumsi minyak sawit untuk energi, tetapi juga harus memperhatikan kesejahteraan petani sebagai pemasok utama bahan baku.

Menurut organisasi tersebut, salah satu kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan turunnya harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Baca Juga: Mulai Berlaku! Aturan Baru Ekspor Sawit dan Batu Bara Bikin Pengusaha Deg-degan

Kondisi itu dapat terjadi apabila kebutuhan pendanaan program B50 mendorong perubahan kebijakan pungutan ekspor atau mekanisme harga minyak sawit yang akhirnya berdampak pada harga jual hasil panen petani.

Petani menilai kebijakan energi seharusnya tidak menambah beban ekonomi di sektor perkebunan rakyat.

Apalagi saat ini biaya produksi terus mengalami peningkatan, mulai dari harga pupuk, biaya tenaga kerja, hingga kebutuhan pemeliharaan kebun yang semakin besar.

Selain dampak terhadap petani, sejumlah kajian juga menilai implementasi B50 perlu mempertimbangkan kesiapan industri secara menyeluruh.

Baca Juga: Ganoderma Mengintai Perkebunan Sawit, BRIN Siapkan Inovasi Deteksi Dini Berbasis Molekuler

Tanpa peningkatan produktivitas kebun sawit, kebutuhan bahan baku biodiesel diperkirakan akan terus meningkat sehingga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap pasokan minyak sawit nasional.

Para peneliti juga mengingatkan kemungkinan munculnya kebutuhan pembukaan lahan baru apabila produksi sawit tidak mampu memenuhi permintaan.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu persoalan lingkungan sekaligus memperbesar tantangan dalam menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia.

Karena itu, pemerintah didorong untuk lebih memprioritaskan peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat melalui program peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, hingga pendampingan teknis kepada petani.

Baca Juga: Industri Sawit Nasional Terancam Ganoderma, BRIN Andalkan Teknologi Modern dan AI

Langkah tersebut dinilai lebih efektif dibanding hanya meningkatkan target pencampuran biodiesel.

Selain itu, pemerintah juga disarankan mengevaluasi sistem penetapan harga biodiesel dan mekanisme pembentukan harga minyak sawit agar petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.

Pemanfaatan bahan baku alternatif, seperti minyak jelantah, juga dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap minyak sawit sebagai bahan baku utama biodiesel.

Sejumlah pihak berharap pemerintah tidak terburu-buru menerapkan B50 secara nasional sebelum seluruh aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dikaji secara komprehensif.

Baca Juga: Dapur MBG Duren Sawit Disetop Usai 72 Siswa Diduga Keracunan, Pemerintah Ambil Langkah Tegas

Dengan begitu, target memperkuat ketahanan energi tetap dapat tercapai tanpa mengorbankan kesejahteraan petani sawit maupun keberlanjutan industri sawit nasional.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.