Pengusaha Hermanto Tanoko, Crazy Rich Asal Surabaya yang Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia, Dulu Gak Mampu Beli Gundu di Masa Kecilnya

AKURAT BANTEN - Siapa yang tidak kenal produk bisnis yang diciptakan pengusaha asal Surabaya, Hermanto Tanoko? Dia adalah sosok di balik produk cat 'Avian' maupun produk minuman kemasan 'Cleo' yang ikonik di Indonesia.
Seperti diketahui, Produk Cat Avian menjadi brand bisnis cat terkenal di Indonesia. Selain itu, Cleo sebagai brand minuman air mineral kemasan yang mampu berkompetisi dengan merek-merek terkenal lainnya, seperti Aqua dan Le Minerale.
Dikutip dari Forbes, kekayaan Crazy Rich Surabaya itu mencapai 2,1 miliar dolar atau sekitar Rp33 triliun, menurut data real time per tanggal 5 November 2024.
Berkaca dari kesuksesannya, ilmu kaya dari Tanoko perlu diketahui para pengusaha Indonesia untuk mencapai kesuksesan.
Mari mengintip perjalanan bisnis Tanoko yang berliku-liku hingga kini mencapai kesuksesan. Berikut ini kisah inspiratifnya:
Menjadikan Sosok Ayah Sebagai Panutannya
Produk Cat Avian merupakan bisnis yang dijalankan Tanoko bersama ayahnya, Soetikno Tanoko.
Dalam unggahan YouTube Helmy Yahya, Crazy Rich Surabaya itu bercerita tentang sosok ayahnya yang menjadi panutannya.
Baca Juga: Soroti Netralitas di Depan Mabes Polri, HMI Tuntut Kapolda Banten Dievaluasi
"Bagi saya, Bapak (Soetikno) benar-benar seorang pemimpin yang memberi contoh, jadi kita hidup ini harus disesuaikan dengan apa yang dikerjakan," ujar Tanoko di Kanal YouTube Helmy Yahya, yang tayang pada 18 Desember 2020 lalu.
Tanoko menceritakan perjalanan bisnis yang tak mudah dilalui keluarganya dalam proses awal membangun Produk Cat Avian.
Pengusaha Indonesia itu mengaku tidak pilih-pilih dalam melakukan perjalanan bisnisnya, favoritnya adalah menaiki bus kota untuk menghemat pengeluaran.
Tanoko juga mengaku memiliki mindset atau pemikiran tentang gaya hidup hemat itu berasal dari sang ayah.
Mulai Belajar Bisnis Sejak Usia 5 Tahun
Dalam kesempatan yang sama, Helmy Yahya mengaku takjub dengan latar belakang ekonomi keluarga Tanoko yang tergolong kurang mampu.
Terlebih, keterbatasan dalam ekonominya itu tidak menyurutkan semangat Tanoko untuk belajar bisnis sedari dini.
Baca Juga: Diduga Banyak Yang Fiktif, Dana Bos SMKN 2 Rangkasbitung Disoal, Begini Penjelasan Kepsek
Pengusaha asal Surabaya itu bercerita pengalaman masa kecilnya yang tidak mampu membeli kelereng atau mainan berbentuk bulat kristal untuk bermain bersama teman-teman.
“Dulu saya hidup susah, saya bermain saja waktu main kelereng itu, gundu, saya enggak bisa beli, melihat teman-teman bawa kelereng banyak, kala itu saya mau juga. Cuman ya enggak bisa, enggak mampu,” terang Tanoko.
Kemudian, sang ibu mengajak Tanoko kecil yang kala itu berusia 5 tahun untuk membeli tepung terigu yang saat itu harganya sedang naik.
Memahami maksud sang ibunda, saat itu Tanoko kecil mengerti tentang mencari uang itu tidak mudah dan masih banyak orang yang lebih susah darinya.
“Minta beli biskuit, beli minyak goreng. Lama-lama saya mengerti kalau berbisnis itu keuntungannya bagaimana, cari uang itu enggak mudah,” ujarnya.
Berkaca dari momentum itu, Tanoko dewasa terbiasa membangun mindset seorang pengusaha yang tidak hanya mencari keuntungan, melainkan juga harus diimbangi dengan bersedekah.
Belajar Ilmu Kerja Keras dari Orang Tuanya
Tanoko menjelaskan tentang cara orang tuanya mendidiknya menjadi pribadi yang mau bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.
Momen yang masih teringat olehnya adalah ketika kedua orang tuanya masih belum memperoleh kewarganegaraan Indonesia alias masih WNA, pada tahun 1960 silam.
Pada masa itu, orang tua Tanoko berusaha keras untuk menghidupi keluarganya dengan berjualan barang-barang bekas dan mengayuh sepeda dari Singosari untuk menjual hasil bumi ke Kota Malang, Jawa Timur.
“Kala itu tidak bisa berdagang, akhirnya hidup terlunta-lunta selama beberapa tahun. Tapi ayah saya orangnya luar biasa sekali, pekerja keras,” tegas Tanoko.
Tanoko menilai kedua orang tuanya adalah pribadi pekerja keras karena tak sekalipun mengeluh meski bisnisnya terhambat karena belum ada izin sebagai warga negara Indonesia.
Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Tetapkan Lima Warisan Budaya Provinsi Banten, Berikut Daftarnya!
Dahulu, bos produk Aviant dan Cleo itu juga pernah hanya memakan ikan teri dan sego jagung dan sulit untuk makan lauk pauk mewah, seperti ayam goreng.
Mengintip Perjalanan Bisnis Tanoko
Pada tahun 1982, Tanoko diajak ayahnya untuk bergabung dengan PT Avia Avian. Tanoko ditugaskan untuk membangun citra produk Avian di kalangan masyarakat, padahal pabrik catnya kala itu masih belum ada.
Namun, sang ayah mengajarkan sikap optimis kepadanya dengan menyebut akan menjadikan Avian sebagai perusahaan cat terbesar di Indonesia.
Industri cat ini merupakan bisnis pertama yang dimiliki keluarga Tanoko, dan kini memiliki reputasi yang baik dengan para importir yang konsinyasi atau bersepakat membagi keuntungan bersama Avian.
Kemudian pada tahun 2003, Tanoko mulai merambah bisnis minuman air mineral kemasan Cleo. Meski di bidang yang berbeda dari Avian, namun fokus Tanoko bukanlah untuk mencari keuntungan semata, namun juga ingin bermanfaat untuk masyarakat.
Baca Juga: Menteri Hukum Supratman: Sampai Hari ini Jakarta masih Menjadi Ibu Kota Negara RI !
Menurutnya, mindset itu membuat bisnis Cleo bertumbuh besar karena berasal dari pikiran yang positif.
“Semua (kesuksesan) itu berasal dari pikiran yang positif, targetnya jadi orang yang bermanfaat buat orang banyak. Kalau saya memikirkan kebaikan untuk orang lain, itu hasilnya luar biasa,” tutup Tanoko.
Itulah kisah inspiratif Hermanto Tanoko, pengusaha kaya asal Surabaya yang sukses membangun bisnis produk cat Avian dan produk minuman kemasan Cleo.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 2Denny Indrayana Soroti Sikap Megawati soal Gibran, PDIP Bakal Bergerak atau Pilih Diam?
- 3Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!
- 4Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 5Ahmad Doli Tantang Hasyim Asy’ari Buka-bukaan! Polemik Pasal Gibran Merembet ke Jabatan Komisaris BUMN, 'Hadiah dari Siapa?'
- 6Terkenal Vokal, Ini Strategi Baru Abah Saiful Milah Usai Resmi Duduki Kursi Ketua DPRD Kota Tangerang
- 7Keluarga Tersangka Korupsi BOP Gugat Kejari Kabupaten Tangerang Lewat Praperadilan
- 8Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 9Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 10Michael Carrick di Ujung Tekanan Usai MU Tumbang 0-2, Legenda Inggris Ingatkan Bahaya Pecat Pelatih Lagi!




