VAR Kembali Jadi Sorotan di Liga Inggris: Gol Haaland, Luis Díaz hingga Penalti Wolves yang Bikin Heboh

AKURAT BANTEN - VAR kembali menjadi pusat perhatian di Premier League. Teknologi yang sejak musim 2019/20 diperkenalkan untuk membantu wasit mengurangi kesalahan justru beberapa kali menjadi sumber perdebatan.
Kasus terbaru melibatkan gol Erling Haaland dalam Derby Manchester, tetapi bukan satu-satunya insiden yang masih membekas.
Sejumlah keputusan kontroversial bahkan telah diakui sebagai kesalahan oleh badan wasit Inggris. Dari gol Luis Díaz yang dianulir hingga penalti Wolves yang tidak diberikan, berikut beberapa momen yang menunjukkan betapa rumitnya penggunaan VAR di Premier League.
Gol Haaland yang Seharusnya Dianulir
Kasus terbaru terjadi ketika Manchester City menghadapi Manchester United pada 13 September 2026. Erling Haaland mencetak gol kemenangan setelah sebelumnya dinyatakan offside oleh hakim garis.
Baca Juga: Lamine Yamal Mengamuk: 2 Gol, 1 Assist, dan Rekor 66 Tahun Spanyol Akhirnya Pecah!
VAR kemudian menggunakan teknologi offside semiotomatis dan menemukan Haaland sebenarnya berada dalam posisi onside karena Patrick Dorgu membuatnya tetap sejajar. Masalahnya muncul karena Enzo Fernández berada dalam posisi offside dan dinilai memengaruhi jalannya serangan.
Fernández memang tidak menyentuh bola, tetapi pergerakannya ketika mencoba menyambut umpan membuat Lisandro Martínez dan kiper Manchester United, Senne Lammens, terpengaruh. Pro Ref kemudian mengakui bahwa VAR seharusnya merekomendasikan pemeriksaan langsung kepada wasit.
Howard Webb bahkan menjelaskan VAR mengalami semacam tunnel vision karena terlalu fokus memastikan posisi Haaland. Dua ofisial VAR yang bertugas dalam pertandingan tersebut kemudian tidak mendapatkan penugasan hingga setelah jeda internasional.
Luis Díaz dan Kesalahan Komunikasi
Sebelum Haaland, salah satu kesalahan VAR paling terkenal terjadi pada laga Tottenham Hotspur melawan Liverpool pada September 2023.
Luis Díaz mencetak gol ketika skor masih 0-0, tetapi hakim garis mengangkat bendera offside. VAR sebenarnya memeriksa tayangan ulang dan mengetahui Díaz berada dalam posisi onside. Namun, VAR Darren England gagal menyadari bahwa keputusan awal di lapangan adalah offside.
Alih-alih meminta wasit mengubah keputusan, England mengatakan "check complete". Pertandingan kemudian dilanjutkan dengan tendangan bebas untuk Tottenham sehingga keputusan tersebut tidak bisa diperbaiki. PGMOL setelah pertandingan mengakui telah terjadi "significant human error" dan menyatakan gol Díaz seharusnya diberikan.
Insiden tersebut kemudian menjadi contoh bagaimana kesalahan manusia tetap dapat terjadi meski teknologi sudah tersedia.
Wolves Pernah Dirugikan dalam Kasus Onana
Wolverhampton Wanderers juga pernah menjadi korban keputusan VAR yang kemudian diakui keliru.
Baca Juga: Juventus Kembali Rugi Rp1,3 Triliun, Utang Tembus Rp6,5 Triliun: Langkah Besar Disiapkan!
Dalam pertandingan melawan Manchester United pada awal musim 2023/24, kiper Andre Onana keluar untuk mengantisipasi umpan silang. Ia gagal mendapatkan bola dan justru bertabrakan dengan penyerang Wolves, Sasa Kalajdzic, di dalam kotak penalti.
Wasit Simon Hooper tidak memberikan penalti. VAR Michael Salisbury kemudian melakukan pemeriksaan tetapi tidak meminta wasit melihat monitor di pinggir lapangan.
Howard Webb setelah pertandingan mengakui keputusan tersebut salah. Menurutnya, Onana bergerak menuju Kalajdzic, sementara pemain Wolves tersebut hanya berusaha melompat untuk menyambut bola. VAR seharusnya merekomendasikan on-field review dan penalti semestinya diberikan.
VAR Masih Jadi Perdebatan
Tiga insiden tersebut menunjukkan bahwa persoalan VAR bukan semata-mata soal ada atau tidaknya teknologi. Dalam sejumlah kasus, masalah justru muncul ketika manusia menafsirkan tayangan dan menerapkan aturan.
Premier League sendiri terus melakukan evaluasi terhadap proses VAR. Musim ini, misalnya, teknologi offside semiotomatis digunakan untuk membantu menentukan posisi pemain dengan lebih cepat dan akurat.
Namun, kasus Haaland memperlihatkan bahwa teknologi tersebut tetap membutuhkan penilaian manusia untuk menentukan apakah pemain yang berada dalam posisi offside benar-benar memengaruhi permainan.
Bagi klub dan suporter, pengakuan kesalahan setelah pertandingan tentu tidak dapat mengubah skor yang sudah tercatat.
Manchester United tetap kalah dari City, Liverpool tetap kehilangan gol Díaz ketika menghadapi Tottenham, dan Wolves tetap pulang tanpa penalti.
Baca Juga: Tinggal 21 Gol Lagi! João Félix Sudah Siapkan Misi Khusus untuk Antar Cristiano Ronaldo ke 1.000 Gol
VAR memang dibuat untuk memperbaiki sepak bola. Namun, selama keputusan akhir masih berada di tangan manusia, kontroversi tampaknya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan teknologi tersebut di Premier League.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 4Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6Terungkap! Alasan Jokowi Gabung PSI Mulai Dibaca Pengamat, Ada Tujuan Besarnya Sinyal Politik untuk Kaesang dan Gibran Menuju 2029
- 7MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 8Data Desil Bermasalah, Warga Garut Meninggal di RSUD Dr. Slamet Tanpa Penanganan
- 9Baru Jadi Bos Man City, Enzo Maresca Bisa Pergi Jika The Citizens Benar-Benar Terdegradasi
- 10Badai Finansial Man City Bisa Jadi Berkah untuk MU: Donnarumma dan Anderson Dibidik?










