Banten

Hari Arak Bali, Sejarah dan Masa Depannya

Mitha Theana | 29 Januari 2024, 23:13 WIB
Hari Arak Bali, Sejarah dan Masa Depannya

AKURAT BANTEN - Arak Bali bukan sekedar minuman keras yang memabukkan. Tetapi juga akar budaya dan identitas Pulau Dewata. 

Arak Bali telah dikenal masyarakat adat Bali sejak lama. Arak Bali kerap digunakan dalam kegiatan agama dan kebudayaan. 

Bagi umat Hindu, Arak Bali merupakan pendukung ritual keagamaan, bahkan sebagai pendukung laku spiritual dari masyarakat adat. 

Baca Juga: Ini Manfaat Daun Kelor Untuk Menjaga Kesehatan Tubuh

Menurut BPOM, selain untuk kegiatan keagamaan, Arak Bali juga dapat digunakan untuk penghangat tubuh dan kesehatan.

Bagi masyarakat Bali, arak juga punya khasiat menurunkan demam, obat rematik dan diabetes, meremajakan kulit, serta bahan makanan.

Arak bali berbahan baku nira, tanaman aren yang banyak ditemukan di Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan.

Sedangkan untuk arak yang berbahan baku dari nira tanaman lontar banyak ditemukan di Desa Les dan Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula dan Desa Tukad Sumaga, Gerokgak , Kecamatan Gerokgak.

Kadar alkohol Arak Bali, sama dengan minuman keras jenis Whiskey, Rum, Gin, Vodka, dan Tequila, yang mencapai 20-50 persen. 

Baca Juga: 14 Antigen Vaksin Gratis! Lengkapi Vaksin Anak-anak Anda Sekarang  

Tingginya kandungan alkohol pada Arak Bali, memasukkan dalam Tipe C minuman alkohol yang sangat memabukkan. 

Dalam perkembangannya, Arak Bali tidak hanya menjadi minuman khas tradisional di Pulau Dewata. Tetapi menjadi daya tarik wisata yang banyak digemari wisatawan lokal maupun internasional. 

Maka itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan SK Gubernur Bali Nomor 929/03-I/HK/2022 tentang Hari Arak Bali. 

Peringatan Hari Arak Bali, setiap 29 Januari memiliki makna budaya, sekaligus pengembangan pariwisata, dan ekonomi di Bali.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.