Banten

HIPPI-LestarX Bidik Jakarta Jadi Pusat Ekonomi Karbon Indonesia lewat Carbon Central Hub

Handrian Setiawan | 5 September 2026, 19:43 WIB
HIPPI-LestarX Bidik Jakarta Jadi Pusat Ekonomi Karbon Indonesia lewat Carbon Central Hub
HIPPI-LestarX Bidik Jakarta Jadi Pusat Ekonomi Karbon Indonesia lewat Carbon Central Hub - Istimewa

AKURAT BANTEN – Jakarta didorong menjadi pusat ekonomi karbon Indonesia melalui pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH). Inisiatif yang digagas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX ini, diarahkan untuk mempertemukan proyek karbon, investor, industri, lembaga keuangan, teknologi, hingga pasar karbon.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX untuk membangun ekosistem ekonomi karbon yang terintegrasi dan membuka peluang investasi hijau di Indonesia.

Co-Founder LestarX (Lestari Carbon X), Zulfahmy Wahab, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi karbon dunia. Namun, potensi tersebut perlu diolah menjadi ekosistem bisnis yang kredibel, terukur, terintegrasi, dan memiliki akses terhadap pembiayaan serta pasar.

Baca Juga: Viral Video Pria Bawa Celurit Mengamuk di Jalan Sudirman Jaksel: Acungkan Celurit Tantang Warga yang Lewat, Sempat Jadi Sasaran Amukan Massa

“Indonesia jangan hanya menjadi pemilik sumber daya karbon, tetapi harus menjadi salah satu pusat penciptaan nilai ekonomi karbon dunia. Jakarta harus mengambil posisi strategis sebagai hub yang menghubungkan proyek, teknologi, pembiayaan, pasar, dan investasi karbon Indonesia dengan ekosistem global,” ujar Zulfahmy dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Carbon Central Hub Tak Sekadar Pasar Karbon

Zulfahmy menegaskan, pengembangan Carbon Central Hub tidak hanya diarahkan menjadi marketplace perdagangan kredit karbon.

CCH dirancang sebagai pusat ekosistem ekonomi karbon yang menghubungkan sektor hulu dan hilir, mulai dari pengembangan proyek, teknologi, pembiayaan, hingga pasar.

Baca Juga: Bukan Cuma Cantik! Inul Daratista Bongkar Kriteria Menantu Idaman, Ada Syarat yang Bikin Netizen Heboh

Di sektor hulu, Indonesia memiliki potensi karbon dari kehutanan dan penggunaan lahan, mangrove dan blue carbon, pertanian regeneratif, pengelolaan limbah, energi terbarukan, efisiensi energi, hingga teknologi carbon removal seperti biochar.

Sementara di sektor hilir, kebutuhan dekarbonisasi datang dari korporasi, kawasan industri, lembaga keuangan, investor, hingga rantai pasok global.

CCH akan diarahkan menjadi jembatan antara kedua sisi tersebut melalui pengembangan proyek karbon, peningkatan kapasitas, teknologi Measurement, Reporting and Verification (MRV), akses pembiayaan hijau, pengembangan pasar, serta kemitraan investasi.

Baca Juga: Isak Menggila! Brace Kilat Bawa Liverpool Tekuk Ipswich, Era Iraola Akhirnya Berbuah 3 Poin

“Kita ingin membangun jembatan antara potensi karbon Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dengan capital, technology, industry dan market yang terkonsentrasi di Jakarta,” kata Zulfahmy.

Menurutnya, nilai ekonomi karbon tidak boleh berhenti pada penerbitan kredit karbon. Ekosistem tersebut harus berkembang menjadi industri baru yang mampu menciptakan investasi, lapangan kerja, teknologi, serta meningkatkan daya saing industri nasional.

HIPPI: UMKM Harus Masuk Ekonomi Hijau

Semantara itu, Ketua Umum HIPPI Jakarta Pusat, Denma Willyando, mengatakan transisi menuju ekonomi rendah karbon harus menjadi peluang bagi dunia usaha nasional, termasuk pengusaha pribumi dan UMKM.

Keterlibatan HIPPI dalam Carbon Central Hub, kata dia, menjadi bagian dari upaya membuka akses pelaku usaha terhadap peluang bisnis yang muncul dari transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: Sudah Tawar Rp1,4 Triliun, Liverpool Belum Menyerah Kejar Yankuba Minteh: 2027 Jadi Momen Balas Dendam?

“Ekonomi hijau tidak boleh menjadi ruang yang hanya dapat dimasuki perusahaan besar. Pengusaha nasional dan UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi karbon,” ungkap Denma.

Denma menilai, dunia usaha membutuhkan akses terhadap pengetahuan, teknologi, proyek, pembiayaan, dan pasar agar transformasi ekonomi hijau dapat melahirkan lebih banyak pengusaha baru di Indonesia.

“Kolaborasi HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX juga diarahkan untuk mendorong proyek karbon yang memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat dan daerah,” jelasnya.

Baca Juga: Bukan Kaleng-Kaleng! 4 Pemain Timnas Indonesia Ramaikan Bundesliga, Serie A, Ligue 1 dan LaLiga

Lima Pilar Carbon Central Hub

Pengembangan Jakarta Carbon Central Hub akan bertumpu pada lima pilar utama, yakni:

1. Carbon Project Development

2. Carbon Market & Offtake

3. Green Finance & Investment

4. Technology & MRV

5. Capacity Building & Green Entrepreneurship

Melalui lima pilar tersebut, CCH diharapkan dapat mempertemukan proyek karbon dari berbagai daerah di Indonesia dengan kebutuhan dekarbonisasi korporasi sekaligus sumber pembiayaan domestik maupun internasional.

Baca Juga: ChatGPT Meledak di Indonesia! Masuk 10 Besar Dunia, OpenAI Ungkap Potensi Besar yang Belum Digali

Jakarta dinilai memiliki modal strategis untuk menjalankan fungsi tersebut karena menjadi tempat terkonsentrasinya lembaga keuangan, korporasi nasional dan multinasional, investor, asosiasi dunia usaha, penyedia teknologi, konsultan profesional, serta berbagai institusi strategis.

Indonesia Diminta Tak Hanya Jadi Pemasok Kredit Karbon

Hal senada diungkapkan Zulfahmy. Menurutnya, momentum ekonomi karbon harus dimanfaatkan Indonesia untuk melakukan lompatan ekonomi dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Dia mengingatkan agar pengembangan ekonomi karbon tidak mengulang pola ekonomi ekstraktif, ketika Indonesia hanya menjadi pemasok sumber daya sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri.

“Kita tidak ingin mengulang sejarah ekonomi ekstraktif dalam bentuk baru. Indonesia memiliki hutan, mangrove, biomassa, lahan pertanian, sumber energi terbarukan dan potensi carbon removal yang luar biasa,” tegasnya.

Baca Juga: Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp7 Miliar, 6 Hari Lagi Ditutup tapi Dokumen Belum Muncul

Menurutnya, potensi tersebut harus dikembangkan menjadi intellectual property, teknologi, investasi, industri, lapangan kerja, dan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.

Karena itu, Carbon Central Hub akan dibuka untuk membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, BUMN, swasta, kawasan industri, lembaga keuangan, universitas, asosiasi bisnis, komunitas, pemilik proyek, serta mitra internasional.

Dorong Jakarta Jadi Carbon Capital of Indonesia

Pada tahap selanjutnya, HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX akan mendorong pembentukan forum kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun roadmap pengembangan Carbon Central Hub.

Forum tersebut juga akan mengidentifikasi proyek-proyek potensial yang dapat dikembangkan sebagai flagship projects.

Baca Juga: Sudah 24 Jam Lebih! Kebakaran Sampah di Pisangan Tangsel Tak Kunjung Padam, Bara Tersembunyi di Kedalaman 3 Meter

Sejumlah sektor yang akan dijajaki mencakup biochar dan pemanfaatan biomassa, kehutanan dan agroforestri, blue carbon, pengelolaan sampah dan circular economy, energi bersih, efisiensi industri, hingga berbagai solusi carbon removal.

Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat posisi Jakarta tidak hanya sebagai pusat bisnis dan perekonomian nasional, tetapi juga sebagai salah satu simpul utama ekonomi hijau di kawasan.

“Proyek karbon dapat berada di seluruh penjuru Nusantara, tetapi Jakarta harus menjadi tempat bertemunya capital, technology, talent dan market. Dari Jakarta, kita ingin membawa nilai ekonomi karbon Indonesia ke panggung dunia,” pungkas Zulfahmy. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.