Banten

Nostalgia Blendung: Dari Surga Senja Legendaris Pemalang, Kini Terkikis Pilu Ditelan Rob

Saeful Anwar | 15 Desember 2025, 10:47 WIB
Nostalgia Blendung: Dari Surga Senja Legendaris Pemalang, Kini Terkikis Pilu Ditelan Rob

AKURAT BANTEN– Di pesisir utara Kabupaten Pemalang, tepatnya di Kecamatan Ulujami, pernah berdiri sebuah permata wisata yang namanya melegenda: Pantai Blendung.

Jauh sebelum tahun 2020, Blendung adalah sinonim dari keindahan alam yang syahdu, menawarkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler—sebuah mahakarya alam yang terukir di ufuk barat.

Hanya berjarak 7 kilometer dari Jalur Pantura Pemalang–Pekalongan, pantai ini menjadi destinasi ideal untuk keluarga dan para pencari ketenangan.

Pengunjung betah berlama-lama, bernaung di bawah rerimbunan pohon cemara, menikmati ketenangan yang disajikan alami.

Pada era emasnya, mulai dari tahun 1990-an hingga 2000-an, Pantai Blendung tak pernah sepi.

Fasilitasnya lengkap, termasuk arena permainan anak, menjadikannya magnet bagi wisatawan lokal maupun luar kota.

Baca Juga: DARURAT SAMPAH TANGSEL! Komedian David Nurbianto 'Sentil' Pemerintah: Ironi Kota Elit, Sampah Menumpuk dari Flyover hingga UMJ

Legenda Cinta dan Harapan yang Karam

Daya tarik Pantai Blendung tak hanya terletak pada lanskapnya. Ia juga diselimuti legenda magis yang terus diwariskan turun-temurun.

Konon, air laut di Blendung memiliki khasiat istimewa: mampu mempererat ikatan cinta sepasang pengantin dan bahkan menyembuhkan berbagai penyakit.

Kisah ini menarik minat muda-mudi untuk datang, mandi, atau sekadar membasuh kaki, berharap mendapatkan keberkahan.

Sebagai penggerak ekonomi, Blendung adalah solusi wisata dan sumber kehidupan.

Muhammad Tohirin, Direktur BUMDes Mandiri Sejahtera selaku pengelola, mengenang masa-masa keemasan itu.

"Dulu, sebelum banjir rob, pengunjung pantai ini mencapai ratusan tiap akhir pekan. Itu menghidupkan roda perekonomian masyarakat," ungkapnya.

Lebih dari 40 warung UMKM mencari nafkah di sana, menyerap puluhan tenaga kerja lokal. Pantai Blendung adalah ekosistem ekonomi yang mandiri dan berdaya.

Baca Juga: Gebrakan Akhir Tahun! Bapenda Pandeglang 'Jemput Bola' dan Gandeng Kejaksaan Kejar Tunggakan Pajak, PBB Jadi Sorotan Utama

Senja yang Hilang: Blendung Ditelan Bencana Rob
Namun, kemegahan itu kini tinggal cerita pilu.

Sejak sekitar tahun 2017, Pantai Blendung mulai diserang banjir rob—kenaikan air laut pasang yang masif dan berkepanjangan.

Menurut Tohirin, rob menjadi parah sejak 2018 dan mencapai puncaknya pada 2020, bahkan sudah merangsek jauh ke pemukiman warga.

Gelombang air asin tak hanya menghantam garis pantai, tetapi juga melibas habis semua yang pernah dibangun di sana. Fasilitas wisata rusak parah.

Rerimbunan cemara dan tempat bersantai kini terendam, menyisakan puing dan kenangan.

Dampak kehancuran ini meluas hingga ke sendi-sendi perekonomian masyarakat Ulujami.

Ribuan hektare lahan produktif luluh lantak:

• 647 hektar sawah terendam.

• 745 hektar tambak hancur.

• 266 hektar perkebunan melati yang menjadi komoditas unggulan terancam punah.

Bencana ini juga merenggut ruang hidup dan spiritual. Setidaknya 2.649 rumah yang dihuni 3.697 KK, 30 sekolah, dan 37 musala/masjid di 11 desa terdampak (Pesantren, Mojo, Limbangan, Ketapang, Blendung, Kertosari, Kaliprau, Tasikrejo, Samong, Padek, Pamutih) kini berjuang di tengah genangan air asin.

Baca Juga: Geger! Kasus Pelecehan Bocah SMP di Pemalang: Damai Rp100 Juta dan Sorotan Tajam Keterlibatan Kades

Bukan Sembako, Tapi Bekal untuk Bertahan Hidup

Hingga kini, penanganan serius terhadap rob yang melanda pesisir Ulujami ini belum juga terlihat nyata dari pemerintah.

Masyarakat setempat menaruh harapan besar: Pembangunan tanggul laut raksasa di sepanjang pesisir adalah solusi permanen yang didambakan.

Namun, di tengah ketidakpastian penanganan infrastruktur, Tohirin menyuarakan kebutuhan yang lebih mendesak bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian.

"Yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya bagaimana bertahan hidup, bukan bantuan sementara seperti sembako. Kami butuh bekal atau ilmu pelatihan yang bisa menghasilkan nilai ekonomi," tegasnya.

Ia berharap pemerintah turun tangan dalam pemulihan ekonomi jangka panjang melalui pelatihan-pelatihan strategis, seperti digital marketing bagi UMKM yang tersisa, pelatihan bengkel, atau pertanian modern di lahan terbatas.

Pelatihan yang memberikan value dan kemandirian.

Blendung saat ini adalah monumen bisu dari kerusakan lingkungan dan kelambanan mitigasi bencana.

Ia menjadi cermin, bahwa seindah apa pun sebuah tempat, tanpa perlindungan serius dari alam dan pemerintah, ia hanya akan menjadi nostalgia pahit yang ditelan ombak (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman