Banten

Kekalahan dari PSG Masih Menghantui Mikel Arteta, Pelatih Arsenal: “Racun Itu Masih Mengalir”

Aullia Rachma Puteri | 8 Oktober 2026, 23:27 WIB
Kekalahan dari PSG Masih Menghantui Mikel Arteta, Pelatih Arsenal: “Racun Itu Masih Mengalir”
Mikel Arteta bersama Arsenal. - AFP

AKURAT BANTEN - Mikel Arteta memang berhasil membawa Arsenal mengakhiri penantian panjang untuk kembali menjadi juara Premier League. Namun, ada satu luka yang belum benar-benar sembuh dari musim luar biasa tersebut.

Kekalahan dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions 2025/2026 masih membekas kuat di benak Arteta. Bahkan, beberapa bulan setelah pertandingan yang berlangsung di Budapest itu, sang pelatih mengaku rasa sakit tersebut masih menjadi bagian dari dirinya.

Arsenal menghadapi PSG pada final Liga Champions di Puskas Arena, 30 Mei 2026. Pertandingan berakhir 1-1 setelah 120 menit, sebelum PSG akhirnya menang 4-3 melalui adu penalti.

Kai Havertz membawa Arsenal unggul ketika pertandingan baru berjalan enam menit. Namun, keunggulan tersebut tidak mampu dipertahankan.

Baca Juga: Liverpool Dihantam Badai Cedera Jelang Hadapi Man City, Isak dan Gakpo Terancam Absen!

Ousmane Dembele menyamakan kedudukan pada menit ke-65 dan skor 1-1 bertahan hingga babak tambahan selesai.

Drama kemudian berlanjut ke titik putih. PSG tampil lebih tenang dan memastikan kemenangan setelah Gabriel Magalhaes gagal mengeksekusi penalti Arsenal.

Hasil tersebut membuat Les Parisiens mempertahankan trofi Liga Champions, sementara Arsenal harus menerima kenyataan pahit setelah tinggal selangkah lagi meraih trofi Eropa pertama dalam sejarah klub.

Arteta ternyata belum sepenuhnya mampu melupakan malam tersebut.

Dalam wawancara dengan The Athletic yang dikutip sejumlah media, pelatih asal Spanyol itu menggambarkan kekalahan dari PSG sebagai luka yang masih terasa. Ia bahkan menggunakan istilah yang sangat kuat untuk menggambarkan dampaknya.

Baca Juga: Pep Guardiola Kembali ke Etihad di Tengah Badai 114 Dakwaan Manchester City, Ada Pesan Tersembunyi?

Arteta mengatakan dirinya masih membawa "bekas luka" dari kekalahan tersebut dan merasa seolah-olah racun masih mengalir di dalam pembuluh darahnya.

Bagi Arteta, rasa sakit itu tidak perlu dihilangkan sepenuhnya karena justru dapat menjadi bahan bakar untuk belajar dan berkembang.

Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa seriusnya ambisi Arteta untuk membawa Arsenal kembali ke panggung terbesar Eropa.

Menariknya, kekalahan tersebut datang hanya 11 hari setelah Arsenal memastikan gelar Premier League. Musim 2025/2026 sejatinya merupakan salah satu musim terbaik dalam sejarah modern Arsenal.

Baca Juga: Bukan Cuma Turun Kasta! Manchester City Bisa Kehilangan Bonus Besar, Nasib Haaland dan Para Bintang Jadi Sorotan

The Gunners mengakhiri penantian 22 tahun untuk menjadi juara Liga Inggris, tetapi gagal menutup musim dengan trofi Liga Champions.

Arteta kini memiliki kesempatan untuk menjadikan pengalaman pahit itu sebagai bahan evaluasi. Arsenal tidak sekadar ingin mempertahankan posisi sebagai kekuatan utama Inggris, tetapi juga kembali mengejar mahkota Eropa.

Komitmen tersebut mendapat dukungan penuh dari manajemen klub. Arsenal baru saja memperpanjang kontrak Arteta hingga Juni 2030.

Keputusan itu menjadi bukti bahwa klub masih mempercayai proyek jangka panjang sang pelatih setelah keberhasilannya mengubah Arsenal menjadi juara Premier League dan finalis Liga Champions.

Baca Juga: Zidane Bikin Belgia Hancur dalam 13 Menit! Timnas Prancis Comeback 4-1, Sang Pelatih Bilang Begini

CEO Arsenal Richard Garlick bahkan menegaskan klub tidak ingin berpuas diri setelah meraih kesuksesan. Arsenal membukukan pendapatan klub sebesar 822 juta euro pada 2025 dan memiliki ambisi untuk membangun era dominasi baru di sepak bola Inggris.

Arteta pun melihat perjalanan Arsenal masih jauh dari selesai. Setelah mengubah mentalitas klub dan mengantarkan trofi Premier League, target berikutnya semakin jelas. yaitu Liga Champions.

Kekalahan dari PSG memang meninggalkan luka. Tetapi bagi Arteta, luka itu justru ingin dipelihara sebagai pengingat tentang betapa tipis jarak antara kesuksesan dan kegagalan.

Musim baru telah dimulai, tetapi final di Budapest belum benar-benar berakhir di kepala Arteta. Dan jika ucapan sang pelatih benar, rasa sakit dari kekalahan tersebut kini sedang diubah menjadi bahan bakar Arsenal untuk mengejar mahkota Eropa berikutnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.