Banten

Fenomena JOMO yang Jadi Kebalikan FOMO, Intip Cara Terbaik Nikmati Dunia Nyata Tanpa Harus Takut Ketinggalan Momen di Medsos

Syahganda Nainggolan | 24 November 2024, 08:31 WIB
Fenomena JOMO yang Jadi Kebalikan FOMO, Intip Cara Terbaik Nikmati Dunia Nyata Tanpa Harus Takut Ketinggalan Momen di Medsos

AKURAT BANTEN - Sebagian orang ingin menikmati setiap momen di dunia nyata tanpa harus memikirkan tentang media sosial.

Contoh yang nyata terjadi ketika seseorang menghadiri konser musik dari musisi idolanya yang tampil di atas panggung.

Baca Juga: 700 Tersangka Judi Online Hanya dalam 2 Minggu! Intip 4 Alasan yang Cerminkan Sikap Tegas Prabowo Berantas Judol di Indonesia

Ribuan kamera bak bintang-bintang bersinar terang dari para penonton kepada sang superstar, kemudian momen itu dibagikan di media sosial pribadi mereka.

Namun, tanpa sadar mereka menikmati momen itu dengan layar ponsel mereka. Padahal, sang idola jelas-jelas ada di hadapan mereka.

Itu adalah contoh kecil yang acapkali disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO), sebuah fenomena yang kini tengah menyelimuti para pengguna di media sosial.

Mereka seolah takut ketinggalan momen-momen yang ada di kehidupan nyata agar bisa dibagikan di dunia maya.

Berkaca dari hal itu, terdapat sebuah kebalikan dari FOMO yakni JOMO (Joy of Missing Out). JOMO juga merupakan istilah yang kerap dipakai bagi sebagai orang yang justru menikmati saat mereka ketinggalan momen seru di media sosial.

Baca Juga: Jelang Pencoblosan, Kejati Banten Ngaku Ada Temuan Baru, Panggil Suaminya Airin

Apa Itu JOMO?

Jika kembali mengambil contoh saat momen konser, maka orang itu lebih memilih menikmati momen sang idola bernyanyi ketimbang harus repot-repot mengambil kameranya.

Dikutip dari Cleveland, JOMO memungkinkan seseorang untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mendapatkan pengakuan orang lain.

Seorang Psikolog, Albers mengungkap sisi lain dari JOMO yang dianggap memberikan manfaat dari sisi psikologi.

"JOMO lebih berfokus pada kualitas ketimbang kuantitas," ujar sang psikolog.

"(Contohnya) seseorang bisa saja membuat daftar panjang untuk segala hal untuk dibagikan di media sosial, namun JOMO akan membuat seseorang lebih fokus terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitarnya," ungkapnya.

Baca Juga: Polda Banten Ungkap Tiga Kasus Tindak Pidana Penjualan Orang

Lantas, apa saja manfaat JOMO berdasarkan pengamatan dari sisi psikologi dan bagaimana cara terbaik untuk memulainya? Berikut ini ulasan selengkapnya.

Manfaat

Albers mengungkap tiga manfaat yang lahir dari kecenderungan seseorang yang 'JOMO' dalam menjalani kehidupannya:

Meningkatkan sisi produktivitas dan fokus dalam kegiatan sehari-hari

Meningkatkan keterlibatan emosional dalam menjalin hubungan sosial di lingkungan sekitar

Meningkatkan kesejahteraan emosional dan kesehatan fisik dalam menjalani aktivitas sehari-hari

Sisi Buruk

Meskipun terdapat manfaat yang baik bagi seseorang yang berperilaku JOMO, adapun sisi buruk dari JOMO.

Baca Juga: Banjir di Tangsel, Sejumlah Warga Mengungsi ke Balai Warga Hingga Musala

Menurut Albers, JOMO juga dapat membuat seseorang takut untuk keluar dari zona nyaman dan menjelajahi hal-hal baru.

"Jika ada sisi buruk dari JOMO, itu adalah tentang motivasi seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan menjelajahi hal-hal baru," tutur Albers.

Psikolog itu juga menyebut melihat apa yang dilakukan orang lain sebagaimana seseorang yang berperilaku FOMO, akan memberikan ide-ide baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

"Melihat apa yang dilakukan orang lain dapat memberikan seseorang ide baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya," tandasnya.

Berkaca dari hal itu, seseorang yang ingin membiasakan diri berprilaku JOMO juga tidak mesti 100 persen.

Albers menyarankan untuk memberikan porsi JOMO yang sesuai dengan kepribadian seseorang introvert maupun ekstrovert. Berikut ini sederet cara bagi seseorang yang ingin mengubah kebiasaan FOMO menjadi JOMO:

Baca Juga: Tampang Pelaku Penusukan Bocah 16 Tahun Hingga Tewas, saat Kampanye Akbar Cawalkot Kota Bima, NTB

Biasakan Waktu Tanpa Gadget

Albers menyebut perilaku membatasi media sosial memungkinkan seseorang untuk memberikan waktu lebih untuk diri sendiri.

"Membatasi media sosial dapat membuat seseorang bisa memilih menggunakan waktu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain," terang sang psikolog.

Selain itu, kebiasaan ini akan membuat seseorang menyadari betapa banyak perilaku FOMO yang selama ini telah dilakukan tanpa disadari.

"Saat berhenti menggunakan (media sosial), seseorang akan menyadari bahwa FOMO-nya telah berkurang dan memberi kesempatan untuk fokus melakukan aktivitas yang meningkatkan kepuasan tersendiri," tegas Albers.

Baca Juga: Pemuda di Ciledug Tangerang Ditemukan Tewas di Atas Pohon Mahoni

Berani Mengatakan Tidak

Ajakan orang lain menjadi tantangan tersendiri bagi seseorang yang sedang membiasakan diri untuk memberi batasan terhadap media sosial.

Terlebih, jika ajakan itu tentang memainkan permainan game online yang menghabiskan banyak waktu maka seseorang harus berani mengatakan tidak.

"Tidak apa-apa mengatakan tidak, dan tidak perlu memberikan penjelasan," ujar Albers.

"Rasa bersalah biasanya muncul, namun hal itu akan lebih mudah diterima orang lain apabila seseorang telah melakukannya berulang kali," pungkasnya.

 

Introspeksi Diri

Bagi sebagian orang pasti merasa sulit untuk menjauh dari media sosial.

Hal itu menjadikan mereka berulang kali 'iseng' untuk kembali berselancar di media sosial.

Baca Juga: Konflik Internal, Berujung Aksi Saling Tembak Sesama Polisi di Sumbar, Kapolda: Pelaku Menyerahkan Diri

Albers menyarankan seseorang yang mengalami kesulitan tersebut untuk introspeksi diri.

"Tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda melakukannya karena takut ketinggalan (FOMO), atau apakah itu sesuatu yang penting untuk dilakukan," terang Albers.

"Terkadang perlu evaluasi dan berhenti sejenak untuk mengetahui keputusan diri sendiri saat kembali menatap layar ponsel," tandasnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.