Suar Matahari Terbesar 2025 Waspada Bisa Jadi Ancaman Gangguan Di Bumi, Indonesia Terdampak?

AKURAT BANTEN - Di langit besar di atas kita, sang bintang penghidup Matahari tiba-tiba menunjukkan taringnya.
Pada Senin (11/11), permukaan Matahari yang selama ini tampak stabil menimbulkan ledakan flare terbesar sepanjang tahun 2025 dari titik aktif bernama AR4274.
Ledakan tersebut tidak hanya memukau dari kejauhan, tetapi juga menciptakan efek nyata hingga ke Bumi termasuk gangguan komunikasi radio, potensi badai geomagnetik, dan bahkan peluang munculnya aurora di lintang menengah.
Cerita bermula ketika AR4274 melepaskan semburan energi raksasa dengan klasifikasi X5.1 kategori tertinggi dalam klasifikasi flare matahari.
Baca Juga: 2 Agustus Gerhana Matahari Total, Benua Asia Kena Dampaknya, Indonesia Juga?
Waktu tercatat sekitar pukul 10.00 GMT, ketika radiasi sinar-X dan ultraviolet dari ledakan mulai menembus ruang antariksa dan menuju Bumi.
Gelombang tersebut kemudian memicu kekacauan pada lapisan ionosfer kita tembok pelindung di atas atmosfer yang selama ini menjaga sinyal radio tetap lancar.
Akibatnya, wilayah Afrika dan Eropa yang menghadap langsung ke Matahari mengalami gangguan komunikasi frekuensi tinggi (HF) secara signifikan.
Tak hanya itu, ledakan tersebut juga menyertakan sebuah lontaran partikel bermuatan, dikenal sebagai Coronal Mass Ejection (CME).
Baca Juga: Catat Tanggal Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini yang Segera Datang, Tahun 2025?
Partikel‐partikel ini melesat dengan kecepatan lebih dari 7 juta km/jam menuju Bumi dan diperkirakan mencapai planet kita setelah sekitar satu hari.
Badan cuaca antariksa Amerika Serikat, NOAA, memperkirakan bahwa material ini bisa memicu badai geomagnetik intensitas G3 sampai G4 level yang cukup untuk mengganggu satelit, sistem navigasi, hingga jaringan listrik.
Bagi wilayah seperti Banten, meskipun gejala langsung mungkin berbeda dibandingkan kawasan lintang tinggi, peristiwa ini tetap relevan.
Gangguan ionosfer dan medan magnet bisa memengaruhi komunikasi radio, terutama untuk layanan penerbangan dan maritim yang beroperasi di sekitar Selat Sunda atau Laut Jawa.
Sinyal GPS yang sedikit meleset atau radar maritim yang terganggu dapat berdampak pada aktivitas pelayaran, nelayan, dan logistik laut di kawasan Banten.
Di era digital seperti sekarang, gangguan satelit dan komunikasi juga dapat memberi efek ke sistem telekomunikasi dan layanan internet yang digunakan secara luas.
Siklus aktivitas Matahari juga menunjukkan bahwa kita saat ini memasuki puncak dari Siklus Surya ke‑25, yang berarti ledakan besar dan badai geomagnetik mungkin akan menjadi lebih sering dan intens.
Ini jadi peringatan bahwa kita hutan teknologi dan infrastruktur komunikasi kita perlu antisipasi lebih baik termasuk backup sistem, proteksi satelit, dan kesiapan dalam menghadapi potensi gangguan.
Baca Juga: Heboh! Benarkah Gerhana Matahari Total 8 April 2024 Sebabkan Bumi Gelap Selama 3 Hari?
Maka dari itu, meskipun kita tinggal jauh di selatan khatulistiwa dan mungkin tidak melihat aurora spektakuler seperti di Amerika Utara atau Eropa, kita tidak berada di zona aman total.
Fenomena dari Matahari ini mengingatkan bahwa kita masih sangat bergantung pada keseimbangan luar angkasa dan perubahan di sana bisa memantul hingga ke aktivitas sehari-hari kita di Banten.
Di masa depan, diperlukan pemantauan terus-menerus dari lembaga antariksa nasional dan internasional, serta kesiapan lokal di Banten dalam menghadapi dampak sekunder mulai dari gangguan komunikasi hingga sistem kelistrikan.
Dengan pemahaman dan kesiapan yang baik, kita bukan hanya mampu menatap langit, tetapi juga memahami bahwa langit bisa menatap balik kita dengan kejutan.
Baca Juga: Ibu Hamil Tidak Boleh Lihat Gerhana Matahari 29 Maret 2025, Waspada Cacat Lahir?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








