Banten

Tradisi Tirakatan Malam 1 Suro, Menyelami Makna Hening dan Introspeksi Diri

Moehamad Dheny Permana | 26 Juni 2025, 17:24 WIB
Tradisi Tirakatan Malam 1 Suro, Menyelami Makna Hening dan Introspeksi Diri

Akurat Banten - Setiap malam 1 Suro tiba, suasana di banyak daerah Jawa berubah menjadi lebih senyap dan khidmat.

Ini bukan kebetulan, melainkan wujud nyata dari sebuah tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun yaitu tirakatan malam 1 Suro.

Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol dari perenungan, penyucian diri, dan penyambutan tahun baru Jawa dengan hati yang lebih bersih.

Tirakatan berasal dari kata “tirakat” yang berarti menjalani laku prihatin demi tujuan spiritual.

Dalam konteks malam 1 Suro, tirakatan dilakukan dengan cara menyepi, berdoa, atau bermeditasi.

Beberapa orang bahkan melakukan puasa, tapa bisu (tidak berbicara), hingga berjaga semalam penuh sambil merenungi perjalanan hidup selama setahun ke belakang.

Makna utama dari tirakatan malam 1 Suro bukan pada aksi fisiknya, tapi pada niat dan ketulusan batin.

Ini adalah momen untuk mengevaluasi diri yaitu apakah selama ini sudah cukup baik kepada sesama, sudah jujur dalam bekerja, atau masih menyimpan dendam dalam hati?

Dalam sunyi malam, pertanyaan-pertanyaan itu bergema di dalam diri, menuntut kejujuran yang tak bisa ditutup-tutupi.

Di banyak desa, tirakatan juga dilakukan secara kolektif.

Warga berkumpul di balai desa atau rumah tokoh masyarakat, menggelar doa bersama, tumpengan, dan pembacaan doa untuk keselamatan bersama. Meski sederhana, suasana ini penuh makna dan kebersamaan.

Menariknya, generasi muda mulai tertarik kembali menjalani tirakatan, meski dengan bentuk yang lebih fleksibel.

Ada yang memilih mematikan media sosial semalam, membaca buku reflektif, atau sekadar duduk sendiri di kamar sambil menuliskan jurnal pribadi.

Semua itu adalah bentuk kontemporer dari tirakat, penyelaman batin di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Tradisi tirakatan malam 1 Suro mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan yang sibuk, kita butuh ruang untuk berhenti, merenung, dan kembali ke diri sendiri.

Dalam hening, seringkali suara hati paling jujur justru terdengar paling nyaring.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.